Teguh Esha

Nama :
Teguh Slamet Hidayat Adrai
 
Lahir :
Banyuwangi, Jawa Timur,
8 Mei 1947
 
Pendidikan :
SMA IX Jakarta.
Fakultas Teknik Sipil Universitas Trisakti
 (1966, tidak tamat),
Fakultas Publisistik Universitas Prof Dr Moestopo (tidak tamat)
 
Karier :
Wartawan Utusan Pemuda dan majalah Stop,
Pimpinan Redaksi majalah Sonata (1971-1973),
Pimpinan Redaksi majalah
 Le Laki (1974-1977)
 
Karya :
Gairah (novel),
Ali Topan Anak Jalanan (cerber, 1972),
Dewi Besser (cerber),
Ali Topan Anak Jalanan (novel, 1977),
Dewi Besser (novel, 1978), Playgirl Salah Gaul
(novel, 1978),
Balada Ali Topan (lagu dinyanyikan Franky dan Jane Sahilatua)
Ali Topan Detektif Partikelir (novel, 1978)
Ali Topan Wartawan Jalanan (2000)
 
 
 
 
 
 

Penulis
Teguh Esha
 
 
 
Bernama lahir Teguh Slamet Hidayat Adrai. Lahir di Banyuwangi, Jawa Timur, 8 Mei 1947, dibesarkan di Bangil, Jawa Timur. Masa kecilnya diisi dengan membaca komik silat, komik wayang karya R.A. Kosasih, dan novel-novel detektif. Selepas kelas V SD, ia pindah ke Jakarta atas permintaan kakak iparnya, Mohamad Saleh, yang seorang diplomat dan ayah dari sutradara Rizal Mantovani. Setamat SMA IX, Jakarta, ia melanjutkan kuliah di Fakultas Teknik Sipil Universitas Trisakti pada tahun 1966, tapi hanya bertahan dua semester.
 
Awalnya terjun menjadi penulis terjadi ketika pada suatu malam Pemimpin Redaksi, Utusan Pemuda, Dadi Honggowongso menginap di rumahnya sambil membawa surat kabarnya. Ia membaca cerita pendek yang ada di koran itu dan kemudian mengkritik cerpen yang di muat. Kritikan Teguh tersebut membuat Dadi gusar dan balik menantangnya. Semalam suntuk ia menulis cerpen untuk membuktikan bahwa cerpen karyanya lebih baik. Setelah jadi, cerita itu ia serahkan kepada Dadi, yang ternyata memuatnya pada edisi Minggu.  Cerpen tersebut merupakan karya pertamanya, bertema tentang detektif, namun ia lupa judulnya.
 
Melihat hal itu, Djoko Prajitno dan Kadjat Adrai, kakaknya yang sudah menjadi wartawan, mendorongnya untuk menjadi penulis. Ia pun bekerja sebagai wartawan di Utusan Pemuda, yang terbit dua kali seminggu. Ia memperdalam ilmu jurnalistik di Fakultas Publisistik Universitas Prof Dr Moestopo (Beragama), Jakarta, tapi tak ia tamatkan  juga. Novel pertamanya, ‘Gairah’, muncul di Utusan Pemuda, namun sayang, tak terdokumentasikan.
 
Ketika berkuliah di Fakultas Publisistik Universitas Prof Dr Moestopo (Beragama), Jakarta, ia bertemu dengan Deddy Armand, redaktur majalah Stop. Deddy memintanya menulis apa saja di majalahnya. Hal ini memacunya untuk menulis banyak cerita bersambung. Saking produktifnya, ia mempunyai lima-enam nama samaran, seperti Jonjon van Papagoyang dan Peranginanginan. Cerita bersambung pertamanya adalah ‘Ali Topan Anak Jalanan’, yang melegenda, terbit di Stop pada 14 Februari 1972. Tokoh Ali Topan sendiri di dapatnya ketika sedang berjalan-jalan. Menurutnya nama Ali waktu itu lagi ngetop seperti Ali Sadikin, Muhammad Ali, Ali Said, Ali Moertopo, sedangkan Topan muncul begitu saja, dan jadilah Ali Topan.
 
