Tan Tjeng Bok


 
Tan Tjeng Bok
 
 
Dasar anak tunggal, ia badung. Apalagi ketika ayahnya Tan Soen Tjiang tak bisa lebih setahun berumah tangga dengan istrinya, wanita Betawi tulen asal Jembatan Lima. Perkawinan itu tak disetujui oleh keluarga lelaki. Lalu ayahnya kawin lagi dengan gadis Tionghoa. Karena itu dibanding dengan kedelapan orang adik-adiknya yang kini semua sudah tiada kulitnya terbilang berwarna. Dari situ bermula ia di panggil Si Item, dan kemudian Pak atau Oom Item.
 
Memulai karier sebagai biduan ketika umurnya baru 12 tahun di Bandung, Oom Item sering bolos dari Hollands Chinese School atau Sekolah dasar 7 tahun di Jalan Braga, Bandung. Berkali-kali gurunya melapor kepada orang tuannya. Sampai kelas tiga, oleh ayahnya ia disuruh berhenti sekolah.
 
Di rumah ia belajat silat, dibawah asuhan ayahnya sendiri, yang konon murid kedua guru persilatan Siauw Lim Shi. Ia senang, karena kepatuhannya, sewaktu-waktu ia mendapat kesempatan bermain di luar rumah. “Tapi jangankan diizinkan, tanpa izin pun saya senang keluyuran”,”katanya mengenang masa kecilnya.
 
Alunan musik orkes keroncong menggaet hatinya, awalnya hanya menonton, terakhir mencoba tarik suara. Dengan lagunya Kroncong Mauritsco, ia berhasil. Terakhir ia pun tercatat sebagai biduan orkes Keroncong Si Goler, Pimpinan Mat Pengkor. Mendengar itu, ayahnya yang berdiam di Bandung naik pitam, karena memandang nista dunia ngamen. Ia dihajar, merasa tertekan, ia minggat ke Jakarta, mencari ibunya di Jembatan Lima.
 
Selain sebagai seniman orkes keroncong, ia keranjingan Wayang Cina. Di Jakarta ia bergabung dengan perkumpulan sandiwara Miss Tjitjih. Ia ikut rombongan Sui Ban Lian di Jakarta, yang waktu itu bermain tetap di Sirene Park, jalan Hayam Wuruk disudut bilangan Mangga Besar Raya. Tapi ia hanya menjadi pesuruh saja. Dan mendadak ayahnya menyusul, dan pulang ke Bandung.
 
Tetapi di Bandung, ia tetap saja keluyuran. Malam Tahun Baru Imlek, ia tetap saja bergabung dengan rombongan Lenong Si Ronda pimpinan Ladur. Sehabis Imlek, rombongan berkeliling ke perkebunan-perkebunan di daerah Jawa Barat. Ketika itulah ayahnya tak sabar lagi. Ia diusir, sejak saat itu ia tak berjumpa lagi dengan ayahnya sampai di tahun 20-an ketika ia mendengar kabar si ayah meninggal, sedangkan Ibunya meninggal tahun 1930-an.
 
Setelah 6 bulan, ia kembali ke Bandung, Tjeng Bok bergabung dengan Stambul Indra Bangsawan. Awalnya sebagai tukang membenahi panggung. Belakangan toneel directeur (pemimpin pentas), Djaffar Toerki menariknya sebagai pemain pembantu dan iapun puas.
 
Tak kerasan di Stambul, ia bergabung dengan orkes Hoetfischer pimpinan Gobang, ia berkeliling Jawa. Tetap membawa lagu kroncong Mauritsco, namanya mulai tenar. Tapi tiba Bangil, ia kemudian bergabung dengan opera Dardanella pimpinan Pedro atau Pyotr Litmonov, seorang keturunan Rusia. Ia merasa puas. Bahkan lupa daratan. Berkeliling terus, dari Sabang sampai Merauke. Grup ini memang luar biasa. Dikenal sejak 1915 sampai 1940. Bermain disetiap kota berbulan-bulan. Ceritanya hebat-hebat, seringkali karya Shakespeare. Misalnya cerita Hamlet, Romeo and Juliet, juga cerita 1001 Malam seperti Pencuri dari Baghdad atau cerita film seperti Tiga Orang Tamtama penembak karangan Alexander Dumas Pere atau yang dikenal dengan terjemahan Tiga Orang Panglima Perang.
 
Mengenang Almarhum Pedro, ia berkata, “Karena dialah saya dulu pandai main anggar. Lalu sukses dalam karier saya, sampai-–sampai digelari’ Douglas Fairbanks van Java”.’ Douglas Fairbanks Sr (1883-1939) adalah bintang film dan produser Hollywood yang terkenal sebagai pahlawan dalam film-filmnya.
 
Sebagai bintang yang paling tinggi bayarannya dalam Dardanella, ia hidup mewah. Punya mobil sedan 8 silinder merk Studebaker seharga 2.000 Gulden. Kalau Dardanella bermain di Jakarta, ia menginap di sebuah hotel di Bogor.
 
Dardanella tutup layar di awal tahun 1940-an, Tjeng Bok lalu ikut sandiwara keliling Orpheus pimpinan Manoch. Kemudian juga Star pimpinan Afiat. Tapi tak satupun grup-grup itu berhasil mengulang sukses Dardanella. Menjelang Jepang masuk ke Indonesia, di Jakarta berdiri perusahaan Java Industri Film (JIF) milik The Theng Tjoen. Bersama JIF inilah Si Item masuk babak baru dunia perfilman.
 
Tan Tjeng Bok, pertama kali menikah tahun 1917. Lebih dari seratus kali ia kawin cerai. Istrinya yang terakhir adalah Sarmini. Menghidupi 2 anak, Nawangsih dan Sri Anami. Ia menempati sebuah rumah sederhana di Bandengan Utara, Gang Makmur, Jakarta Kota. Pada tanggal 27 November 1979 ia sakit tua dan dirawat di R.S Husada. Sebelumnya ia bermain untuk film iklan susu Kental bersama Wolly Sutinah. Dalam film Syahdu ia masih sanggup merogoh honor Rp. 1 Juta dari produser. Pada tahun 1980 seorang pelukis Oto Suastika membuat lukisan potret Tan Tjeng Bok dan di jual uangnya untuk Oom Item.
 
 
 
(Dari Berbagai Sumber)

Nama :
 Tan Tjeng Bok
 
Lahir :
Jakarta, 1899
 
Wafat :
Jakarta, 15 Februari 1985
 
Pendidikan :
Hollands Chinese School (sampai kelas tiga)
 
Profesi:
Artis
 
Filmografi:
Srigala Hitam (1941),
 Si Gomar (1941),
Singa Laut (1941),
Tengkorak Hidup (1941), Melarat Tapi Sehat (1954),
Judi (1955),
Peristiwa Surabaya Gubeng (1956),
Badai Selatan (1960), Bengawan Solo (1971),
Aku Tak Berdosa(1972),
Si Rano (1973),
Syahdu (1975),
Donat Pahlawan Pandir (1978)

You may also like...

Leave a Reply