Tatang Ganar


Pelukis
Tatang Ganar
 
Seniman lukis kelahiran Cangkuang, Bandung, Jawa Barat, 19 Agustus 1936 ini merajut karirnya sejak masa remaja. Selama lebih dari 40 tahun berkarya secara produktif dengan karya yang tak terhitung jumlahnya. Tatang, adalah anak keluarga petani. Djana, ayahnya, selain mencangkul, juga senang menari dan melukis di atas kaca. Mengusung tema wayang dan alam benda lainnya. Dari sini sudah dapat diketahui darah seni sang ayah mengaliri tubuh anaknya.  
 
Tatang Ganar, yang dialiri darah seni orang tuanya terus melaju kedepan untuk mencapai cita-citanya menjadi pelukis. Terlebih setelah ia menyaksikan pameran besar lukisan karya para maestro seni lukis di gedung Yayasan Pusat Kebudayaan di jalan Naripan, Bandung. Diantara pelukis kondang yang ikut pameran itu antara lain Affandi, Hendra Gunawan, Soedarso, Sapto Hoedojo. Sejak itu hasrat Tatang kian menggebu ingin jadi melukis tenar.  
 
Setamat SMA di Bandung, Tatang kabur ke Yogyakarta berguru para pelukis kondang yang ia temui dan bergabung dengan pelukis rakyat (LEKRA). Sebuah organisasi seniman yang waktu itu paling popular dan prestisius. Dari sanalah Tatang banyak belajar dan menyerap ilmu kesenirupaan. Pergaulannya dengan para seniman Yogyakarta banyak memberikan manfaat terutama bagi perkembangannya selama ini untuk memantapkan dirinya menjadi pelukis profesional.

 

Potret Diri (1971)

                
Selama lima tahun Tatang tinggal di Yogyakarta dan menyerap segala ilmu kesenilukisan, Bahkan cara-cara berpikir dalam nafas kesenilukisan yang serba romantik dihayatinya. Dan ia siap menghadapi kondisi  apa pun. Siap menjadi seniman yang tidak takut dirinya menjadi miskin atau tidak kaget kalau ia menjadi kaya.
 
Sekembalinya di Bandung, tahun 1961, Tatang langsung mendudukan dirinya sebagai pelukis professional. Hidup ini tak ada pilihan lain selain menjadi pelukis. Sebab itu badai kehidupan terus dilawannya dengan semangat kesenimanannya. Dan sebagai pelukis’ ia banyak berkarya. Siang-malam terus melukis dan ribuan karyanya terus mengalir dari tangannya yang kian piawai. Bahkan karyanya banyak dikoleksi oleh kolektor dalam dan luar negeri. Ia melukis dan memilih tema alam benda dan manusia

 
‘”Seni lukis adalah hidup saya,’” ujarnya. Ucapan itu ia buktikan bahwa pada usianya yang ke-55 tahun telah melahirkan sekitar 10.000 lukisan. Suatu produktifitas yang sangat mencengangkan. Pada usia ke-55 tahun itulah ia sempat menerbitkan album lukisananya yang disebut ‘Mangle’ atau ‘Bunga Rampai’. Tiga bagian dari tema lukisan yang termuat dalam album tersebut terbagi menjadi tiga bagian. Pertama, ‘Masa Kota Kembang’, kedua, ‘Ballada Tanpa Nada’, ketiga, ‘Warna Siang dan Malam’.   
 
Kendatipun ia belajar dari beberapa pelukis yang ia kagumi seperti Affandi, Hendra Gunawan, atau pun Soedarso, namun ia tak ingin sama atau tidak ingin menjadi mereka. Tatang Ganar adalah Tatang Ganar. Dan memang, Tatang Ganar menjadi dirinya. Dan ia selalu berusaha menghindari persaingan ketat yang muncul diantara sesama pelukis. 
 
Menjelang usianya yang ke 70 tahun, tepatnya pada 2004 lalu,  Tatang  Ganar menutup lembaran hidupnya di kota kelahirannya, Bandung. Ia mewariskan sejumlah besar karyanya yang tersimpan di galeri ‘Tatang Ganar’, Bandung Utara.
 
(Tjok Hendro)

Nama :
Tatang Ganar
 
Lahir :
Cangkuang, Bandung,
 Jawa Barat,
19 Agustus 1936
 
Wafat :
2004
 
Pendidikan :
SMA (1956)
 
 

You may also like...

Leave a Reply