Sunaryo

Nama :
Sunaryo Sutono
 
Lahir :
Banyumas, Jawa Tengah,
15 Mei 1943
 
Pendidikan :
Fakultas Seni Rupa, Institut Teknologi Bandung (1969),
Studi Patung Marmer di Marble Technology, Carrara, Italia
(1974-1975)
 
Karier :
Pengajar Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (1970-2008),
Pengajar Menggambar Model Institut Kesenian Jakarta (1970-1971),
Kepala Studio Patung Institut Teknologi Bandung
(1976-1980),
Pengajar  Jurusan Arsitektur Universitas Parahyangan Bandung (1980-1982),
Ketua Jurusan Seni Murni Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (1999-2006),
Pendiri Selasar Sunaryo Art Space (1998 s/d sekarang)
 
Pencapaian :
Pemenang kedua Graphic Competition di Paris, Perancis (1978),
Pemenang Pertama Sayembara Monumen di Gedung STOVIA Jakarta (1979),
Lima karya grafisnya terangkum dalam buku Contemporary Prints of the World (1989),
Pemenang Sayembara Lukis The Philip Morris Group Art Award (1994),
Honourable Mention pada sayembara lukis  The Philip Morris Group of Companies ASEAN Art Awards (1995),
Anugerah Kebudayaan Kategori Anugerah Seni dari Kementerian Kebudayan dan Pariwisata (2014)

Seniman Senirupa
Sunaryo
 
 
 
Perupa kelahiran Banyumas, Jawa Tengah 15 Mei 1943 ini, akif berpameran sejak tahun 1970 sampai sekarang baik di luar maupun didalam negeri. Berlatar belakang pendidikan Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (1962-1969) dan Studi Patung Marmer di Marble Technology, Carrara, Italia. Banyak menerima berbagai penghargaan seni dan karya-karyanya tersebar di berbagai kota di Indonesia. Ikut serta dalam merencanakan estetik elemen untuk paviliun Indonesia dalam Expo’85 di Tsakuba, Jepang (1985). Menjadi koordinator estetik elemen untuk paviliun Indonesia dalam Expo’86 di Vancouver, Kanada (1986).
 
Selalu ingin menghadirkan sesuatu yang baru didalam dirinya, dan sesuatu yang baru itu bisa dikondisikan lewat situs dimana ia berada. Mempunyai museum seni merupakan cita-citanya ketika masuk di jurusan seni rupa ITB tahun 1962. Ia memimpikan adanya tempat umum di mana terjadi interaksi antar seniman dan khalayak. Tahun 1989, ia membeli sebidang lahan dikawasan perbukitan Bukit Pakar. Tahun 1993, lahan itu mulai dibangun. Tahun 1995, cita-citanya terwujud, ia membuka museum yang ia namakan Selasar Sunaryo Art Space. “Saya membuka museum, tapi dengan semangat anti museum”, ujar mantan pengajar FSRD ITB ini.
 


Thawaf, Serbuk Marmer & Akrilik  diatas kanvas (2000)

Baginya seni memiliki tanggung jawab sosial karena ia lahir melalui proses sosial pula. Oleh sebab itu ia membangun Selasar Sunaryo Art Space. Ia ingin berkomunitas, bergaul, mempresentasikan karya dan pikiran-pikiran serta renungan-renungan tentang segala hal yang ada disekitar kita. Maka itu, Selasar Sunaryo Art Space itu merupakan wadah untuk menampung gelegak kreatifitas kesenian terutama kesenian kontemporer. Sesuai namanya, Selasar Sunaryo Art Space adalah ruang publik untuk berbagai ekspresi kesenian. Ia mengistilahkan selasar itu sebagai base camp seni rupa, yang juga untuk ajang pementasan seni pertunjukan, tari, teater, konser musik, pemutaran film, fotografi, arsitektur dan pembacaan puisi. Selasar juga mengelar diskusi seni, seminar, serta dilengkapi pula dengan perpustakaan.

 
Ia adalah satu dari sedikit seniman Indonesia yang yang memiliki banyak keahlian. Selain patung dan seni grafis, ia menekuni ilmu keramik dan seni tekstil. Belakangan ia juga dikenal seniman dengan karya-karya instalasi yang memukau. Sikapnya yang rendah hati membuatnya gampang diterima dikalangan seniman dan dunia industri. Lima buah karya grafisnya terangkum dalam buku Contemporary Prints of the World yang terbit tahun 1989, berdampingan dengan nama-nama seniman besar dunia, seperti Joan Miro, Paul Klee, dan George Braque. Namanya menjadi satu-satunya seniman Indonesia yang terangkum dalam buku itu.  
 
Menikah dengan Heti Komalasari, dan dikaruniai 3 orang anak, Hardianto, Arin Dwihartanto dan Harmita. Dalam pemahaman peraih Honourable Mention pada sayembara lukis The Philip Morris Group of Companies ASEAN Art Awards tahun 1995 ini, seni itu dinamis dan akan selalu berubah seiring detak jantung dan detak zaman.
 
 (Dari Berbagai Sumber)

You may also like...