Taufan S. Chandranegara

Nama :
Taufan S. Chandranegara
 
Lahir :
Jakarta, 15 Mei 1956
 
Pendidikan non-formal :
Workshop Teknik Tatalaksana Pentas dan Pencahayaan yang diselenggrakan oleh Japan Foundation dan Pusat Kesenian Jakarta/TIM,
Workshop Dramaturgi yang diselenggarakan oleh Teater Koma dan Goethe Institute Jakarta
 
Karier :
Perancang Grafis PT. Grafiti Pers. Penerbit Majalah Tempo, Medika dan Zaman
(1981-1987)
 
Profesi :
Aktor Teater,
Skenografer,
Sutradara Teater,
Pengarah Artistik,
Penata Panggung &  Cahaya,
Perancang Grafis,
Penulis Naskah Drama,
Perupa
 
Aktifitas Teater :
Kelompok Seni Pemuda – Gelanggang Remaj Bulungan,
Teater Panuluh,
GARAJAS,
Teater Koma,
Pemimpin Teater Dur
 
Karya Naskah Teater :
Bendera (1994),
Grass Rock Opera (1998),
Saputangan Merah Jambu (1999),
Bolong (2000),
Opera Sang Sangkuriang (2001),
Taman Hati (2003),
Monolog Aksioma (2004),
Monolog Bangsat (2004),
Monolog Kepada Orang Terkasih (2005),
Monolog Bunga Di Atas Awan-awan Atawa Cinta Dibalut Hitam (2005),
 Monolog Kromo Kronik (2005)
 
Karya Buku :
Antologi Monolog Babad Raja Tega (2005)
 
Filmografi :
FTV Suryakanta Kala-Onah dan Impiannya (penata aristik dan penata cahaya),
FTV Cintaku Terhalang Tembok (penata artistik dan penata cahaya)


Seniman Teater
Taufan S. Chandranegara
 
 
 
Ia adalah skenografer handal setelah ‘mbah Djito’ tiada. Hampir seluruh pementasan Teater Koma diskenograferi olehnya. Lahir di Jakarta, 15 Mei 1956. Terlibat dalam teater sudah di lakoninya sejak tahun 1970-an dengan bergabung dengan beberapa kelompok, diantaranya bergabung dengan Kelompok Seni Pemuda-Gelanggang Remaja Bulungan, Teater Panuluh, serta terlibat di GARAJAS bersama Dimas Pras, May Soebiakto, dll.
 
Tahun 1982 bergabung dengan Teater Koma. Sejak saat itulah ia mulai terlibat dalam setiap produksi Teater Koma. Diantaranya berperan sebagai gelandangan mendampingi Ratna Riantiarno yang berperan sebagai pemimpi, saat Teater Koma mementaskan Trilogi Kecoa bagian pertama, Bom Waktu. Selanjutnya bermain dalam Opera Ikan Asin (1983), berperan sebagai Komisaris Polisi Brown yang korup. Bermain pula dalam pementasan karya Shakespeare, The Comedy of Error (1984).
 
Totalitasnya dalam berteater tak perlu di ragukan lagi. Dengan intens ia melakukan observasi dan pendalaman, lalu menyodorkan berbagai usulan sebelum pementasan berlangsung, seperti yang ia tunjukkan ketika berperan sebagai Tamu Dari Jepang dalam Opera Kecoa, bagian kedua Trilogi Kecoa (1985). Sebagai tamu dari Jepang, menuntut ia harus mampu bicara bahasa Indonesia dengan aksen Jepang yang medok. Untuk itu ia rajin bertanya kepada orang-orang yang mampu berbahasa Jepang dan menimba pengetahuan tentang Jepang serta cara-cara orang Jepang berbicara bahasa Indonesia dan ia berhasil membawakan peran tersebut di atas pentas. Permainannya dalam Opera Kecoa dipuji banyak kritikus.
 