Salah seorang mentor dalam karier kepenulisannya adalah Asbari Nurpatria Krisna, novelis dari angkatan yang lebih tua, pengarang novel Ibu Guru Kami Cantik Sekali itu menilai karyanya sebagai sastra-jurnalistik, yang mengolah fakta menjadi fiksi. Sang Mentor menyarankanya untuk menjadi wartawan dulu, baru kemudian menjadi sastrawan. Sebab, menurut sang mentor, dengan kartu pers, ia bisa kenal banyak orang dari berbagai strata sosial, dari pelacur sampai presiden, yang akan memperkaya karakter tokoh novelnya. Ia menuruti saran itu dan berkarier di jurnalistik. Menjadi sastrawan ia tempatkan sebagai kerja sampingan, meski demikian, ia mampu menulis lumayan cepat. Satu novel dapat ia selesaikan dalam tempo dua bulan. Bersama Djoko dan Kadjat, ia menerbitkan majalah Sonata dan menjabat sebagai wakil pemimpin redaksi (1971-1973). Kemudian ia menerbitkan majalah Le Laki, yang berkantor dibilangan Kwitang, menjabat sebagai pemimpin redaksi (1974-1977). Di majalah inilah ia menulis cerita bersambung ‘Dewi Besser’.
 
Tahun 1977, ia kembali mengangkat cerita ‘Ali Topan Anak Jalanan’ ke dalam sebuah novel, yang di terbitkan oleh penerbit Cypress, yang juga menerbitkan karyanya ‘Dewi Besser’ dan ‘Playgirl Salah Gaul’ (1978). Penerbitan ‘Ali Topan Anak Jalanan’ pada tahun 1977 meledak. Dalam jangka waktu enam bulan novel itu telah dicetak empat kali. Popularitasnya makin didongkrak oleh munculnya film Ali Topan Anak Jalanan (1977) dengan bintang utama aktor Junaedi Salat dan aktris Yati Octavia.
 
Setahun kemudian, ia menulis lagu yang dinyanyikan Franky Sahilatua (alm) dan Jane Sahilatua dalam album ‘Balada Ali Topan’. Sampulnya memakai sketsa Ali Topan ciptaan komikus Jan Mintaraga. Di tahun yang sama (1978), ia menerbitkan ‘Ali Topan Detektif Partikelir’ dan pada tahun 1979 muncul film Ali Topan Detektif Partikelir Turun ke Jalan dengan bintang aktor Widi Santoso. Ali Topan Anak Jalanan juga pernah muncul sebagai sinetron sepanjang 26 episode pada 1986 dengan bintang Ari Sihasale. Pada tahun 2000, ia kembali menerbitkan novel ‘Ali Topan Wartawan Jalanan’.
 
Karakter Ali Topan, yang digambarkan olehnya adalah pemuda lulusan sekolah menengah atas yang menolak melanjutkan kuliahnya sesuai dengan kehendak orang tuanya, berasal dari keluarga berantakan, ayahnya berselingkuh, ibunya menjadi tante girang, rumah baginya bukanlah tempat tinggal yang nyaman sehingga akhirnya ia pun meninggalkan rumah dan menggelandang di jalanan. Menurutnya, ia memiliki karakter dan spirit seperti James Dean, berontak tanpa alasan, namun Ali Topan berontak dengan alasan. Ali Topan melawan segala ketidakadilan dan mempertanyakan segala yang dirasanya tak adil. Berani bila benar dan takut bila salah.
 
Menurut penulis yang pernah di rawat karena mengidap penyakit diabetes dan kelainan ginjal ini, novel ‘Ali Topan’ sebenarnya tetralogi. Selain dua yang sudah terbit, ada ‘Ali Topan Rock and Road’, yang masih berbentuk tulisan tangan, serta ‘Ali Topan Santri Jalanan’, yang belum tamat dan baru sempat dimuat bersambung tujuh edisi di Panji Masyarakat pada 1984. Ia berencana merampungkan novelnya yang sempat terbengkalai.
 
Menikah pada tahun 1980 dengan Ratnaningdiah Indrawati Santoso Brotodihardjo, cucu Soeratin Sosrosoegondo, tokoh sepak bola nasiona, dan dikaruniai tujuh anak. Kini ia bersama keluarga tinggal menetap di daerah Bintaro, Jakarta Selatan.
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...