Sudjiwo Tedjo

Nama :
Agus Hadi Sudjiwo
 
Lahir :
Jember, Jawa Timur,
31 Agustus 1962
 
Pendidikan :
Jurusan Matematika ITB
(1980-1985),
Jurusan Teknik Sipil ITB
 (1981-1988)
 
Pencapaian :
Video klip ‘Pada Suatu Ketika’ meraih penghargaan video klip terbaik pada Grand Final Video Musik Indonesia 1999,
Juara II dalam Festival Lagu Rakyat se-Karesidenan Besuki di Jember (1978),
 Juara I dalam Festival Lagu Rakyat se Karesidenan Besuki di Bondowoso (1979)
 
 Teater :
Belok Kiri Jalan Terus di Gedung Kesenuan Rumentang Siang Bandung (1989)
Laki-Laki di Gedung Kesenian Jakarta (1999),
Sutradara dalam pentas kolosal Pangeran Katak di JHCC (2005),
Sutradara dalam Pentas Kolosal Pangeran Pollux 
 di JHCC (2006),
Sutradara dalam pementasan drama musikal Battle of Love, di Gedung Kesenian Jakarta (2006),
Sutradara dalam pementasan teater Freaking Crazy You Gedung Kesenian Jakarta (2006)
Lakon Wayang Kulit Semar Mesem, Gedung Kesenian Jakarta (2007),
Sutradara pementasan Pengakuan Rahwana  Gedung Kesenian Jakarta (2008),
Sutradara Dongeng Cinta Kontemporer I Sastrajendra Hayuningrat Panguwating Diyu, Gedung Kesenian Jakarta (2009),
Sutradara Pagelaran Loedroek tamatan ITB  ‘MARCAPRES’  Gedung Kesenian Jakarta (2009),
Sutradara Dongeng Cinta Kontemporer II  Kasmaran Tak Bertanda Gedung Kesenian Jakarta (2009)
 
Filmografi :
Telegram (1996),
Kafir (2001),
Sumanto (2003),
Kafir-Tidak Diterima di Bumi (FTV, 2004)
Janji Joni (2005),
100 Persen Sari (2005),
Film Dokumenter Mangarai (sutradara, 2005),
Kala (2006),
Malam Jumat Kliwon (2006),
Film Dokumenter
 Kisah dari Apank Sering Lupa
 (sutradara, 2006)
Film Dokumenter
 Empu Keris di Jalan Padang (sutradara, 2007)
Aborsi (2008),
Kawin Laris (2008),
Capres (2009),
Tendangan Dari Langit (2011),
Semesta Mendukung (2011),
Sampai Di Ujung Dunia (2012),
Soekarno (2013),
Guru Bangsa Tjokroaminoto (2015)
 
Karya Musik :
Pada Suatu Ketika (1998)
Pada Sebuah Ranjang (1999), Syair Dunia Maya (2005),
 Presiden Yaiyo (2007)
 
Buku dan Tulisan:
Kelakar Madura buat Gus Dur (Lotus, Yogyakarta, Indonesia, 2001),
Dalang Edan (Aksara Karunia, Jakasampurna, Bekasi, Indonesia, 2002),
The Sax (Eksotika Karmawibhangga Indonesia, Jakarta, 2003),
Ngawur Karena Benar (Imania, 2012)

Seniman Teater
Sudjiwo Tedjo
 
 
 
Bernama lahir Agus Hadi Sudjiwo. lahir di Jember, Jawa Timur, 31 Agustus 1962. Aktif di teater sejak masih kuliah di Jurusan Matematika (1980-1985) dan Jurusan Teknik Sipil ITB (1981-1988), diantaranya dengan mendirikan Ludruk ITB bersama Nirwan Dewanto dan turut menata musik untuk berbagai pementasan teater di Bandung, seperti untuk Studi Teater Mahasiswa ITB dan Gelanggang Seni Sastra Teater dan Film Universitas Padjadjaran (1983). Pernah menjabat Kepala Bidang Pedalangan di Persatuan Seni Tari dan Karawitan Jawa di ITB (1981-1983), membuat hymne jurusan Teknik Sipil ITB pada Orientasi Studi tahun 1983 dan menjadi penyiar radio kampus.
 
