Syaharani

Penyanyi
Syaharani
 
 
 
Bernama lengkap Saira Syaharani Ibrahim. Lahir di Batu, Malang, Jawa Timur, 27 Juli 1971. Anak kelima pasangan Hasan Ali Ibrahim dan Elly Zapantis. Rani, sapaan akrabnya, telah mengenal musik jazz sejak ia kecil. Ia mulai menyanyi karena mendengar instrumentalia yang diputar ibunya, saat masih duduk di taman kanak-kanak dan sekolah dasar.
 
Meski pada awalnya ia bercita-cita kepingin menjadi atlet, lantaran ia dikenal cukup mahir bermain bulu tangkis. Bahkan, ketika duduk di bangku Sekolah Dasar, ia sempat ikut klub kecil di kota Batu, Jawa Timur. Bakatnya dibidang olahraga tersebut juga mengantarkannya untuk mengikuti Pelatda bulutangkis di daerah asalnya, Malang, Jawa Timur. Ketika kelas II SMP, lantaran kakinya terkilir, ia pun kemudian berhenti berlatih. Ia pun mulai menggali potensi suaranya yang sebetulnya sudah tampak sejak duduk di bangku SD.
 
Saat di SMA, perempuan yang pernah menjadi pasukan pengibar bendera di sekolahnya tersebut, pernah ditawari untuk rekaman. Namun kala itu, ia merasa belum yakin kendati vokalnya dinilai bagus. Barulah ketika kuliah di Malang, ia mulai berani untuk menyanyi di kampus atau pub. Penampilannya di Stasiun TVRI pada tahun 1989, juga menjadi modal tersendiri baginya dalam bernyanyi.
 
Perjumpaannya dengan seorang teman, ketika ia sedang jalan-jalan ke Bali, membawa berka tersendiri baginya. Ia ditawari menyanyi di Tavern Cafe Hotel Kartika Plaza, yang langsung di sambutnya dengan antusias. Sepanjang dua tahun ia harus bolak balik Malang-Bali agar kuliahnya tidak putus. Barulah pada tahun ketiga akhirnya ia memutuskan untuk tinggal di Bali dan memilih untuk total bernyanyi.
 
Tahun 1996 akhir, ia bertemu dengan Todung Panjaitan yang mengajaknya untuk hijrah kembali ke Jakarta. Bersama Todung dan Andy Ayunir, ia kemudian mendirikan kelompok musik bernama Cyno. Tak hanya itu perjumpaannya dengan Bubi Chen (alm), di penghujung tahun 1998, membuatnya semakin mantap untuk berkiprah di jalur musik jazz. Ia kemudian memutuskan bergabung bersama Bubi Chen (alm), Benny Likumahuwa, Sutrisno, Cendi Luntungan, dan Oele Pattiselanno mengeluarkan album jazz What a Wonderful World.
 
Setelah meluncurkan Album solo jazz pertamanya bertajuk Love pada tahun 1999, ia kemudian mulai merambah ladang musik psikedelik lewat album Magma (2002) untuk memaksimalkan kualitas vokalnya. Album ini berisi 11 lagu yang bernuansa Jazz, fusion, ethnic, dan trip hop yang bercampur menjadi satu sehingga menghasilkan apa yang ia sebut sebagai psychedelic. Berbeda sekali dengan album yang dirilis sebelumnya, Magma menurutnys lebih nge-pop dan semua materi lagunya ‘enak untuk didengar’.
 
Album solo ketiganya adalah Syaharani (2004). Dalam album ini ia memaksimalisasi eksplorasi natural talenta jazznya. Ada sepuluh tembang lawas di album ini yang diaransemen ulang. Sembilan lagu berbahasa Inggris seperti milik band rock Procol Harum, A White Shade of Pale, lalu ada Careless Whisper (WHAM), Fragile (Sting), I Can See Clearly Now (Jimmy Cliff), dan Lately (Stevie Wonder), serta satu lagu berbahasa Indonesia, Kesan, karya Andy Mapajalous, yang pernah populer lewat alunan vokal Ermy Kullit.
 
Penyanyi berdarah Bugis ini, pernah membuat gebrakan dengan menggelar konser tunggal di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki pada 30 Juni 2004. Konser bertajuk Cross Genre Music ini adalah gabungan beberapa genre musik seperti jazz mainstream, pop, dan progresif. Dalam konser ini ia mengajak Kevin Wahl (terompet dan saxophone), Oele Pattiselanno (gitar), Agam Hamzah (gitar), Adi Dharmawan (bas), Eddy Syahronny (drum), Elanda Yunita (piano dan keyboard), Iwan Wiradz (perkusi), dan Didit Outer (program dan gitar efek).
 
