Sitor Situmorang

Nama :
Sitor Situmorang
 
Lahir :
Tapanuli Utara,
Sumatra Utara,
2 Oktober 1924
 
Wafat :
Apeldoorn, Belanda,
 21 Desember 2014
 
Pendidikan :
Sinematografi dan Seni Panggung di University of Southern California,
Amerika Serikat (1956),
 Los Angeles dan di Actor’s Studio, Amerika Serikat (1956)
 
Aktifitas Lain :
Wartawan harian Suara Nasional & harian Waspada (1945-1947),
Pengajar Akademi Teater Nasional Indonesia,
Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara
 
Karya Tulis :
Surat Kertas Hijau (1953),
Dalam Sajak (1955),
Wajah Tak Bernama (1955),
Drama Jalan Mutiara (1954)  Pertempuran dan Salju di Paris (1956),
Zaman Baru (1962),
Pangeran (1963),
Novelet Rapar Anak Jalang (1963),
Binding Waktu (1976),
Peta Perjalanan (1977),
Danau Toba (1981),
Cerita Anak Gajah (1981),
Harimau dan Ikan (1981)
Angin Danau (1982),
Utusan Raja Rom (1993),
Toba Na Sae (1993),
The Rites Of the Bali Aga (2001),
Sajak Tatanan Pesan Bunda
 
Pencapaian :
Cerpen Pertempuran dan Salju di Paris memenangkan hadiah prosa terbaik BMKN (1956),
Puisi Peta Perjalanan Terpilih sebagai Puisi Terbaik Dewan Kesenian Jakarta (1976),
Francophonie Award dari masyarakat penutur bahasa Perancis Sedunia (2003),
Ahmad Bakrie Award
 (ditolak, 2010),
MasterCard-Saraswati Literary Award for Lifetime Achievement (2010),
Penghargaan Kebudayaan Kategori Pencipta, Pelopor dan Pembaharu (2015)

Seniman Sastra  
Sitor Situmorang
 
 
 
 
Puisi-puisinya oleh banyak pengamat disebut sebagai tonggak yang mewakili perkembangan baru puisi Indonesia. Dalam pemikiran seni-budaya, esai-esainya sering disebut oleh para pengamat merupakaan pandangan yang sangat maju dan mengilhami. Goenawan Mohammad mencatat, bahwa asal muasal Taman Ismail Marzuki dapat ditelusuri dari esai budayanya di tahun 1956 yang mengkritik umumnya gedung kesenian saat itu yang tak ada hubungannya dengan masyarakat apalagi seni budaya Indonesia. Ia berpendapat gedung teater Indonesia yang akan datang mengambil alih prinsip taman, seperti Taman Sriwedari di Solo.
 
Sementara dalam dunia film, pada tahun 1950, sebuah ceritannya telah menjadi ilham film Darah dan Doa (The Long March) yang dianggap sebagai tonggak utama perfilman nasional Indonesia. Saat itu dan terutama setelah kepulangannya dari Eropa di tahun 1953, ia terkenal sebagai kritikus film yang tajam dan memberikan pengajaraan kritik film pada Akademi Teater Nasional (ATNI).
 
Akademi itu didirikannya bersama beberapa tokoh seperti Usmar Ismail, D. Djajakusuma, Rosihan Anwar dll pada tahun 1957. Dari ATNI itulah lahir tokoh-tokoh utama film dan drama utama Indonesia. Seperti Teguh Karya, Wim Umboh dll. Pada tahun 1956, ia mendapat beasiswa untuk belajar sinematografi dan seni panggung di Los Angeles (University of Southern California) dan di New York (Actor’s Studio) Amerika Serikat.
 
Pada tahun  1950-an, buku-buku sajaknya yang telah terbit adalah ‘Surat Kertas Hijau’ (1953), ‘Dalam Sajak’ (1955), ‘Wajah Tak Bernama’ (1955), ‘Drama Jalan Mutiara’ (1954) dan cerpen ‘Pertempuran dan Salju di Paris’ (1956) yang memenangkan hadiah prosa terbaik BMKN (Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional) pada tahun 1956. Ia juga memasuki lapangan penerjemahan karya John Wyndham, E. Du Perron, R. S. Maenocol, M. Nijhof.
 
