Sumartono

Nama :
Sumartono
 
Lahir :
Madiun, Jawa Timur
10 Desember 1937
 
Wafat :
Jakarta, 5 April 1991
 
Karier :
Opas Balai Budaya,
Pelukis
 
 
 
 
 


Pelukis
 
Sumartono
 
Sumartono termasuk salah satu pelukis Indonesia yang mulai memegang kuas pada usia 37 tahun. Sebelumnya, ia hanyalah “opas”di Balai Budaya, yang sempat nyambi membuat poster-poster dan spanduk. Namun di sela-sela kerja sambilannya itulah hasrat melukisnya mendesak keluar. Keterampilannya membuat poster dan spanduk, yang membawa dia mengerti benar soal komposisi.
 
Paduan warna dan harmonisasi bentuk dan rupa, membuatnya tak mengalami kesukaran ketika harus berhadapan dengan kanvas. Agaknya, hal inilah yang mengidentifikasi dirinya mirip dengan langkah Toulouse Lautrec, seorang senirupawan Prancis yang amat populer akhir abad 19 yang juga bermula dari pekerjaan membuat poster-poster untuk berbagai opera dan kabaret di Paris.
 
Sumartono di kenal sebagai pelukis yang sangat ulet. Ketika ia sehat, ia melukis dengan tangan kanannya. Dan ketika ia menderita stroke dan lumpuh bagian kanan tubuhnya, Sumartono berjuang melukis dengan tangan kirinya. Ketika ia masih sehat ia melukis on the spot. Jalan-jalan di sekujur kampung Jakarta ditelusuri. Pantai-pantai yang marak dengan kehidupan orisinal ia rambah. Bukit dan gunung ia daki dan kemudian direkam dalam bidang-bidang seni lukisnya. Namun ketika ia harus mendekam dalam rumah karena sakit, obyek-obyek yang paling dekat ia kenali. Subyek-subyek lukisannya nampak tak perlu jauh-jauh ia buru. Meja, kursi, kaktus, atau kucing yang mengeong, menjadi bagian dari kanvas-kanvasnya, yang dihayati dengan rasa haru.
 


Jakarta Lama II, 140 x 80 cm, cat minyak diatas kanvas, (1980)

Sumartono agaknya jenis manusia yang tak ingin dijamah oleh derita. Kelumpuhan yang bertandang ke tubuhnya, dianggapnya bukan tragedi. Ia berkata, bahwa selama ia dapat merasakan sesuatu dengan hatinya, hidupnya adalah masih lengkap. Dan ketika ia merasa masih dapat melukiskan getar hati dan pikirannya lewat tangan kirinya, ia merasa dirinya masih utuh.
 

 
Jagad kesenilukisan Sumartono nampak jelas ketika menginjak tahun 1980. Setahun setelah ia menekuni dunia itu. Pada kurun ini kanvas-kanvasnya nampak dibawa mengembara ke seluruh pelosok, desa maupun metropolitan. Disini ia lantas melukiskan aneka realitas, dengan sikapnya yang biasa memandang segalanya lewat fokus kehidupan manusianya.
 
Warna-warna tajam, protes-protes halus, sindiran-sindiran sepintas lalu, dengan serta merta melenyap di kanvas-kanvasnya ketika menginjak tahun 1986. Pada tahun 1985 Sumartono ia dilanda stroke darah tinggi. Tangan kanannya total non aktif. Semangat hidup yang terus bergejolak di dalam, menyuruh tangan kirinya bekerja. Sumartono pun berlatih melukis dengan tangan kirinya. Disini perbedaan tema segera terjadi. Fisik Sumartono yang tak lagi menjanjikan kemungkinan bepergian menyebabkan ia meninggalkan obyek-obyek lingkungan alam, perkotaan. Namun Sumartono tidaklah kehilangan harkat. Dengan tangan kirinya, dengan kondisi fisiknya yang hanya mampu menyimak liku-liku dalam rumah, ia hasilkan karya-karya yang lebih akrab dengan semua orang. Dari sini lantas lahir karya-karyanya yang sarat perasaan, seperti lukisan-lukisannya tentang kucing, atau juga ayam dan anak-anaknya.
 
Segenggam kearifan nampak dalam karya-karya tangan kirinya. Warnanya yang cenderung putih, kuning dan kelabu, seperti mengisyaratkan kebesaran hatinya bahwa ia kembali dengan dunia kesenilukisannya. Tak ada lagi kontras warna di dalamnya. Yang muncul ialah kelembutan, kehalusan tutur kesenilukisan. Dan segumpal kepolosan. Tahun 1991, tanggal 5 April hari Jum’at pukul 10.15, pelukis gigih ini mendadak meninggal dunia. Limapuluhan karya ia tinggalkan. Selebihnya ialah gaung ketabahan dan kemauan keras seorang manusia, yang selalu ingin mengisi hidupnya dengan karya-karya. Ini adalah warisan yang sungguh tiada duanya.
 
 
 
(Pameran Lukisan Karya Sumartono 1991)

You may also like...

Leave a Reply