Trisutji Kamal

Nama :
Trisutji Djulianti Kamal
 
Lahir :
Jakarta, 28 Nopember 1936
 
Pendidikan :
SMA Methodist English School, Medan,
 Sumatera Utara
Conservatorio de Musica St Caecelia Roma, Italia
 
Karya-karya :
Lebih dari 130 piano solo,
10 musik ilustrasi film,
2 solo flute,
1 flute dengan piano,
3 solo biola alto,
1 biola alto dengan piano,
1 solo cello,
25 vokal dengan piano
(art song),
8 duo piano dengan perkusi dan vokal Bali,
6 ensemble,
4 trio dan kuartet,
4 paduan suara dan acapella,
3 paduan suara dengan simfoni orkestra,
5 karya simfoni,
1 piano konserto dengan orkestra,
1 piano orkestra dengan bumbung Bali, harpa, biola dan cello,
5 musik sendratari
 
Pencapaian :
Bintang Budaya Parama Dharma (2010),
Anugerah Yayasan Pendidikan Musik (2012)

Seniman Musik
Trisutji Kamal
 
 
Ia telah berhasil menciptakan lebih dari 200 karya komposisi untuk piano. Terusung dalam 10 compact disc berlabel Complete Piano Works Series. Seluruhnya dimainkan oleh pianis Ananda Sukarlan. CD terbarunya menjadi kado perayaan ulang tahunnya ke-70 tahun. Kendati album tersebut telah dirilis pada 5 April 2006 lalu di salah satu hotel di Jakarta.
 
Putri sulung tiga bersaudara ini, memiliki dua adik laki-laki yang memilih dunia bisnis. Ia, bak anak panah yang menembus ozon di blantika musik piano solo. Ayahnya, dokter Djulham Surjowidjojo, adalah pemain biola dan pelukis. Ibunya, BRA Nedima Kusmarkiah, cucu Paku Buwono X. Ia tumbuh di tengah keluarga Jawa yang kental. Tetapi tinggal di lingkungan budaya Melayu di Binjai Sumatera Utara.
 
 Memperoleh pendidikan formal pada Methodist English School di Medan. Hampir tiap hari tarik suara. Bahkan pada usianya yang 15 tahun, menciptakan komposisi pertamanya berjudul ‘Sungai’. Ia juga membuat komposisi untuk gereja bertajuk ‘Jubilate Deo’, lagu yang diciptakan untuk memenuhi tugas sekolah dari gurunya di Toronto, Kanada. Beberapa diantara lagu yang ia ciptakan ada yang terkesan kena imbas musik Tor Tor Batak. Tetapi bukan kesengajaan semata. Wajar sajalah karena sejak remaja komponis kelahiran Jakarta ini seringkali menyaksikan dan menikmati lagu-lagu daerah Batak, Jawa, Sunda dan lain-lain.
 
Ia-lah yang membuat komposisi ‘Kepergian’ yang sering dimainkan sebagai lagu wajib di Yayasan Pendidikan Musik (YPM), tempat dimana pianis Ananda Sukarlan, belajar musik khususnya piano.  Komposisi ‘Kepergian’ menurutnya, sederhana saja. Tapi anak sekarang sering tak bisa memainkan lagu tersebut. Padahal idenya sangat sederhana. Yaitu kepergian kapal yang meninggalkan pelabuhan pelan-pelan dan menjauh.  Menurutnya, anak-anak sekarang mana pernah melihat kapal berangkat. Jadi mereka susah memahami situasi komposisi.
 
Komponis kondang yang hampir selama 50 tahun menekuni blantika musik ini menikah dengan arsitek Ir. AB Kamal. Dikaruniai tiga orang anak, Mahendra, Mahendrani dan Paramagita. Dua diantara anaknya, yaitu Mahendrani dan Paramagita mengikuti jejak ibunya sebagai seniman musik. Tetapi mereka mengambil jalur musik pop. Dan sering tampil membawakan keahliannya sebagai backing voca’ untuk album penyanyi Indonesia. Sering pula menjadi backing vocal pentas musik Rocker Ahmad Albar, Inul Daratista, dan lain-lain, sedangkan Gita menekuni gitar dan musik komputer. Meraka pernah melawat ke Yunani bersama ibunya, membawakan karyanya dan sukses.  
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...