Soni Farid Maulana

Nama :
Soni Farid Maulana
 
Lahir :
Tasikmalaya, Jawa Barat,
19 Februari 1962
 
Pendidikan :
SMA,
Akademi Seni Tari (ASTI) Bandung jurusan teater
 
Profesi :
Wartawan
 
Penghargaan :
Anugerah Jurnalistik Zulharmans PWI Pusat (1999/2000)
 
Karya :
Bunga Kecubung (1984),
Krematorium Matahari (1985),
Para Peziarah (1987),
Matahari Berkabut (1989),
Kalakay Mega
(Daun Mega Kering, 1992),
Impian Depan Cermin (1993),
Guguran Debu (1994)
Panorama Kegelapan (1996),
Sehabis Hujan: Sehimpun Puisi 1980-1993 (1996),
Orang Malam (1998),
Kita Lahir Sebagai Dongengan (2000)


Penulis
Soni Farid Maulana
 
 
Penyair dalam bahasa sunda dan Indonesia ini lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, 19 Februari 1962. Setamat SMA, melanjutkan pendidikannya ke Akademi Seni Tari (ASTI) Bandung jurusan teater. Sajak-sajaknya dimuat dalam majalah-majalah Mangle, Galura, Horison, Ulumul Quran dll. Karya sajaknya, Tusuk Gigi (1987) oleh musikus Harry Roesli (alm) direpresentasikan ke dalam pertunjukan Opera Tusuk Gigi (1996) di Bandung.
 
Beberapa sajaknya diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh Prof. Dr. A. Teeuw dan Linda Voute. Selain itu, sajaknya diterjemahkan pula ke dalam bahasa Jerman oleh Dr. Berthold Damshauser. Kumpulan sajaknya yang berbahasa Indonesia yang telah diterbitkan antara lain: Bunga Kecubung (1984), Krematorium Matahari (1985), Para Peziarah (1987), Matahari Berkabut (1989), Impian Depan Cermin (1993), Guguran Debu (1994), Panorama Kegelapan (1996), Sehabis Hujan: Sehimpun Puisi 1980-1993 (1996), Orang Malam (1998) dan Kita Lahir Sebagai Dongengan (2000). Selain itu ada juga kumpulan sajaknya yang berbahasa Sunda yang telah diterbitkan yaitu berjudul Kalakay Mega (Daun Mega Kering, 1992).
 
Penyair yang sehariharinya bekerja sebagai wartawan surat kabar Pikiran Rakyat ini sering diundang membacakan sajaknya dalam berbagai kesempatan antara lain, dalam Forum Temu Budaya 1986 di TIM Jakarta. Mengikuti East Asian Writers Conference IV di Queezon City, Filipina (1990), dan di tahun 1999, diundang untuk membacakan sajak pada Festival de Winternachten, di Den Hag, Belanda.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 

You may also like...