Soekarno M. Noor


 
Soekarno M. Noor
 
 
Ketua Umum Parfi periode 1978-1980 ini adalah orang yang hidup dari akting. Soekarno M Noor sejak 1953 lebih banyak mencari makan dibidang teater dan film.
 
Sejak tahun 1964 ia juga bermain dalam sandiwara-sandiwara TVRI. Naik pentas pertama kali pada 1953 dalam lakon Runtuhan. Pada tahun itu juga ia main pertama kali dalam film Meratjut Sukma sebagai figuran. Kedudukan figuran ini tetap dipegangnya sampai pertengahan 1955 dalam berbagai film kemudian. Peran utama mulai diperolehnya dengan film berjudul Gambang Semarang tahun 1955. Sejak saat itu ia bolak-balik antara dunia film dan panggung sandiwara.
 
Dari tahun 1953 sampai tahun 1977 Soekarno telah main dalam 20 cerita sandiwara, diantaranya yang menonjol adalah : Perantaian 13 tahun 1954 dan Monstserrat tahun 1955 yang kemudian diulang pada tahun 1977, Mutiara Dari Nusa Laut tahun 1957, Pintu Tertutup tahun 1958.
 
Pada bulan April 1970, ia mencoba menjadi produser, mendirikan perusahaan film P.T. Kartika  Binaprama, yang telah menghasilkan satu film saja, Honey Money and Djakarta Fair. Ia tergolong seniman senen, pernah menjadi Ketua I Parfi untuk periode  1972-1974, dan anggota Dewan Kesenian Jakarta periode 1977-1979.
 
Dia berhasil merebut gelar aktor utama terbaik dalam Anakku Sayang yang diproduksi tahun 1957 pada FFI 1960 dan pada Pekan Apresiasi Film Indonesia tahun 1967 berkat permainannya dalam film-film Di Balik Cahaya Gemerlap tahun 1966 dan Menyusuri Jejak Berdarah tahun 1967.
 
Di samping itu dua tahun berturut-turut terpilihnya sebagai Aktor Terbaik dalam pemilihan Aktor/Aktris Terbaik PWI Jaya, masing-masing dalam Jembatan Merah tahun 1973 dan Raja Jin Penjaga Pintu Kereta tahun 1974. Ia Pernah mendapat Hadiah Seni dari Pemerintahan untuk pengabdiannya di bidang teater.
 
(Apa & Siapa Orang Film Indonesia 1926)
 

Nama :
Soekarno M. Noor
 
Lahir :
Jakarta, 13 September 1931
 
Wafat :
26 Juli 1986
 
Pendidikan :
SLA,
ATNI
 
Filmografi :
Meratjun Sukma (1953),
Gambang Semarang (1955),
Tjorak Dunia (1955),
Daerah Hilang (1956),
Sri Kustinah (1957),
Air Mata Ibu (1957),
Anakku Sajang (1957),
Tjambuk Api(1958),
Sesudah Subuh (1958),
Bertamasja (1959),
Korban Fitnah (1959),
Istana yang Hilang (1960),
Pagar Kawat Berduri
(1961),
Ekspedisi Terachir (1964),
Anak –anak Revolusi
(1964),
Sahabat-Sahabat Dalam Gelap (1965),
Liburan Seniman (1965),
Dibalik Tjahaja Gemerlapan (1966),
Menjusuri Djeddjak Berdarah (1967),
Djampang Mentjari Naga Hitam (1969),
Honey Money and Djakarta Fair (1970),
Si Gondrong (1970),
Lewat Tengah Malam (1971), Mama (1972),
Si Bongkok (1972),
Pemberang (1972),
Si Doel Anak Betawi (1973),
Jembatan Merah (1973), 
Lingkaran Setan (1973),
Romi dan Juli (1974),
Senyum Dipagi Bulan Desember (1974),
Raja Jin Penjaga Pintu Kereta (1974),
Balas Dendam (1975),
Kemelut Hidup (1977),
Binalnya Anak Muda (1978)
Tengkorak Hitam (1978),
Puspa Indah Taman Hati (1979),
Oma Irama Santai (1979),
Selamat Tinggal Masa Remaja (1980),
Selamat Tinggal Duka (1980),
Yang Kembali Bersemi (1980),
Lima Sahabat (1981),
Titian serambut Dibelah Tujuh (1982),
Opera Jakarta (1985)
 
 
Prestasi :
Aktor Terbaik dalam FFI 1960 dalam film Anakku Sayang,
Aktor Terbaik Pekan Apresiasi Film Indonesia 1967 dalam filmDi Balik Cahaya Gemerlap dan Menyusuri Jejak Berdarah, Aktor Terbaik PWI Jaya 1973 dalam film Jembatan Merah,
Aktor Terbaik PWI Jaya 1974  dalam film Raja Jin Penjaga Pintu Kereta,
Hadiah Seni dari Pemerintahan untuk pengabdiannya di bidang teater.
Hadiah Surjosoemanto dari PB2N tahun 1985

You may also like...

Leave a Reply