Suryandoro

 Nama :
Suryandoro
 
Lahir :
Surakarta, Jawa Tengah,
17 Juni 1966
 
Pendidikan :
SD Kasatriyan Surakarta
(Jawa Tengah),
Jurusan Tari SMKI Surakarta (Jawa Tengah),
Program Studi Komposisi Tari Institut Seni Indonesia/ISI Yogyakarta
  
Aktifitas Lain :
Penanggung Jawab Drama Wayang Orang Swargaloka,
Manajer Informasi Taman Mini Indonesia Indah
 
Pencapaian :
Wayang orang karyanya berjudul Memolo Cupu Manik Astagina, meraih penghargaan pada Festival Wayang Orang Tingkat Nasional (WOPA) yang pertama di Surakarta

Seniman Tari
Suryandoro
 
 
 
 
Lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 17 Juni 1966. Sejak kecil ia sudah belajar menari dan menabuh gamelan. Sejak berusia tujuh tahun, ia sudah terlibat dalam pementasan di panggung terbuka Ramayana di candi Prambanan, Jawa Tengah. Saat bersekolah di Jurusan Tari SMKI Surakarta, ia mulai berani tampil pada pergelaran wayang orang. Ia juga belajar menulis naskah, merancang kemasan, dan memproduksi wayang orang yang berjudul ‘Memolo Cupu Manik Astagina’. Karyanya itu meraih penghargaan pada Festival Wayang Orang Tingkat Nasional (WOPA) pertama di Surakarta.
 
Pada 17 Juni 1993, lulusan Program Studi Komposisi Tari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, yang pernah tampil di depan raja Thailand ini, mendirikan Swargaloka di Yogyakarta, dengan tujuan untuk mewadahi aktifitas para seniman alumni perguruan tinggi seni. Pada tahun 1997, bersama istrinya, Dewi Sulastri, yang juga Lulusan Program Studi Komposisi Tari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, membawa Swargaloka hijrah ke Jakarta dan mendirikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Swargaloka yang juga anggota Himpunan Seni Budaya Bangsa Indonesia (HISBI) ini, pada tahun 2009 mendirikan sebuah yayasan, yang kemudian, pada tahun 2012, melahirkan sebuah lembaga kursus seni yang terdaftar di Sudin Pendidikan Jakarta Timur.
 
Tahun 1997, Swargaloka menggelar pementasan perdana di Jakarta dengan judul, Api Dendam Aswatama. Dalam pentasnya tersebut, konsep pemanggungan wayang orang dibuat olehnya sendiri, sedangkan istrinya menjadi pemeran utama. Konsep pagelaran wayang orang yang ia bawakan berbeda dengan pagelaran wayang orang yang sebelumnya telah ada, dimana ‘ujaran’ atau ‘suluk’ yang biasa dibawakan dalam bahasa Jawa itu dialihkan dalam bahasa Indonesia dengan tetap mempertahankan nilai sastranya. Tak sekadar mengalihbahasakan dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia, drama wayang orang ini juga mereka beri sentuhan garapan musik modern, yang sesekali diselipi irama rap hingga blues. Selain itu Pertunjukan wayang orang yang biasanya berdurasi sekitar empat jam diringkas hingga menjadi 90 menit.
 
Wayang orang garapannya bersama istri ini rupanya mendapat tanggapan dari penonton di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) sejak tahun 1997. Di sinilah Swargaloka selanjutnya berpentas secara rutin. Tiap kali pertunjukan digelar, melibatkan 60-75 pemain yang mayoritas kaum muda dari Yogyakarta dan Surakarta. Pada setiap pertunjukannya tersebut, lebih dari 50 persen kursi penonton terisi. Hal itu menjadi bukti bahwa dengan berbahasa Indonesia, wayang orang bisa dinikmati dan di gemari semua warga Indonesia. Lakon yang diperankan dalam wayang orang Swargaloka umumnya disesuaikan dengan kondisi bangsa. Seusai peristiwa kerusuhan Mei 1998, misalnya, Swargaloka menampilkan karya dari naskah Sutasoma yang berkisah tentang pentingnya kerukunan.
 
Berbagai kegiatan berskala nasional maupun internasional telah diikuti oleh Swargaloka, diantaranya, tampil pada Pergelaran Seni Budaya Nusantara dalam rangka peringatan Hari Pendidikan Nasional di plaza Departemen Pendidikan Nasional Senayan. Tampil pada pergelaran seni dalam rangka Peringatan HUT RI ke-54 di Rusia dan tampil pada pergelaran sendratari Ramayana di India. Tahun 2008, Swargaloka bersama SENAWANGI, PEPADI dan Pengelola Gedung Wayang Kautaman merintis program teater wayang Indonesia. Secara terprogram, Swargaloka mementaskan The Indonesian Opera Drama Wayang Swargaloka dan telah berhasil mementaskan 27 lakon. Pada pertengahan 2010, yayasan Swargaloka juga telah bekerjasama dengan Compagnia Artemis Danza dari Italia, memberikan workshop wayang dan tari.
 
Swargaloka berusaha konsisten menampilkan wayang orang yang mengedepankan nilai luhur ajaran kehidupan. ”Wayang itu punya wibawa sendiri. Wayang tak bisa dilecehkan karena ada ajarannya,” kata Manajer Informasi di TMII ini. Baginya, wayang orang adalah pertunjukan yang mengandung unsur seni yang komplet, mulai dari seni tari, musik, seni suara (tembang), drama, tata rias, seni dekorasi, sampai tata busana. Meski tak mudah, bersama istrinya, kompak bahu-membahu melestarikan wayang orang sesuai kebutuhan dan gaya hidup zaman, wayang orang tetap mempunyai dinamika dan kemampuan berdialog dengan zaman yang berubah, wayang orang bukanlah milik masa lalu. Cita-citanya saya adalah menjadikan wayang orang sebagai opera terbaik di dunia.
 
(Dari Berbagai Sumber) 

You may also like...