Slamet Sukirnanto

Nama :
Slamet Sukirnanto
 
Lahir :
Solo, Jawa Tengah
3 Maret 1941
 
Wafat :
23 Agustus 2014
 
Pendidikan :
SD Muhamadiyah I
 (Solo, Jawa Tengah),
SMP Negeri III
(Solo, Jawa Tengah),
SMA Negeri II
 (Solo, Jawa Tengah),
Fakultas Sastra
Universitas Indonesia
 
Aktifitas lain :
Pendiri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (1964),
Anggota DPRGR dan MPRS sebagai wakil mahasiswa (1967-1971),
Pendiri KNPI dan Pengurus DPP KNPI (1978 -1982),
Ketua Majelis Kebudayaan pada Pimpinan Pusat Muhammadiyah ((1990),
Ketua Bidang Pengembangan Kebudayaan pada ICMI DPP Jakarta (1991),
Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (1993-1996)
 
Karya Tulis :
Jaket Kuning (1967),
Kidung putih (1967),
Gema Otak Terbanting (1974),
Bunga Batu (1979),
Catatan Suasana (1982),
Luka Bunga (1991) 

Sastrawan
 Slamet Sukirnanto
 
 
 
Salah satu sastrawan besar yang dimiliki Indonesia. Ia telah banyak menerbitkan baik karya-karya sastra, tulisan tentang seni rupa maupun teater. Slamet Sukirnanto atau yang selalu ditulis dengan Slamet Kirnanto. Selama menjadi mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia selalu aktif dalam aksi demonstrasi-demonstrasi menumbangkan Orde Lama di tahun 1966. Dalam suasana demonstrasi seperti itu terbit kumpulan sajaknya dalam bentuk stensilan ‘Jaket Kuning’ (1967). Untuk beberapa tahun dia menjadi anggota DPRGR dan MPRS sebagai wakil mahasiswa (1967-1971).
 
Tahun 1974, ia dikenal sebagai Jaksa Penuntut Umum pada Pengadilan Puisi di Bandung. Kumpulan Sajaknya adalah ‘Kidung Putih’ (1967), ‘Gema Otak Terbanting’ (1974), ‘Bunga Batu Penerbit Puisi Indonesia’ (1979). ‘Bunga Batu Penerbit Puisi Indonesia’ memuat sajak-sajaknya hasil rekaman situasi dan peristiwa kemanusiaan ketika dia melawat ke Banjarmasin (Kalimantan Selatan), Asahan, Parapat (Sumatera Utara), Dili (Timor Leste), Kupang (Nusa Tenggara Timur), Denpasar (Bali) dan lain-lain daerah tanah air.
 
Pada awalnya ia akrab dengan seni lukis. Tetapi ketika saya SMA ia kemudian tertarik pada drama. “Ini karena Mas Willy (WS Rendra) waktu itu di Solo sedang giat-giatnya berteater. Di SMA tahun 1962, bersama Salim Said, saya mendirikan grup Teater Margoyudan. Saya juga bergaul dengan Mansyur Samin Cs yang tergabung dalam HPSS (Himpunan Peminat Sastra Surakarta). Pergaulan dengan para penyair itu kemudian membangkitkan saya untu menulis. Saya masih ingat, waktu bulan puasa, saya naik sepeda keliling kota untuk menunggu waktu buka”, kenangnya.
 
“Di dekat Balai Kota Surakarta, saya melihat kere mati yang hanya ditutupi sesobek kertas dan daun sejak itu saya sadar secara spiritual mengenai eksistensi manusia. Kere mati itu betul-betul mengguncangkan bathin saya. Atas fakta itu saya menulis puisi berjudul ‘Kere Mati. Puisi ini ia publikasikan di majalah sekolah. Sejak saat itu ia mulai menulis puisi, mencari jawaban terhadap hidup. “Kemudian saya belajar banyak tentang puisi dan kehidupan. Apa sih hidup ini? Terlebih lagi kehidupan saya begitu dekat dengan penderitaan”. katanya.
 
Ayah angkatnya adalah seorang tukang batu dan ibunya adalah tukang buruh cuci. “Tetapi orang tua angkat saya yang bersahaja itu belum pernah bilang kowe dadio wong sugih (jadilah kamu orang kaya) tetapi, kowe dadio priyayi (jadilah kamu priyayi). Priyayi bukan dalam arti punya banyak harta, tetapi berpendidikan atau kira-kira intelek. Mereka sangat memperhatikan kebutuhan rohani saya, jadi meski hidup kami penuh penderitaan, buku saya dua lemari. Secara spiritual sangat bahagia. Menurut saya proses kreatif adalah bagaimana seorang seniman mampu membaca dan menghayati kehidupan. Kemudian bisa menguasai teknik penyampaian secara baik sesuai media yang kita kuasai. Sebagai penyair, media saya puisi”, kenangnya.
 
Ia banyak belajar dari membaca karya Chairil Anwar, Amir Hamzah, dan kemudian Sanusi Pane. Tetapi belajar teknik yang mendetail dari almarhum Hartoyo Andangjaya. Menurutnya, puisi adalah bingkai dan penyair harus mengisi bingkai itu secara penuh. “Saya sangat senang dengan alam dan selalu bergetar untuk menuliskannya. Maka, semua puisi yang pernah saya tulis dekat dengan alam. Karena kadang-kadang saya kehilangan kepercayaan pada manusia. Kalau saya menulis puisi mengenai alam, bukan berarti saya memotret alam, tetapi berdialog dengan alam. Alam disini menyangkut alam fisik maupun alam spiritual. Jadi, puisi perjalanan saya sebenarnya adalah puisi perjalanan spiritual. Sekarang ini banyak buku sastra terbit atau acara pembacaan puisi, tetapi tidak ada yang memperhatikan. Orang sudah mulai tidak peduli. Bahkan ada kecenderungan usaha mematikan. Unsur senang dan tidak senang pada pengarang sudah menggejala. Sekarang sudah tidak ada orang bijak seperti HB Jassin”, celotehnya.
 
 (Dari Berbagai Sumber)
 

You may also like...