Sihar Ramses Simatupang

Nama :
Sihar Ramses Sakti Simatupang

Lahir :
Jakarta, 1 Oktober 1974

Pendidikan :
Jurusan Sosiologi, Universitas Sam Ratulangi Manado – Sulawesi Utara
Fakultas Sastra Universitas Airlangga, Surabaya-
Jawa Timur

Profesi :
Wartawan budaya harian Sinar Harapan

Karya Tulis :
Upacara Menjadi Tanah (Antologi Puisi, Gapus, 1996), Adakah Hujan Lewat Di Situ (Antologi Puisi, Gapus, 1996),
Antologi Tak Ada Pilihan Lain (Sumbu, 1998),
Keberangkatan
(Antologi Puisi KSTD, 2002),
Antologi Puisi Digital Cyberpuitika
(Antologi Puisi, YMS, 2002),
Antologi Lampung Kenangan –
Krakatau Award (Dewan Kesenian Lampung, 2002),
Dian Sastro for President (ON/OFF Yogyakarta, 2002),
Metafora Para Pendosa (Kumpulan Puisi Tunggal, 2004),
Narasi Seorang Pembunuh (Kumpulan Cerpen, 2004),
Lorca, Memoar Penjahat Tak Dikenal (novel, 2005),
Manifesto (Kumpulan Puisi Tunggal, 2009),
Bulan Lebam di Tepian Toba (Prenada Media Group, 2009),
Misteri Lukisan Nabila
(Novel, Nuansa Cendekia, Bandung, 2013)
Semadi Akar Angin
(Buku Puisi, 2014)

Penulis
Sihar Ramses Simatupang
 
 
 
 
Bernama lengkap Sihar Ramses Sakti Simatupang. Lahir di Jakarta, 1 Oktober 1974. Menempuh pendidikan di jurusan Sosiologi pada Universitas Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara dan menamatkan studi di Fakultas Sastra Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur. Telah aktif ikut baca puisi demonstrasi sejak awal menjadi mahasiswa di Surabaya. Tulisannya berupa esai, cerpen dan puisi pernah dimuat antara lain di majalah kampus Suara Airlangga – Unair, Gatra – Fakultas. Sastra Unair, majalah Amigos dan Dedicatio.

Selain itu sejak tahun 1996, pria yang pernah bergabung dengan Komunitas Gapus dan Teater Puska di Surabaya dan merupakan co-founder dari Rumpun Jerami Community ini, rajin mengirimkan sejumlah puisi, esai dan cerpen ke berbagai media cetak. Sejumlah karyanya berhasil dimuat antara lain di dimuat di harian umum Jawa Pos, Surabaya Post, Warta Kota, Memorandum, Karya Darma, Pos Kota, dll.

Karyanya berupa kumpulan puisi tunggal yang pernah di terbitkannya, antara lain : ‘Metafora Para Pendosa’ (2004) dan ‘Manifesto’ (2009). Sedangkan karyanya dalam bentuk antologi puisinya, antara lain : ‘Upacara Menjadi Tanah’ (Gapus, 1996), ‘Adakah Hujan Lewat Di Situ’ (Gapus, 1996), ‘Keberangkatan’ (KSTD, 2002), ‘Antologi Puisi Digital Cyberpuitika’ (YMS, 2002), ‘Antologi Lampung – Kenangan Krakatau Award’ (Dewan Kesenian Lampung, 2002) dan ‘Dian Sastro for President’ (ON/OFF Yogyakarta, 2002). Selain puisi, ia juga menghasilkan kumpulan cerpen ‘Narasi Seorang Pembunuh’ (2004). Salah satu cerpennya juga ada yang dibukukan bersama penulis lain pada antologi ‘Tak Ada Pilihan Lain’ (Sumbu, 1998).

Tidak hanya itu, sejumlah puisi dan cerita pendek karyanya yang lain yang diterbitkan sebagai bagian dari antologi adalah : ‘Sastra Nusantara’ (Yogyakarta, 2012), ‘Akulah Musi’ (Dewan Kesenian Sumatera Selatan, 2011), dan ‘Empat Amanat Hujan’ (Dewan Kesenian Jakarta, 2010). ‘Malam Bulan’ adalah pilihan pembacaan puisi disiarkan oleh Radio Nederland, Suara Indonesia (Ranesi). Ia juga menerbitkan novel : ‘Lorca, Memoar Penjahat Tak Dikenal’ (2005), ‘Misteri Lukisan Nabila’ (Penerbit Nuansa Cendekia, Bandung, 2013) dan ‘Bulan Lebam di Tepian Toba’ (Penerbit Prenada Media Group, 2009), yang dinominasikan untuk Khatulistiwa Literary Award 2009.

Ia kerap berpartisipasi dalam forum diskusi Meja Budaya (Tabel Budaya) di Pusat Dokumentasi HB Jassin di Jakarta ini, pada tahun 2014 yang lalu kembali meluncurkan buku puisi ‘Semadi Akar Angin’ yang diluncurkan di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Saat ini ia bekerja sebagai wartawan budaya untuk harian Sinar Harapan

(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...