Pada pertengahan tahun 1950, ia mulai aktif kembali dalam badan perjuangan politik di Dewan Nasional sebagai wakil golongan seniman. Menulis risalah politik Marhaenisme dan kebudayaan Indonesia 1956. Tahun 1959 menjadi pendiri serta ketua Lembaga Kebudayaan Nasionalis Indonesia (PNI) serta menulis Sastra Revolusioner (1965). Namun dari tangannya masih juga lahir buku puisi ‘Zaman Baru’ (1962) dan cerpen ‘Pangeran’ (1963) serta novelet ‘Rapar Anak Jalang’ (1963).
 
Bersama jatuhnya Presiden Sukarno di tahun pertengahan 1960, ia dijebloskan dalam penjara pada era Presiden Suharto tanpa proses pengadilan. Setelah delapan tahun disekap, ia muncul lagi di panggung sastra dengan arus sastra baru yang mewakili perkembangan baru. Dari masa ini bukunya ‘Binding Waktu’ (1976), ‘Peta Perjalanan’ (1976), puisi yang dibuat didalam penjara, memenangkan Puisi terbaik Dewan Kesenian Jakarta, cerpen ‘Danau Toba’ (1981), ‘Angin Danau’ (1982), dan ‘Cerita Anak Gajah’, ‘Harimau dan Ikan’ (1981). Ia pun memasuki dunia sejarah dan Antropologi dengan Guru Somalaing dan Modigliani ‘Utusan Raja Rom’ (1993) dan ‘Toba Na Sae’ (1993).
 
Karyanya selain telah menjadi bahasan ahli sastra mancanegara juga telah diterjemahkan dan dibukukan dalam bebagai bahasa, misalnya bahasa Belanda Bloemop Rorts dan Oude Tijger (1990), Inggris To Love, To Wander (1996) Prancis Paris La Nuit (2001), serta Cina, Italia, Jerman, Jepang, dan Rusia. Dalam waktu dekat segera pula terbit kumpulan terjemahan sajaknya dalam bahasa Belanda, Italia, dan Jerman serta Jepang. Tetapi ada sajak yang ditulisnya bahasa Inggris dan terbit sebagai buku ‘The Rites Of the Bali Aga’ (2001).
 
Pada 20 Maret 2003, saat perayaan hari masyarakat penutur Bahasa Prancis sedunia, ia dianugerahi hadiah Francophonie karena dianggap sebagai penyair terkemuka Indonesia telah memberikan kontribusi penting dalam mengembangkan bahasa Prancis di Indonesia dan prinsip-prinsip Francophonie yaitu penghormatan serta pengembangan keanekaragaman budaya, perdamaian, demokrasi dan hak asasi.
 
Wakil hidup dari angkatan ’45, dan mungkin diantara teman-teman segenerasinya dia satu-satunya yang masih terus sampai sekarang menulis sajak. Tetapi, didalam puisi-puisinya masih saja bisa ditemui kesegaran dirinya sebagai pencerita yang ulung dengan kemampuan puitik yang memuaskan dari segi penikmatan bahasa, juga kekayaan batin dari pemikiran-pemikiran.
 
Mantan wartawan harian Suara Nasional, harian Waspada, pengajar Akademi Teater Nasional Indonesia dan anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara dari kalangan seniman ini, bersama dengan Daoed Joeseof, pada 29 Juli 2010, ia menolak pemberian penghargaan Ahmad Bakrie, karena menurutnya, nama Bakrie masih tersangkut dengan Lumpur Lapindo.
 
Sastrawan yang pernah dipenjara sebagai tahanan politik oleh Rezim Orde Baru (1957-1974) ini, wafat di Apeldoorn, Belanda, pada hari Minggu, 21 Desember 2014, karena usia lanjut, dalam sajak ‘Tatanan Pesan Bunda’, ia ingin dimakamkan disamping makam ibunya, di Danau Toba, Sumatera Utara.   
                                              
 (Dari Berbagai Sumber) 

You may also like...