Tio Pakusadewo

Nama :
Irwan Susetyo Pakusadewo
 
Lahir :
Jakarta, 2 September 1963
 
Pendidikan :
SMA (1985),
IKJ Jurusan Sinematografi (1986)
 
Aktifitas Lain :
Pemilik Rumah Produksi Kalbuku (1993),
Pemilik Satoe Acting Atelier (Februari 2010)
 
Pencapaian :
Aktor Terbaik FFI dalam  film Lagu Untuk Seruni (1991),
Most Favorite Supportive Actor dari MTV Indonesia Movie Awards 2006 dalam film Berbagi Suami (2006),
Pemeran Pembantu Pria Terbaik dari Indonesia Movie Award dalam film Susahnya Jadi Perawan (2008),
Aktor Terbaik FFI dalam film Identitas (2009),
Pemeran Utama Pria Terbaik Indonesia Movie Award dalam film Identitas (2010),
Pemeran Pendukung Pria Terbaik Indonesia Movie Award  dalam film Alangkah Lucunya Negeri Ini (2011) 
 
Filmografi :
Bilur-Bilur Penyesalan (1987),
Si Doi (1988),
Pengakuan (1988),
Catatan Si Boy II (1988),
Bianglala (1988),
Nuansa Birunya Rinjani (1989),
Adikku Kekasihku (1989),
Pengantin (1990),
Boleh-Boleh Aja (1990)
Cinta Dalam Sepotong Roti (1990),
Rini Tomboy (1991),
Lagu Untuk Seruni (1991),
Bibir Mer (1992),
Kuldesak (1996-1997),
Virgin (2004),
Legenda Sundel Bolong (2007),
Berbagi Suami (2004),
Love Is Cinta (2007),
Legenda Sundel Bolong (2007),
Lantai 13 (2007),
Quickie Express (2007),
 Rahasia Bintang (2008),
Susahnya Jadi Perawan (2008),
Oh Baby (2008),
May (2008),
Lastri (2008),
Cludia/Jasmine (2008),
Kata Maaf Terakhir (2009), Outsiders (2009),
 Pintu Terlarang (2009),
Identitas (2009),
Jagad X Code (2009),
Kata Maaf Terakhir (2009),
The Sexy City (2010),
Alangkah lucunya Negeri Ini (2010),
Tebus (2011),
Sang Penari (2011),
Republik Twitter (2012)
Dilema (2012),
Perahu Kertas (2012),
Rayya (2012),
Perahu Kertas 2 (2012),
Sang Martir (2012),
Habibie & Ainun (2012),
Sang Pialang (2013),
Java Heat (2013),
Killers (2014),
The Raid 2 : Berandal (2014),
The Guardian (2014),
Marmut Merah Jambu (2014),
Sang Pemberani (2014),
Toilet Blues (2014),
Antara Aku, Kau dan KUA (2014),
Bulan Di Atas Kuburan (2015)
 
Sinetron :
Desy (1994),
Lakon Tiga Duda (1994),
Anak-Anak Menteng (1996),
Telaga Kesabaran (1996),
Tirai Sutra (1996),
Meniti Cinta,
My Love,
Maafkan Aku (FTV),
Manusia Gerobak (FTV)

 Aktor Teater
Tio Pakusadewo
 
 
Lahir di Jakarta, 2 September 1963. Berlatar belakang pendidikan SMA (1985), dan IKJ jurusan Sinematografi (1986). Sejak kecil ia memang bercita-cita ingin menjadi seorang aktor. Semasa SMA, sudah aktif berteater, dengan menjadi anggota Teater Sendiri pimpinan Nawir Hamzah. Setelah sempat menjadi model, ia beralih ke dunia film. Awalnya hanya sebagai figuran dalam film ‘Bilur-bilur Penyesalan’ (1987). Mulai dikenal publik setelah berperan dalam film layar lebar ‘Cinta Dalam Sepotong Roti’ (1990) arahan sutradara Garin Nugroho, yang menjadi film terbaik pada FFI 1991.
 
Dinobatkan sebagai Aktor terbaik pada FFI 1991 lewat film ‘Lagu Untuk Seruni’. Sukses film tersebut kemudian disusul beberapa film nasional yang dibintanginya hingga kemudian film nasional mati suri. Kariernya sebagai aktor film meredup bersamaan dengan mati surinya film Indonesia pada pertengahan 1990-an. Melakukan comeback kedunia film pada tahun 2004 lewat film ‘Virgin’ setelah terjebak dalam masalah pribadi dan peyalahgunaan obat terlarang. Sebelumnya sempat terlibat sebagai pemain dibeberapa sinetron, bahkan ia sempat mendirikan Rumah Produksi Kalbuku,pada tahun 1993. Sempat mencoba menjadi pemain merangkap sutradara pada beberapa film.
 
Tahun 2006, dinobatkan sebagai Most Favorite Supportive Actor dari MTV Indonesia Movie Awards lewat film ‘Berbagi Suami’. Di tahun 2008, perannya dalam film komedi Susahnya menjadi Perawan mengantarkannya terpilih sebagai pemeran pembantu pria terbaik pada ajang Indonesia Movie Award 2008.   Mendirikan sekolah akting adalah salah satu obsesinya. Hal ini terwujud dengan didirikannya Satoe Acting Atelier yang dibuka Februari 2010, di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Pendirian sekolah akting ini dilatar belakangi oleh keprihatinannya akan kualitas sinetron saat ini dan banyaknya aktor yang ‘tidak cerdas’. Untuk itu, ia membuat metode tersendiri yang ia namakan ‘Metode Tio’ yang akan diterapkan disekolah akting miliknya, ia mencoba membuat metode sendiri, dimana seseorang bisa mencapai taraf keaktoran tertentu, tidak perlu melakukan pelatihan seberat di teater.
 
Masih berdarah bangsawan dari trah Pakualaman, Yogyakarta, ia bercita-cita ingin membangun kawasan Pakualaman menjadi enklave budaya yang bisa dijual menjadi daya tarik wisatawan. Ia bahkan siap ditunjuk menjadi ‘raja’ di keraton Pakualaman. Tentu saja raja dalam arti budaya untuk keperluan wisata.         
  
(Dari Berbagai Sumber)
 

You may also like...

Leave a Reply