Sindhunata

Nama :
Dr. Gabriel Possenti
Sindhunata, SJ
 
Lahir :
Kampung Hendrik, Batu, Malang, Jawa Timur, 12 Mei 1952
 
Pendidikan :
Sekolah seminari di Seminarium Marianum Lawang, Malang, Jawa Tamur (lulus tahun 1971)
Studi filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta (lulus tahun 1980)
Studi teologi di Institut Filsafat Teologi Kentungan, Yogyakarta (lulus tahun 1983)
Studi doktoral filsafat di Hochschule für Philosophie, Philosophische Fakultat SJ di Munchen, Jerman (1986-1992)
 
Karier :
Wartawan majalah Teruna (1974),
Wartawan harian Kompas (1977),
Pemred majalah kebudayaan Basis (1994)
 
Penghargaan :
Penghargaan Kesetiaan Profesi sebagai Wartawan selama tiga puluh tahun masa pengabdian dari Persatuan Wartawan Indonesia(2005)
 
Karya :
Putri Cina, Penerbit Gramedia Pustaka Utama (2007),
Segelas Beras untuk Berdua, Penerbit Buku Kompas (2006),
Dari Pulau Buru ke Venesia, Penerbit Buku Kompas (2006),
Petruk Jadi Guru, Penerbit Buku Kompas (2006),
Kambing Hitam:Teori Rene Girard, Penerbit Gramedia Pustaka Utama (2006),
Bola-bola Nasib, Penerbit Buku Kompas (2004),
Air Mata Bola, Penerbit Buku Kompas
Ilmu Ngglethek Prabu Minohek(2004),
Mengasih Maria: 100 tahun Sendangsono (editor, 2004)
Air Kata-kata (2003),
Jembatan Air Mata: Tragedi Manusia Pengungsi Timor Timur (2003),
Burung-burung di Bundaran HI, Penerbit Buku Kompas (2002),
Ekonomi Kerbau Bingung, Penerbit Buku Kompas (2002),
Bola di Balik Bulan, Penerbit Buku Kompas (2002),
Long and Winding Road, East Timor (2001),
Pendidikan: Kegelisahan Sepanjang Zaman: Pilihan Artikel Basis (editor, 2001),
Membuka Masa Depan Anak-anak kita: Mencari Kurikulum Pendidikan Abad XXI (2000),
Menggagas Paradigma Baru Pendidikan: Demokratisasi, Otonomi, Civil Society, Globalisasi (editor, 2000),
Sumur Kitiran Kencana: Karumpaka ing Sekar Macapat Dening D.F. Sumantri Hadiwiyata (2000),
Sakitnya Melahirkan Demokrasi (2000),
Bisikan Daun-daun Sabda (2000),
Tak Enteni Keplokmu: Tanpa Bunga dan Telegram Duka (2000),
Bayang-bayang Ratu Adil (1999)
Menjadi Generasi Pasca-Indonesia: Kegelisahan Y.B. Mangunwijaya (editor, 1999),
Pergulatan Intelektual dalam Era Kegelisahan: Mengenang Y.B.Mangunwijaya (editor, 1999)
Cikar Bobrok (1998),
Mata Air Bulan (1998),
Sayur Lodeh Kehidupan: Teman dalam Kelemahan (editor, 1998),
Sisi Sepasang Sayap: Wajah-wajah Bruder Jesuit (1998),
Semar Mencari Raga (1996), Aburing kupu-kupu kuning (1995),
Nderek Sang Dewi ing Ereng-erenging Redi Merapi (1995),
Hoffen auf den Ratu-Adil: das eschatologische Motiv des “Gerechten Königs” im Bauernprotest auf Java während des 19. und zu Beginn des 20. Jahrhunderts (1992),
Desertasi Baba Bisa Menjadi Indonesier: Bung Hatta, Liem Koen Hian, dan Sindhunatha, Menyorot Masalah Cina di Indonesia (1988),
Anak Bajang Menggiring Angin (1983),
Bharatayudha (Cerita Wayang, 1978)


