Suka Hardjana

Nama :
Suka Hardjana
 
Lahir :
Wonosari, Yogyakarta,
17 Agustus 1940
 
Pendidikan :
SD Keputran, Yogyakarta (1953);
 SMP II, Yogyakarta (1957), SMA Teladan, Yogyakarta (1960),
Sekolah Musik Indonesia Yogyakarta (1962),
 Akademi Musik Detmold, Jerman Barat (1969),
Bowling Green State University, USA (1980),
 Art Management di FEDAPT USA (1983)
 
Karier :
Kepala Seksi Musik Urusan Kesenian Jawatan Kebudayaan PPK (1962-1964),
 Solo Klarinetis Orkes Symphony, Bremen
(1969-1971),
Dosen Konservatorium Musik, Bremen (1969-1971),
 Pembantu Rektor II IKJ
(1980-1984),
Sekretaris II Dewan Kesenian Jakarta (1982-1985),
 Dirigen Ensemble Jakarta (1972)
 
Penghargaan :
Nugraha Bhakti Musik Indonesia (2004)


  Suka Hardjana
 
 
 
Peturasan, alias WC, di rumah orang ia manfaatkan untuk latihan meniup Klarinet. Itu terjadi di Jerman, 1968 sampai 1970, ketika Suka (baca: Suko) bersekolah di Akademi Musik Detmold, dan belum memiliki tempat latihan sendiri.
 
Usaha kerasnya tidak sia-sia. Saat di rantau itu pula ia, 1969-1971, menjadi dosen pada Konservatorium der Freien Hansestadt, Bremen. “Terus terang, saya merasa bangga. Orang Jawa kok mengajar musik orang Jerman, di Jerman pula”,katanya. Pengalaman tersebut dicatatnya sebagai satu dari beberapa peristiwa penting dalam perjalanan hidupnya.
 
Hal lain yang diakuinya bisa membuat dirinya bangga adalah ketika, pada tahun 1958, ia menjadi Ketua Panitia Simposium Sastra di Yogyakarta. Beberapa peserta simposium tersebut kelak menjadi tokoh penting dalam kesusastraan Indonesia. Misalnya Rendra, Subagio Sastrowardoyo, Budi Darma, Kirdjomuljo, dan Toto Sudarto Bachtiar.
 
Selain dianggap sebagai siswa yang menonjol di sekolah Musik Indonesia, di Yogya, Suka juga tangkas berorganisasi. Pada tahun 1962 ia, bersama kawan-kawannya, mendirikan grup musik Klasik Seruling. Sampai 1985 grup ini masih ada. Lelaki bertubuh gemuk bertinggi 160 cm, berat 66 kg ini juga pernah menjadi  pengasuh rubrik Remaja Nasional pada harian Nasional yang belakangan berganti nama menjadi  Berita Nasional Yogya.
 
Suka Hardjana lima dari tujuh saudara kandung. Ayahnya, H. S. Muntjar, almarhum, terakhir bekerja sebagai Komisaris Polisi. Ketika ia kelas III SD, ibunya, Marchamah, wafat. Ayahnya menyusul pada saat Suka berusia 17 tahun. Karena menjadi yatim piatu itu, Suka, seperti katanya sendiri, ”Selalu mempunyai hubungan vertikal ke atas. Dan modal untuk mencapai sukses adalah percaya kepada tuhan.“ Ia memang tidak menjelaskan caranya berkomunikasi dengan Yang Mahakuasa. Lebih disebut sebagai seoarng Pancasilais, meskipun dalam KTP nya disebutkan beragama Islam. Ia menikah dengan M. A.  Mugiyarsi, digereja Katolik, dan sudah menghasilkan seorang anak lelaki.
 
Suatu hari, sambil menyedot rokok kreteknya, penggemar jogging ini menjelaskan resep jitu”berlatih klarinet, yang ia lakukan tiap hari, yaitu, menjaga stamina fisik, dan sebaiknya jangan merokok.
 (Dari Berbagai Sumber)

You may also like...

Leave a Reply