Sobron Aidit

Nama :
Sobron Aidit
 
Lahir :
Tanjung Pandan, Belitung,
2 Juni 1934
 
Wafat :
Paris, Perancis,
10 Februari 2007
 
Pendidikan :
HIS (Belitung),
Universitas Indonesia
 
Karier :
Wartawan Harian Rakjat
(awal 1950-an),
Guru SMA Utama Salemba & dan SMA Tiong Hoa Hwee Khoan (1954-1963),
Pengurus Lembaga Persahabatan Indonesia-Tiongkok (1955-1958),
Wartawan harian Bintang Timur (awal 1960-an),
Pengurus Lembaga Pengurus BAPERKI  (1960-1961),
Persahabatan Indonesia-Vietnam (1960-1962),
Pendiri & Dosen Akademi Sastra Multatuli (1960-1963),
Guru Besar Sastra dan Bahas Indonesia di Institut Bahasa Asing Beijing, RRC (1964),
Wartawan Peking Review, RRC (1964),
Penyiar dan Redaktur Radio Peking (1979),
Pemilik Restoran Indonesia di Rue de Vaugirard, Paris, Perancis (1981 s/d 2007)
 
Penghargaan :
Cerpen Buaja dan Dukunja mendapat penghargaan dari majalah Kisah/Sastra
(1955-1956),
Cerpen Basimah mendapat penghargaan Harian Rakyat Kebudayaan (1961)
 
Karya Tulis :
Kedaung (1948),
Ketemu di Djalan : Tiga Kumpulan Sadjak (bersama Ajip Rosidi dan SM Ardan, 1956),
Pulang Bertempur (1959),
Derap Revolusi : Kumpulan Novelette dan Tjerpen (1962),
Razia Agustus : Kumpulan Cerpen (1992),
Mencari Langit : Sebuah Kumpulan Sajak (1999),
Cerita dari Tanah Pengasingan (1999),
Kisah Intel dan Sebuah Warung (2000),
Gajah di Pelupuk Mata : Memoar Sobron Aidit (2002),
Surat Kepada Tuhan (2003)


Penulis
Sobron Aidit
 
 
 
Penulis dan penyair yang besar di zaman Orde Lama ini lahir di Tanjung Pandan, Belitung, 2 Juni 1934. Namanya berkaitan erat dengan tokoh politisi PKI D.N Aidit yang merupakan kakak dari Sobron Aidit. Mulai menulis saat berusia 13 tahun. Cerita pendeknya Kedaung adalah karya pertamanya yang dimuat di majalah Waktu, Medan tahun 1948. Setelah tinggal di Jakarta ia tinggal bersama Chairil Anwar dan memperoleh bimbingan terhadap kesusastraan.
 
Sejak saat itu, sajak-sajak dan cerpen-cerpennya banyak dimuat dimajalah antara lain Mimbar Indonesia, Zenit, Kisah Sastra. Selain itu karyanya dimuat pula diharian Republik, Bintang Timur, Harian Rakyat, Zaman Baru, Kencana, Siasat, Mutiara. Dalam menghasilkan karya sastra, Sobron lebih banyak menulis cerita pendek dibandingkan sajak, sehingga ia dikenal sebagai prosais.
Ketika peristiwa G30/S meletus, penulis yang mendirikan kelompok Seniman Senen bersama SM Ardan dan Wim Umboh ini selamat dari pembantaian yang dituduh atau dicurigai sebagai komunis. Sobron dan keluarganya bermukim di Beijing sebagai pengajar di Institut Bahasa Asing. Sejak itu, ia tak bisa pulang ke Indonesia. Karena, bila ia kembali, keselamatannya tidak terjamin.
Pada 1981, ia memutuskan ke Paris, Perancis, meskipun sama sekali tidak paham tentang negara itu dan tidak mengenal bahasanya karena khawatir akan diekstradisi ke Indonesia. Bersama temannya, Umar Said, ia mendirikan restoran “Indonesia” di Rue de Vaugirard, Luxembourgh, kawasan kota Paris, Perancis. Bahkan Presiden Perancis Francois Mitterand pernah beberapa kali singgah dan makan direstorannya.
Selama Orde Baru, karya-karya Sobron dilarang beredar. Meskipun demikian, tulisan-tulisannya tetap muncul di berbagai media di Indonesia, semuanya dengan nama samaran. Sobron menjadi salah seorang pendukung dan penulis yang aktif bagi usaha terbitan pers alternatif, terutama sekali bagi majalah sastra dan seni Kreasi, majalah Mimbar, dan majalah opini dan budaya pluralis Arena.
Sejumlah karya Sobron telah diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia, Mandarin, Inggris, Bulgaria, Belanda, Jerman, dan Prancis. Penulis yang mengaku punya 25 nama samaran ini terkena serangan jantung dua hari sebelum ia meninggal di rumah sakit di Paris, Perancis pada tanggal 10 Februari 2007.
(Dari Berbagai Sumber)
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
   
 
 

You may also like...