Sie Jin Kwie Kena Fitnah,
Teater Koma (2011)

Sesudah Opera Kecoa, ia kembali bermain dalam Opera Julini, bagian ketiga dari Trilogi Kecoa, dimana ia bermain sebagai Gubernur yang mendadak buta setelah menyaksikan kemiskinan. Ia juga bermain dalam Wanita-Wanita Parlemen (1986) karya Aristophanes, Animal Farm (1987) karya George Orwell, bermain sebagai Durga dalam Konglomerat Burisrawa (1989), memerankan Absalom dalam Suksesi (1990), namun pementasan Suksesi dihentikan oleh aparat keamanan pada hari pementasan ke-11.Selain kerap berperan sebagai pemain, sejak tahun 1985, ia mulai melibatkan diri ke dalam urusan grafis. Bersama seniman FX Harsono dan Gendut Riyanto, ia terlibat dalam penggalian konsep grafis Opera Kecoa. Keterlibatannya tersebut berlanjut hingga penggarapan konsep grafis Opera Julini (1986), Wanita-Wanita Parlemen (1986), dan Banci Gugat (1989). Pada Perkawinan Figaro (1989), ia menggarap keseluruhan pekerjaan grafis
 

 
Dalam lakon Rumah Sakit Jiwa (1991) yang di pentaskan Teater Koma pasca pelarangan tampil, ia menjalankan tugas baru yakni sebagai penata artistik Teater Koma untuk pertama kalinya, dengan tetap merangkap sebagai pemain. Selanjutnya tugas penataan artistik kerap dipercayakan padanya, seperti dalam lakon Tiga Dewa dan Kupu-Kupu (1992) yang merupakan adaptasi dari karya Bertolt Brecht, The Good Person of Schezchwan.
 
Sesudah Tiga Dewa dan Kupu-Kupu, Taufan menangani Penataan artistik sekaligus desain pencahayaan pentas-pentas seperti Tenun, Ubu Roi karya Alfred Jarre, Rampok karya Fredrich Schiller, Roman Yulia karya Shakespeare, Opera Ular Putih, Cinta Yang Serakah, Republik Bagong, Sembelit, Presiden Burung-Burung, Kala dan Republik Togog. Sejak tahun 1997, ia mulai melirik ‘wilayah lain dalam teater’ yakni penulisan dan penyutradaraan. Hal tersebut diwujudkannya dengan mendirikan kelompok teater yang diberi nama Teater Dur. Beberapa kali kelompok teaternya naik pentas di Gedung Kesenian Jakarta.
 
Juga di kenal sebagai seorang pelukis. Beberapa pameran tunggal serta pameran bersama pernah diikutinya, diantaranya Pameran Tunggal ke-1, Lukisan Taufan 05, di Galeri Oktagon, Pameran Tunggal ke-2, (110 karya), Tera di Galeri Soka, dan terakhir Pameran Tunggal ke-9, The Shadow, 10 – 19 Agustus 2010 di Galeri Cipta II TIM. Sedangkan Pameran Bersama yang di ikutinya yakni Pameran Bersama kelompok seni grafis Majalah Tempo di Pasar Seni Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta-periode tahun 1980, Pameran Bersama Gerakan Seni Rupa Baru 1987 Proyek I dengan tema Pasar Raya Dunia Fantasi di Galeri Cipta II-Taman Ismail Marzuki, dll.
 
Seniman teater yang pernah mengikuti Workshop Teknik Tatalaksana Pentas dan Pencahayaan, Japan Foundation dan Pusat Kesenian Jakarta/TIM serta workshop Dramaturgi, Teater Koma dan Goethe Institute Jakarta ini juga pernah menangani beberapa penataan artistik film televisi, diantaranya Suryakanta Kala-Onah dan Impiannya (3 Episode), dan Cinta Terhalang Tembok (6 episode) besutan N. Riantiarno. Terakhir, tahun 2011, bersama Teater Koma, berperan sebagai Litocong dalam Sie Jin Kwie Kena Fitnah.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 
 
 

You may also like...