Tulus Warsito


Pelukis
Tulus Warsito
 
 
Tulus Warsito tumbuh dan muncul di tengah gelombang pemberontakan kreatif yang dilakukan oleh orang-orang muda (mahasiswa seni rupa) pada tahun 1970-an menjelang lahirnya Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia. Kondisi perlawanan” itulah yang ada di sekitar proses kreatif Tulus Warsito. Artinya, apa yang ia lakukan adalah usahanya melawan kemapanan dan kesumpegan nilai, kemudian mencari alternatif bahasa ungkap atau bahasa ekspresi yang berbeda.
 
Meskipun tak dapat diingkari, di samping mencari alternatif baru bukanlah sesuatu yang gampang, perlawanan dalam tataran dunia gagasan seringkali lebih dominan. Betapa ia berusaha memanjakan mata dan mengumbar gagasan untuk dapat seluas-luasnya melihat berbagai kemungkinan berekspresi dan seliar-liarnya membebaskan gagasan. Lantas berbagai bidang ia coba, melukis dengan cat dan kanvas, melukis batik, juga membuat patung. Ia berkeyakinan bahwa seni rupa sesungguhnya memiliki dimensi tak terbatas.
 


Jendela Kaca, 100 x 100 cm,
akrilik diatas kanvas (1996)

Rupanya ia dengan kesadaran penuh sedang bermain di tengah ruang masa kini tentang suatu ruang masa depan. Alternatif yang tersusun dalam dunia gagasan tidak serta-merta dapat diwujudkan ke dalam dunia bentuk. Setidak-tidaknya Tulus terbentur dengan kata hatinya sendiri, bahwa tak semuanya dapat diwujudkan dan tak semuanya mampu membangun komunikasi dengan orang lain atau publik. Benturan itu kini justru dipelihara oleh Tulus. Untuk kepentingannya itu, ia tidak menyuruk dan terperangkap ke dalam idiom-idiom lokal, seperti motif-motif atau bentuk tradisional, tetapi sebaliknya justru menggunakan idiom-idiom yang biasa, sederhana, dan universal; garis, warna, bidang, dengan ruang sebagai target pencapaiannya.

 
Persilangan garis dan warna, tumpang-tindihnya antar bidang, kalaupun saling bertabrakan, adalah dalam rangka membangun harmoni. Tulus tak menhadirkan benturan yang tragis, seperti munculnya garis, warna, bidang, atau benda-benda. Benda-benda berupa garis warna-warni itu hadir dengan ringan dan melayang-layang, tanpa keinginan menguasai.
 
Ia juga mampu menciptakan ritme dengan progres-progres yang tertata. Ia membangun ruang tidak sekadar memberikan tapal batas, melainkan menempatkan benda di kekosongan. Diperlukan aksi untuk membuktikan bahwa ruang itu ada. Selanjutnya memberikan makna agar keberadaannya tak sia-sia.
 
(Pameran Tunggal Tulus Warsito) 

Nama :
Tulus Warsito
 
Lahir :
Sragen, Surakarta,
Jawa Tengah,1953
 
Pendidikan :
STSRI / ASRI, Yogyakarta (1972),
S2 Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (1995)
 
Profesi :
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
 
Penghargaan :
One of The Best Four, University of Oregon Museum of Art Competition, Eugene, Oregon, USA (1975),
Golden Canting Award, Taman Budaya Yogyakarta (1990),
One of The Best Ten of YSRI Philip Morris Art Competition, Jakarta (1996)

You may also like...

Leave a Reply