Sutradara


Sutradara Film
Aria Kusumadewa
 
 
 
Lahir di Lampung, 27 September 1963. Lulusan Institut Kesenian Jakarta Jurusan Sinematografi (1990). Masa kecilnya dihabiskan di Lampung. Dibesarkan di keluarga yang memiliki dasar agama yang kuat. Walau sudah khatam Alquran dan lulus sekolah dasar, anak kelima dari sembilan bersaudara ini diwajibkan masuk pesantren. Tak tahan dengan aturan disiplin yang ketat, Aria yang memiliki ayah seorang tukang pos ini meninggalkannya dan minta di lanjutkan sekolah umum saja. Saat Kelas dua SMP, Aria memutuskan pergi dari rumahnya dan tinggal di rumah keluarga temannya sampai SMA.
 
Selepas lulus SMA di Lampung (1983), Aria pergi merantau ke Jakarta dan kerap nongkrong di Taman Ismail Marzuki. Kegemarannya nongkrong di Taman Ismail Marzuki, membuatnya mengenal banyak seniman. Ia juga mulai nonton film, baca komik antara lain karya Yan Mintaraga. Kala itu, ia tertarik dengan komik, yang di dalamnya ada proses-prosesnya. Dari situlah, muncul minat untuk berkuliah di IKJ Jurusan Sinematografi.
 
Sambil bekerja sebagai tukang parkir, dan calo jual-beli burung di Pasar Pramuka, Aria kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), lulus tahun 1990. Ia mengambil tugas akhir film pendek berdurasi delapan menit berjudul ‘Pelacur di Malam Lebaran’. Sayangnya, tugas akhirnya itu ditolak dosen pembimbing, lantaran film itu dianggap eksperimental.  Ia sempat bingung lantaran ia membuat film dan menulis ceritanya sendiri, namun akhirnya Aria lulus juga.
 
Film pertama yang ia buat berjudul ‘Senyum yang Terampas’ (1990) kurang laku di pasaran, karena saat itu industri perfilman sedang lesu. Ia lalu bekerja di perusahaan advertising, membuat iklan dan video klip.
 
Tahun 1995, ia memutuskan kembali terjun ke film dengan membuat film untuk salah satu televisi swasta, ‘Siluet’, disusul ‘Aku’, ‘Perempuan dan Lelaki Itu’ (AN TV, 1996), sinetron 26 episode ‘Dewi Selebriti’ (Indosiar, 1998), serta ‘Bingkisan untuk Presiden’ yang diproduksi pada 1999. Film ‘Bingkisan untuk Presiden’ sempat tertunda karena masalah dana dan baru diputar di salah satu televisi swasta pada tahun 2001 setelah melalui sensor, dan filmnya tersebut juga mengantarkannya meraih penghargaan sebagai sutradara terpuji dalam ajang Forum Film Bandung 2002.
 
Selanjutnya pada tahun 2000, ia kembali memproduksi Film ‘Beth’ dan diputar di lebih dari 60 kampus di Indonesia pada awal tahun 2002. Pada tahun 2001, Film ‘Beth’ terpilih mewakili Indonesia untuk diputar di Festival Kesenian Homeport, Rotterdam, Belanda. Festival Homeport itu sendiri adalah festival kesenian tahunan untuk kota-kota pelabuhan dunia yang bersifat non-kompetisi. Setelah itu ia kembali memproduksi ‘Novel Tanpa Hurup R’ yang di luncurkannya pada tahun 2003.
 
Filmnya yang lain yakni ‘Identitas’ (2009), yang merupakan film bernafas indie berhasil masuk dalam jalur mainstream industri film nasional. Bahkan di ajang FFI 2009, karyanya tersebut terpilih sebagai Film Terbaik, dan di ajang yang sama ia juga terpilih sebagai Sutraradara Terbaik. Menurutnya, film ini mempunyai struktur cerita yang ringan, bahkan tidak begitu psikologis. “Ini malah seperti nonton FTV yang membuat saya merasa sesak,” ujarnya.
 
Sebagai sutradara yang selalu menginginkan kebebasan berekspresi, ia mengaku proses kreatifnya mengalir begitu saja, seperti kehidupannya. Dan lingkungan tempatnya tinggal mendukung kreativitasnya. Saat masih kuliah, ia tinggal di sebuah gang di belakang Pasar Pramuka, Jakarta Timur. Di sana ia bisa menemukan berbagai mozaik kehidupan, antara lain kehidupan seorang pelacur yang bertobat. Ia juga pernah bergaul dengan orang-orang yang sakit jiwa, lalu muncullah ide membuat film ‘Beth’. Kini, ia biasa nongkrong bersama anak-anak jalanan yang dia himpun dalam Komunitas Gardu di Gelanggang Olahgara Bulungan, Jakarta Selatan. Di sana ia bergaul dengan pekerja seks dan dari situ munculah ide membuat film tentang pelacur.
 
Menikah dengan Mari Kond saat masih mahasiswa, namun akhirnya bercerai, dikaruniai dua orang anak, Mario Maralari dan Matahari Merah. Di luar aktivitasnya di dunia film, aria yang kini menetap di Jalan Taman Pendidikan II/29, Tarogong, Cilandak Barat Jakarta Selatan ini memiliki hobi membaca novel dan memancing di laut.
 
 (Dari Berbagai Sumber)
 

Nama :
Aria Kusumadewa
 
Lahir :
Lampung, 27 September 1963
 
Pendidikan :
SD Negeri 5 Lampung (1974),
SMP 6 Lampung (1980),
SMA 2 PGRI Lampung (1983),
Jurusan Sinematografi Institut Kesenian Jakarta (1990)

Penghargaan :
Sutradara Terpuji untuk film ‘Bingkisan untuk Presiden dari Forum’ Film Bandung (2002)
Film Beth terpilih mewakili Indonesia untuk diputar di Festival Kesenian Homeport, Rotterdam, Belanda,
Film Identitas terpilih sebagai Film Terbaik sekaligus FFI 2009, Sutraradara Terbaik FFI 2009
 
Filmografi :
Pelacur Di Malam Lebaran,
Senyum yang Terampas (1990)
Siluet,
Aku,
Perempuan dan Lelaki It (1996),
Bingkisan untuk Presiden (1999),
Beth (2002),
Novel Tanpa Huruf R (2003),
Identitas (2009),
Kentut (2011)
 
Sinetron :
Dewi Selebriti (1998)
 

You may also like...

Leave a Reply