Titi Said

Nama :
Sitti Raya Kusuwardani
 
Lahir :
Bojonegoro, Jawa Timur,
11 Juli 1935
 
Wafat :
Jakarta, 24 Oktober 2011
 
Pendidikan :
Sarjana muda Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1959)
 
Karier :
Anggota DPRD Bali,
Managing Editor majalah Kartini (hingga 1980),
Pimpinan Redaksi Majalah Family,
Ketua Badan Sensor
 Film Indonesia
 (2003  – 2006, 2006 – 2009)
 
Karya Tulis :
Jangan Ambil Nyawaku,
Pengakuan Tengah Malam,
Biografi Lenny Marlina,
Biografi R. Soeprapto Bag I,
Perjuangan dan
Hati Perempuan
(Kumpulan Cerpen, 1962)
Jangan Ambil Nyawaku (1977),
Reinkarnasi (2008),
Fatima (2008),
Ke Ujung Dunia (2008),
Prahara Cinta (2008)
 
Filmografi :
Bukan Sandiwara (1980),
Jangan Ambil Nyawaku (1981),
Lembah Duka (1981),
Budak Nafsu/Fatima (1983),
Ke Ujung Dunia (1983),
Selamat Tinggal Jeanette (1987),
Perasaan Perempuan (1990)


Titie Said
 
Bernama lengkap Titie Said Samadikun lahir di Bojonegoro, Jawa Timur, 11 Juli 1935. Berlatar belakang pendidikan Sarjana Muda Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1959). Menghabiskan sebagian masa kecilnya di kota Malang, Jawa Timur.  Gemar menulis sejak dibangku sekolah dasar. Ketika remaja ia telah menulis puisi dengan nama Titie Raya, tetapi kemudian menulis novel dan terkenal sebagai Titie Said. Hingga tahun 2008, ia telah menulis 25 novel.
Wartawati/kolumnis dan kritikus film ini, pada awalnya adalah Managing Editor pada Majalah Kartini (hingga tahun 1980), lalu menjadi pemimpin redaksi majalah Family. Karya novelnya yang diangkat ke layar lebar adalah Bukan Sandiwara (1980). Novelnya yang ketujuh, Perasaan Perempuan di layar lebarkan pada 1990. Beberapa novel karyanya, antara lain Jangan Ambil Nyawaku (1977), Reinkarnasi, Fatima, Ke Ujung Dunia, dan Prahara Cinta (2008). Sedangkan kumpulan cerita pendeknya adalah Perjuangan dan Hati Perempuan (1962).
Mantan anggota DPRD Bali juga dikenal sebagai seorang aktivis. Tercatat organisasi-organisasi yang pernah digelutinya antara lain; KOWANI, Kosgoro, Himpunan Pengarang Aksara, Wanita Penulis Indonesia dan PKK pusat. Pernah menjadi anggota Dewan Juri Kritik Film pada FFI 1984 dan anggota Dewan Juri Sinetron Cerita pada FSI 1997.
Ketua Badan Sensor Film Indonesia ini, sering diundang sebagai pembicara di seminar-seminar dalam dan luar negeri, terakhir di Perth, Australia. Menikah dengan H. Sadikun Sugihwaras (alm), dikaruniai dua putri dan tiga putra yang semuanya telah berumah tangga dan memberikannya 10 cucu. Mantan ketua Badan Sensor Film selama dua periode dan penulis yang konsisten memperjuangkan hak perempuan ini, wafat pada hari Senin, 24 Oktober 2011 di RS. Medistra Jakarta, sekitar pukul 18. 45 wib karena stroke.    
 (Dari Berbagai Sumber)
 
 
 

You may also like...

Leave a Reply