Penulis
Sindhunata
 
 
Lahir di Kampung Hendrik, Batu, Malang, Jawa Timur, 12 Mei 1952. Berlatar belakang pendidikan sekolah seminari di Seminarium Marianum Lawang, Malang pada tahun 1971. Tahun 1980, ia berhasil menyelesaikan studi filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, dan pada 1983 kembali menyelesaikan studi teologi di Institut Filsafat Teologi Kentungan, Yogyakarta. Melanjutkan studi doktoral filsafat di Hochschule für Philosophie, Philosophische Fakultat SJ di Munchen, Jerman, dari tahun 1986-1992, dan lulus dengan predikat sumacumlaude. Tesis doktoralnya membahas mengenai pemberontakan petani Jawa di zaman kolonial pada abad ke-19 sampai awal abad ke-20. Tesisnya tersebut kini telah terbit menjadi buku berjudul ‘Hoffen auf den Ratu-Adil’.
 
Sejak awal dekade 80-an ia bermukim di Yogyakarta. Awalnya aktif di bidang jurnalistik. Karir jurnalistiknya dimulai dengan bekerja sebagai wartawan Majalah Teruna terbitan P.N. Balai Pustaka Jakarta pada tahun 1974, di mana ia bertugas menulis berita tentang kegiatan di SMA di Jakarta. Tahun 1977 menjadi wartawan harian Kompas, Jakarta. Di harian ini Sindhunata menulis komentar tentang sepak bola dan berbagai masalah kebudayaan. Ia juga membuat feature-feature tentang nasib dan penderitaan orang kecil. Feature-featurenya yang dibuatnya mampu menyentuh hati pembacanya. Dengan membaca tulisannya, pembaca seolah dibawa masuk ke dalam nasib, penderitaan, dan pengalaman orang-orang kecil yang dijumpai Sindhunata dalam tugas jurnalistiknya.
 
Dalam menulis ia mempunyai prinsip yakni langsung terjun ke lapangan, Karena prinsip itu Sindhunata bahkan pernah menghabiskan beberapa hari di lokalisasi pelacuran Kramat Tunggak pada 1979. Pengalaman itu membuahkan empat feature bersambung tentang ‘dunia maksiat’ tersebut. Ia juga pernah ikut berjudi sabung ayam di Bali, agar dapat memahami bagaimana dunia perjudian itu berjalan, sebelum kemudian menulis laporan jurnalistik.
 
Tentang kedalaman tulisan-tulisannya, tak usah diragukan lagi. Sindhunata menulis dengan detail. Ia bukan tipe ‘jurnalis telepon’ yang hanya bermodal wawancara telepon, ditambah riset serba sedikit di perpustakaan atau internet, lalu menulis di belakang meja. Dengan berada di lapangan, Sindhunata bisa merengkuh detail peristiwa, dan juga rasa dari peristiwa itu.
 
Salah satu cara lain dari Sindhunata dalam mengungkap detail tampak dalam tulisannya tentang tokoh-tokoh. Memang Sindhunata telah banyak menulis feature tentang tokoh-tokoh. Baik orang kecil sampai seniman tradisional kawakan seperti dalang Ki Darman Gondo, penari topeng Losari, Ibu Dewi, pembuat wayang suket, Mbah Gepuk, pelukis rakyat Citrowaluyo, empu gending Martopangrawit, penari topeng Malangan Mbah Gimun, dan sebagainya. Dari tulisan-tulisannya tampak kepiawaian Sindhunata mengolah detail untuk membangun perspektif kemanusiaan tokoh tersebut. Ia juga mampu menggerakkan hati pembaca bahkan sampai mereka rela memberikan sumbangan yang nyata kepada orang ditulisannya dan memang membutuhkan bantuan mereka.
 