Setamat kuliah, karir berkeseniannya semakin berkembang, di kenal sebagai seniman serba bisa. Di teater, pernah terlibat dalam pementasan teater berjudul ‘Belok Kiri Jalan Terus’, di Gedung Kesenian Rumentang Siang Bandung (1989). Bermain dalam pementasan teater berjudul ‘Laki-laki’ di Gedung Kesenian Jakarta dan Teater Utan Kayu (1999), kolaborasi dengan koreografer Rusdy Rukmarata; Menjadi Sutradara dalam Pentas Kolosal Pangeran Katak, di JHCC (2005). Menjadi sutradara dalam Pentas Kolosal Pangeran Pollux  (Sutradara), di JHCC (2006).  Menjadi sutradara dalam pementasan drama musikal berjudul Battle of Love, di Gedung Kesenian Jakarta (2005). Menjadi Sutradara dalam pementasan teater Freaking Crazy You Gedung Kesenian Jakarta (2006), terakhir bermain dalam drama musikal Kisah Cinta Anak Koruptor dan Pacarnya di TIM pada Februari 2011. Pergumulannya dengan komunitas Eksotika Karmawibhangga Indonesia (EKI), juga memberinya peluang untuk mengembangkan dirinya secara total di bidang kesenian, khususnya teater. Selain mengajar teater di EKI sejak 1997, Sujiwo Tejo juga memberikan workshop teater di berbagai daerah di Indonesia sejak 1998.
Di dunia pewayangan namanya sudah tak disangsikan lagi, ia sudah mendalang wayang kulit sejak masih anak-anak. Tahun 1994 mulai mencipta sendiri lakon-lakon wayang kulit sebagai awal profesinya di dunia wayang, diawali dengan lakon berjudul Semar Mesem. Menyelesaikan 13 episode wayang kulit Ramayana di Televisi Pendidikan Indonesia (MNC TV) pada tahun 1996. Disusul wayang acappella berjudul Shinta Obong dan lakon Bisma Gugur. Turut memprakarsai berdirinya Jaringan Dalang di tahun 1999. Tahun 2004, ia mendalang keliling Yunani. Dalam aksinya sebagai dalang, ia suka melanggar berbagai pakem seperti Rahwana yang dibuatnya jadi baik, bahkan Pandawa dibuatnya tidak selalu benar. Seringkali menghindari pola hitam putih dalam pagelarannya.

 
Tahun 1998, mulai dikenal masyarakat sebagai penyanyi berkat lagu-lagunya dalam album Pada Suatu Ketika, bahkan video klipnya  meraih penghargaan video klip terbaik pada Grand Final Video Musik Indonesia 1999, sedangkan video klip lainnya menjadi nominator video klip terbaik untuk Grand Final Video Musik Indonesia tahun 2000. album berikutnya Pada Sebuah Ranjang (1999), Syair Dunia Maya (2005), dan Yaiyo (2007). Nominator Most Wanted Male yang digelar MTV Asia pada tahun 1999 ini juga tercatat pernah meraih penghargaan sebagai Juara II dalam Festival Lagu Rakyat se-Karesidenan Besuki di Jember, Jawa Timur (1978) dan Juara I dalam Festival Lagu Rakyat se Karesidenan Besuki di Bondowoso, Jawa Timur (1979).

Konser Republik #Jancukers Maha Cinta rahwana (2013)

 
Tercatat aktif di dunia film, baik sebagai aktor maupun sutradara. Sebagi aktor, ia memulai debutnya dengan bermain dalam Telegram (1996) arahan Slamet Rahardjo. Dilanjutkan Kafir (2001), Sumanto (2003), Janji Joni (2005), 100 Persen Sari (2005), Kala (2006), Malam Jumat Kliwon (2006), Aborsi (2008), Kawin Laris (2008), dan Capres (2009). Sebagai sutradara ia pernah membuat film Dokumenter Kisah dari Mangarai (2005), film Dokumenter Apank Sering Lupa (2006), dan film Dokumenter Empu Keris di Jalan Padang (2007). Di sinetron ia membintangi Gala Misteri SCTV, Kafir-Tidak Diterima di Bumi (2004).
 
Mantan wartawan di harian Kompas ini juga sudah tak asing dalam dunia menulis, hal tersebut di mulainya sejak tahun 1980 ketika saat itu ia kerap menulis puisi dan cerita pendek untuk berbagai majalah hiburan, seperti Gadis and Anita. Tahun 1985, mulai menulis laporan-laporan pertunjukan musik, teater, tari dan pameran seni rupa, artikel-artikel di koran. Tahun 2001, menulis sebuah buku berjudul Kelakar Madura buat Gus Dur (Lotus, Yogyakarta, Indonesia). Tahun 2002, menerbitkan Dalang Edan (Aksara Karunia, Jakasampurna, Bekasi, Indonesia). Tahun 2003, The Sax (Eksotika Karmawibhangga Indonesia, Jakarta). Sejak tahun 2009 ia menjadi Kontributor tetap Kolom Mingguan, Wayang Durangpo, Jawa Pos.
 
Di bidang seni rupa, Sujiwo Tejo juga di kenal sebagai pelukis yang beberapa kali mengadakan pameran tunggal maupun bersama di dalam negeri seperti antara lain Pameran Tunggal bulanan di Viky Sianipar Music Center, Jakarta (2007),  Pameran Tunggal Hitam Putih Semar Mesem, Balai Kartini, Jakarta (2007), Pameran Tunggal Semar Nggambar Semar, Jogja Gallery, Yogyakarta (2008), Pameran Tunggal Super Semar Mesem, Galeri Surabaya (2008), Pameran Bersama di Galeri Rumah Jawa, Jakarta (2008), dan Pameran Bersama di Café De La Rose, Jakarta (2008).
 
Karya dan pentasnya mengajak kita untuk mengenang masa depan karena masa depan kita ada di belakang, ada pada akar budaya Indonesia yang dibanggakannya. Keinginannya mengangkat akar budaya Indonesia menghasilkan kepeduliannya yang tinggi agar kesenian Indonesia merujuk pada akar budaya tapi diolah dengan metabolisme kreatif sehingga tidak menjadi kuno. Dalam metabolism itu tetap dicerna seluruh hal yang datang dari luar. Dengan pendekatan ini, menurutnya, Indonesia akan dikenali juga sebagai negara yang memiliki seni dan budaya yang modern.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 
 
 

You may also like...