Slamet Gundono


Aktor Teater
Slamet Gundono
 
 
 
Harus diakui ia adalah dalang muda yang kreatif. Sebagai pengagum Ki Nartosabdho (alm), ia ingin menjadi dalang wayang kulit yang bergaya klasik. Kemampuan dan karakter vokalnya cukup bagus, bahkan bisa disebut reinkarnasinya Ki Nartosabdho. Soal olah gerak wayang alias sabetan juga standar.  Hanya, ia kalah dalam persaingan antar-dalang. Lobi dan jaringan dengan konsumen dan broker sudah dikuasai dalang-dalang mainstream, yaitu Ki Manteb Sudharsono dan Ki Anom Suroto untuk gaya Surakarta dan Ki Hadi Sugito untuk gaya Yogyakarta. Karena itulah, ia mengembangkan gaya pertunjukan sendiri, seperti wayang suket yang wayangnya terbuat dari rumput atau wayang gremeng yang dimainkan tanpa wayang kulit. Nyatanya, ia sukses dengan hasil eksplorasi kreatifnya. Baik ditilik secara eksistensialis maupun dari sudut pandang ekonomis.
 
Ia sering sering disebut- dalang mbeling. Ia adalah dalang yang cerdas, yang tidak tunduk pada aturan baku, juga tidak mendek karena keterbatasan peralatan dan persyaratan dalam mendalang. Lakon dan jalan cerita yang dimainkan, pada pertunjukan merupakan gubahan dari fiksi yang dipadukan dengan fakta, sehingga dalam lakon terdapat pembaruan. Cerita tidak mengalami stagnasi.

Wayang kulit, di tangannya bisa diubah dengan apa saja. Pertunjukan wayang seperti itu, tentu saja sudah sangat menjauh dari pakem pertunjukan wayang kulit konvensional. Pertunjukan wayangnya harus diberi istilah pertunjukan teater wayang. Dikatakan teater, karena pertunjukan ini juga melibatkan aktor-aktor lain yang bermain di panggung, dan dalam beberapa adegan para aktor itu berinteraksi dengan wayang yang dimainkannya.


Garibaba’s Strange World (2009)

 
Pertunjukan gado-gado seperti itu sudah merebak di Tanah Air. Banyak yang melakukannya. Namun, ada satu kekuatan yang dimilikinya beserta kawan-kawan sehingga pertunjukannya tetap memikat dan enak ditonton. Setidaknya ada empat unsur yang menjadi kekuatan dalam pertunjukannya. Pertama, ia selalu memasukan unsur humor namun tidak dengan maksud melawak.  Kedua, sebagaimana layaknya dalang konvensional yang pandai menembang, Ia yang setiap kali pentas selalu ditemani ukulele, pandai menembang dengan suara yang merdu. Kepandaiannya ini membuat narasi yang disampaikan, jadi lebih memikat, dengan tingkat penghayatan yang tepat. Ketiga, sekalipun lakon yang dibawakan bernuansa surealis, namun alur cerita yang dibangun masih ada benang merahnya, sehingga penonton dapat mengikuti jalan cerita yang dibentangkan. Keempat, ia selalu mengusahakan pertunjukannya berlangsung secara komunikatif. Ada interaksi antara pemain dengan penonton seperti yang terdapat dalam pertunjukkan teater tradisional, misalnya Lenong, Longser, Ludruk, Ketoprak, Makyong.
 
Dalang bertubuh tambun ini, menghembuskan nafas terakhirnya di ruang ICU Rumah Sakit Islam Yarsis Solo pada hari Minggu, 5 Januari 2014 pukul 08.30 wib dalam usia 48 tahun akibat komplikasi penyakit diabetes, gangguan fungsi jantung, liver, paru-paru dan ginjal setelah dua hari koma. Sebelumnya, dalang kontemporer ini masuk Rumah sakit Islam Yarsis Solo pada 31 Desember 2013 malam dalam kondisi lemah. Meninggalkan seorang istri, Yuning Rejeki dan dua anak Nandung Albert Slamet Putra dan bening Putriaji yang tinggal dikediamannya di Mojosongo, Solo.
 
Rencananya, jenazah akan dimakamkan di tanah kelahirannya di Slawi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Senin (6/1). Sebelum di bawa ke Slawi, terlebih dahulu disemayamkan di Pendapa Taman budaya Jawa Tengah di Kentingan Solo untuk diberikan penghormatan terakhir oleh para seniman dan budayawan Solo dan Yogyakarta.  
 (Dari Berbagai Sumber)
 
 

Nama :
Slamet Gundono
 
Lahir :
Slawi, Tegal, Jawa Tengah
 19 Juni 1966
 
Wafat :
Solo, Jawa Tengah,
 5 Januari 2014
 
Pendidikan :
Madrasah Aliyah Pondok Slawi, Tegal,
 (1987 -1989),
 IKJ Jurusan Teater
STSI Surakarta Jurusan Pedalangan
 
Profesi :
Dalang Teater Wayang
 
Pencapaian :
Penghargaan I atas Pentas Eksperimen Wayang 45 Menit dalam Acara Festival Senimania Republika yang diselenggarakan oleh Harian Republika di Taman Ismail Marzuki –Jakarta
 
Karya Tulis :
Presiden Buruh Rakyat (2009)
 

You may also like...