Trisno Sumardjo


Trisno Sumardjo
 
 
 
Pada zaman pendudukan Belanda. Sepasukan serdadu KNIL menyerbu sebuah kamar, dalam penggeledahan dari rumah ke rumah. Mereka menemukan seorang lelaki, dan memerintahkannya ikut ke markas. Pemimpin operasi itu, seorang perwira, menahan pasukannya. Ia mendekati meja, memungut sebuah buku dan membawa buku itu ke bawah terang lampu teplok. Setelah menyimak judulnya, perwira itu memandangi yang punya empunya rumah. “Tuan membaca ini?” tanyanya hampir tak percaya. Saya sedang menterjemahkannya jawab lelaki Jawa itu dalam bahasa Belanda yang fasih. Jangan tahan orang ini perintah sang perwira kepada anak buahnya, kita tak punya urusan dengan seorang penerjemah Shakespeare. Lelaki itu, Trisno Sumardjo, luput dari kemungkinan maut.
 
Trisno Sumardjo seorang penyair, penulis cerpen dan esai, pelukis, penerjemah yang paling banyak menyalin karya Shakespeare ke bahasa Indonesia. Melalui terjemahannya pula, pembaca Indonesia bisa menikmati Dokter Zhivago, karya Boris Pasternak. Lahir di Desa Tarik, Surabaya, anak ke-2 diantara 7 orang bersaudara itu diberi nama Sumardjo. Ayahnya Mohammad Asngari, guru pada zaman Belanda. Sumardjo terakhir bersekolah di AMS, Yogyakarta. Kecuali beberapa tahun menjadi pegawai kereta api di Madiun, pada masa kedudukan Jepang, hampir seluruh hidupnya diabadikan di dunia sastra dan seni. Dari Madiun, Soemardjo pindah ke Solo, menggabungkan diri dengan Seniman Indonesia Muda (SIM), sebuah perkumpulan pelukis.
 
Karya sastranya cenderung kepada renungan akan makna hidup dan fitrah manusia. Mungkin hal ini dipengaruhi oleh karya-karya Shakespeare yang sangat banyak dibacanya. Dalam sastra Indonesia, ia bukan seorang yang terlalu menonjol. Gaya bahasanya hampir-hampir datar, mendekati kelembutan seorang pengamat yang bersikap hati-hati. Pada tahun 1949 terbit bukunya yang pertama sebuah kumpulan sajak, “Pasang Surut”. Pindah dari Solo ke Jakarta, Sumardjo segera terlibat dengan berbagai kegiatan kebudayaan. Ia diangkat sebagai Sekretaris Lembaga Kebudayaan Indonesia (LKI), kemudian Sekretaris Badan Musyawarah Kebudayaan Nasonal (BMKN). Tahun 1969 ia diangkat sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang pertama. Jabatan ini dipegangnya sampai akhir hayat.
 
Pendiam, teguh dalam pendirian, dan ketekunannya bekerja sering merusakkan dirinya sendiri. Ia pernah lumpuh selama 3 bulan, agaknya karena terlalu banyak duduk. Ketika itu dokter mengatakan kakinya harus diamputasi. Tapi berkat kepercayaannya kepada Tuhan, dengan bantuan seorang kiai, ia sembuh. Namun pada hari minggu, 21 April 1969, ia meninggal dan di makamkan di Karet, Jakarta.
 
(Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1981-1982)
 

Nama :
Trisno Sumardjo
 
Lahir :
Tarik, Surabaya, Jawa Timur,
6 Desember 1916
 
Wafat :
Jakarta, 21 April 1969
 
Pendidikan :
HIS di Surabaya,
MULO di Surabaya,
AMS di Yoggyakarta (1937)
 
Karir :
Pegawai Kereta Api Di Madiun (zaman penjajahan Jepang),
Sekretaris LKI Di Jakarta (1950),
Sekretaris BMKN,
Ketua DKJ
 
Karya-Karyanya :
Pasang Surut (1949),
Kata Hati dan Perbuatan (1952),
Rumah Raya (1957),
Daun Kering (1962)

You may also like...

Leave a Reply