Teguh Srimulat

Nama :
Teguh Slamet Rahardjo
 (Kho Tjien Tiong)
 
Lahir :
Klaten, Jawa Tengah,
8 Agustus 1926
 
Wafat :
Solo, Jawa Tengah,
22 September 1966
 
Karier :
Pemusik rombongan sandiwara Miss Ributs Orion Solo (1964),
Pemusik Keroncong Bunga Mawar, Solo,
Pendiri dan Sutradara kelompok Srimulat
 
Karya :
Roh Cleopatra,
Mogok Sex,
Relax in Love,
Drakula Delapan Penjuru Angin,
Janda of Navarone,
Drakula Sakit Gigi  
 
 
 
 
 


Teguh Srimulat
 
 
 
Terlahir dengan nama Kho Tjien Tiong pada tanggal 8 Agustus 1926 di Klaten Jawa Tengah. Ayahnya Kho Swie Han dan Ibunya Go Djon Nio, seorang buruh. Sejak kecil Teguh yang sempat menyelesaikan pendidikan sekolah dasar telah memperlihatkan ketertarikannya pada dunia seni. Menginjak usia 17 tahun, Teguh yang pandai bermain gitar dan biola aktif dalam grup keroncong asli dan selanjutnya menjadi pemain biola disebuah klub musik gedung Kakio Sokai.
 
Kepiawaian Teguh bermusik mengantarnya masuk rombongan sandiwara Miss Ribut’s Orion di Solo, awal tahun 1964, dan bergabung dengan grup keroncong Bunga Mawar yang anggotanya terdiri dari pemusik dan penyanyi keroncong terkenal di kota Solo, antara lain ; Sapari dan Rudi
 
Teguh dengan Srimulat, seorang pemain ketoprak dan penyanyi bersama-sama meniti karir dalam grup Bintang Timur. Setelah grup Bintang Timur bubar, mereka membentuk kelompok keroncong Avond di Tegal. Pargelaran keroncong Avond rupanya menarik minat masyarakat luas karena menyuguhkan sajian musik sekaligus lawakan segar.
 
Setelah teguh dan Srimulat menikah di Solo, mereka memutuskan membentuk kelompok sandiwara Gema Malam Srimulat, dengan mengusung konsep dagelan Mataram. Di penghujung tahun 1960, Gema Malam Srimulat pentas di Pekan Raya Surabaya, yang kemudian berubah nama menjadi Taman Hiburan Rakyat Surabaya. Berkat kegigihan teguh, kelompok ini berhasil berhasil menjadi pengisi acara tetap di Taman Hiburan Rakyat Surabaya. Dan untuk memberi suasana baru, Teguh mengganti nama Gema Malam Srimulat menjadi Srimuat Review.
 
Srimulat Review terus bersinar, musik dan penyanyinya memikat, lawakan gaya dagelan Mataramnya memukau dan anggotanya terus membengkak. Akhirnya pada tahun 1963, Srimulat Review berubah nama menjadi Aneka Ria Srimulat yang menyajikan beragam nyanyian dan lawak dengan tetap mempertahankan ciri khas Srimulat.
 
Tahun 1969 Srimulat, istri Teguh Wafat, kemudian Teguh menikahi Djudjuk Djuwariyah, seorang penyanyi dan penari jawa. Dalam perkembangannya, kelompok Srimulat mendirikan panggung-panggung tetapnya di Surabaya, Solo, Semarang, dan Jakarta. Selama kurun waktu tahun tujuh puluhan hingga tahun delapan puluhan. Srimulat berhasil mengukuhkan dirinya sebagai kelompok lawak yang sukses dengan Djudjuk sebagai penyanyinya.
 
Sebagai pemimpin kelompok Srimulat, Teguh berhasil menjadikan Srimulat sebagai gudangnya pelawak terkemuka. Dengan kedisiplinan dan sikap berkeseniannya yang khas, Teguh telah melahirkan banyak pelawak berbakat. Ia berhasil mengangkat derajat seni tradisi dagelan ketempat yang terhormat dengan memadukan unsur-unsur seni tradisi dengan modern menjadi tontonan yang unik. 
 
Selama lebih dari tiga puluh tahun, Teguh menjadi poros seluruh aktifitas kolompok dagelan Srimulat. Teguh mengatur manajemen keuangan, mengelola pemain yang jumlahnya mencapai tiga ratusan orang, membuat cerita sekaligus sutradara. Teguh juga sangat kreatif dalam menggarap cerita, memilih judul lakon, mencari pemain hingga menata panggung. Kegemaran Teguh membaca koran, buku cerita, dan menonoton film agaknya membawa pengaruh pada dirinya dalam membuat judul cerita yang menggelitik seperti: Roh Cleopatra, Mogok Sex, Relax in Love, Drakula Delapan Penjuru Angin, Janda of Navarone, Drakula Sakit Gigi dll.
 
Melalui Srimulat, Teguh telah menciptakan suasana berkesenian yang merangsang kreatifitas anggota kelompoknya. Ia adalah dalang teater rakyat yang telah menghadirkan ruang untuk pelepasan ketegangan dan rekreasi masyarakat. Setelah empat tahun malang-melintang di Jakarta, popularitas kelompoknya terus merosot seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat. Teguh bercoba untuk bertahan meskipun telah ditinggalkan para pemain utamanya. Akhirnya Teguh memutuskan kembali ke Solo dan mendirikan kelompok ketoprak.
 
Teguh menutup usianya pada 22 September 1996 di Solo, Jawa Tengah akibat penyakit gula yang menggerogotinya dan meninggalkan seorang istri dan empat orang anak. Teguh merupakan pelopor dan pembaharu yang memberi nuansa segar bagi dunia seni pertunjukan di Indonesia.
 
(Dari Berbagai Sumber)      

You may also like...

Leave a Reply