Setelah berhenti menjadi wartawan kompas, ia bekerja di majalah Kebudayaan Basis di Yogyakarta. Tahun 1994, ia di angkat menjadi pemimpin redaksi majalah Kebudayaan basis menggantikan Dick Hartoko, yang memasuki masa pensiun. Berbekal dari pengalaman malang melintang di dunia wartawan, Sindhunata membuat terobosan yang menyegarkan. Ia mengubah format dan tampilan Basis. Dalam hal ini, ia berhasil mematahkan anggapan bahwa sebuah majalah ilmiah itu harus berkesan serius dan ilmiah pula. Di bawah kepemimpinannya, ia membuat majalah ilmiah dan serius itu menjadi menarik dan enak dibaca tanpa mengurangi bobot ilmiahnya.
 
Di majalah Basis ini pun Sindhunata tetap konsisten dengan pengalamannya jurnalistiknya. Ia menggarap keilmiahan dengan citarasa jurnalistiknya yang humanis. Seperti yang tertera pada logonya, ia menyebut Basis sebagai jurnalisme seribu mata. Atas kesetiaannya menjalani garis hidupnya sebagai wartawan sampai kini, ia mendapatkan Penghargaan Kesetiaan Profesi sebagai Wartawan selama tiga puluh tahun masa pengabdian dari PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) pada tahun 2005.
 
Selain sebagai wartawan, Sindhunata yang juga seorang rohaniwan Yesuit, filsuf dan teolog ini, juga di kenal sebagai seorang novelis yang telah melahirkan banyak karya. Dalam menulis Sindhunata tidak membatasi minatnya. Ia bisa menulis tentang apa saja: agama, pelacur, tukang rambutan, burung-burung di bundaran Hotel Indonesia, beras, dan lainnya. Semuanya di buat dengan gusto, penuh cita rasa, dan opini/ide yang telah dimatangkan dan dimasak oleh benaknya.
 
Tercatat hingga kini sudah lebih dari tiga puluh judul buku lahir dari tangannya. Pantas bila ia disebut sebagai penulis yang lengkap dan serba bisa. Tercatat feature-feature jurnalistiknya telah diterbitkan pada tahun 2006 dalam pancalogi: ‘Manusia & Pengharapan’, ‘Manusia & Keadilan’, ‘Manusia & Keseharian’, ‘Manusia & Perjalanan’, dan ‘Manusia & Kebatinan’.  Selain itu ia juga menciptakan sejumlah novel antara lain  ‘Bharatayudha’ (Cerita Wayang, 1978), ‘Anak Bajang Menggiring Angin’ (Cerita Wayang, 1983), ‘Mengapa Aku Mencintaimu, Oh Maria’ (1986), dll. Ia juga menerbitkan buku kumpulan puisi berjudul ‘Air Kata-Kata’ (2003), yang berisi Puisi-puisi yang pernah ditulisnya.
 
Pendiri komunitas PANGOENTJI/ Pagoejoeban Ngoendjoek Tjioe yang concern pada bidang seni dan budaya ini juga senang menulis dalam bahasa Jawa. Menurutnya bahasa Jawa itu harus diasah, maka menulislah ia dalam bahasa Jawa di rubrik ‘Blencong’ di harian Suara Merdeka.
 
Berkat ‘kerja kaki’nya, dan dengan ramuan jurnalisme sastrawi, Sindhunata telah berhasil menyingkirkan anggapan bahwa wartawan itu hanya pandai menulis tapi tidak berbuat. Tulisan-tulisan Sindhunata jelas memperlihatkan bahwa seorang jurnalis juga bisa berbuat banyak untuk kemanusiaan dan menolong penderitaan. Maka tak salah bila ada yang mengatakan, fokus Sindhunata dengan tulisan-tulisannya adalah kemanusiaan (humanisme), sesuatu yang mahal untuk era yang kadung disuntuki ketidak pedulian
 
(Dari Berbagai Sumber)
 
 

You may also like...