Kembali masuk dapur rekaman pada tahun 2006. Kali ini ia mengandeng dua teman lamanya, Achmad ‘Didit’ Fareed dan Donny Suhendra, mantan gitaris Krakatau, untuk menciptakan sebuah kolaborasi yang dinamakan Syaharani dan Queenfireworks yang populer disingkat SQf, mereka membawakan apa yang disebutnya sebagai musik crossover atau lintas genre. Dalam perjalanannya beberapa musisi turut pula bergabung seperti Eddie ‘Gomez’ Setiawan.
 
Tahun 2007, SQf merilis album pertamanya bertajuk ‘Buat Kamu’. Album ini menampilkan komposisi yang ringan, riang, eksotis, tanpa beban dan tidak ‘njelimet’. Pengaruh dari beberapa jenis musik pun terdengar dalam album ini. Ada musik pop, jazz, rock n roll, blues, soul dan bahkan disko, tekno atau pun elektronis. Semuanya dikemas dalam nuansa yang sederhana, segar, kreatif, ringan, komunikatif dan lugas. Selanjutnya, tahun 2010, bersama Queenfireworks kembali meluncurkan album ‘Esqi:ef-Anytime’ (2010).
 
Bersama bandnya, Syaharani dan Queenfireworks ia tercatat beberapa kali tampil dalam perhelatan musik jazz di tanah air diantaranya Jakarta International Jazz Festival atau JakJazz ’08, Kompas.com Music Corner yang digelar di Soho Music & A-venue, Cilandak Town Square, Jakarta Selatan (2009), Ngayog jazz di Bantul, D.I Yogyakarta (2009), Ambon Jazz Plus Festival (AJPF) 2010, Java Jazz Festival 2011, Road to JakJazz di Gandaria City, Jakarta Selatan (2012), dan Indojass Festival (2013).
 
Tak hanya itu, ia juga pernah tampil sebagai penyanyi tamu untuk Al Jarreau Concert, di Jakarta (2000), tampil pada North Sea Jazz Amsterdam-Jakarta All Stars (2001), Jazz Festival 2008, konser Universitas Gadjah Mada (UGM) Mandiri Jazz 2009, ASEAN Jazz Festival di Batam (2010), Magnum Filter Urban Jazz Crossover di Grand City, Surabaya, Jawa Timur (2011), konser Yockie Suryo Prayogo Reunion: Because of Love (2011),  di Yogyakarta, serta tampil pada Toraja Highland Jazz 2011 di Makale, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
 
Kurator pada acara Urbanfest 2007, di Ancol, Jakarta (2007) ini juga pernah terlibat dalam penggarapan sejumlah album bersama beberapa musisi ternama, diantaranya terlibat dalam proyek rekaman duet bersama Fariz RM dalam single ‘Renungan’ versi rhythm dan blues (2001);.Terlibat dalam pembuatan album ‘Di Sini Ada Kehidupan’ bersama dengan Dian Pramana Putra, dengan arranger Tohpati, Fariz RM, dan Donny Suhendra. Terlibat pula dalam penggarapan Album ‘Salute to KoesPloes’, dimana Erwin Gutawa memberinya kesempatan untuk rekaman bersama para maestro jazz tanah air, seperti, Indra Lesmana, Oele Pattiselano, Cendy Luntungan, dan Jeffrey Tahalele.
 
Di luar dunia musik, wanita lajang yang saat ini menetap di kawasan Permata Bintaro, Tangerang Selatan, Banten ini, juga menekuni dunia fotografi, kepenulisan serta dunia seni peran. Sebagai penulis, ia telah menerbitkan beberapa buah buku yakni buku kumpulan puisi berjudul Fussion Poetry dan buku Life, Stage & Delight. Sedangkan di dunia seni peran, ia tercatat beberapa kali ikut berpartisipasi dalam pementasan teater seperti Madame Dasima dan Galery of Kisses. Di dunia film, melakoni debut layar lebarnya dalam film Garasi (2006). Dalam film ini, ia berperan sebagai Kinar, tokoh wanita yang serius dalam mempertahankan haknya.
 
(Dari Berbagai Sumber)

Nama :
Saira Syaharani Ibrahim
 
Lahir :
Batu, Malang, Jawa Timur,
27 Juli 1971
 
Album :
What a Wonderful World (bersama B Chen, Benny Likumahuwa, Sutrisno, Cendi Luntungan, dan Oele Pattiselanno, 1998),
Love (1999),
Magma (2002),
Syaharani A Whiter Shade of Pale (2004),
Buat Kamu, Syaharani, and The Quenfireworks (2006),
Anytime (2010)
 
Filmografi :
Garasi (2006)
 
Karya Tulis :
Fussion Poetry,
Life, Stage & Delight

You may also like...