Tuti Indra Malaon

Nama :
Tuti Indra Malaon
 
Lahir :
1 Desember 1939
 
Wafat :
20 September 1989
 
Pendidikan :
SMA Budi Utomo Jakarta,
Fakultas Sastra UI.
 
Penghargaan :
Piala Citra FFI 1986
dalam Film Ibunda,
Piala Citra FFI 1989 dalam Film Pacar Ketinggalan Kereta,
Lifetime Achievement award dari FFI 2010
 
Karier :
Dosen Fakultas Sastra UI,
Anggota MPR-RI,
Wartawan majalah Zaman.
 
Filmografi :
Wajah Seorang Lelaki (1971),
Kawin Lari (1971),
Perkawinan Semusim (1975),
Neraca Kasih (1982),
Ibunda (1986),
Cintaku di Rumah Susun (1986),
Pacar Ketinggalan Kereta (1989)
 


Aktris Teater
Tuti Indra Malaon
 
 
 
Tuti Indra Malaon bukanlah aktris biasa, ia adalah cendekia yang luas pengetahuan dan wawasan budayanya yang terlatih menggunakan fikiran-fikirannya. Begitu juga dalam dunia film dia mampu mencerna dengan seni perannya yang istimewa pula. Tuti mulai menginjakkan kaki dalam dunia seni peran di lingkungan Teater Populer pimpinan Teguh Karya. Dari pengalamannya ini Tuti mampu mengatasi dua bidang seni, tapi masuk kategori yang sama yakni akting. Tuti mampu berperan dalam Teater yang titik pandangnya lebih luas dan lebih lebar pada penonton. Ia pun mampu berperan pada titik pandang yang lebih sempit, yakni kamera pada setiap pembuatan film. Seperti diketahui bahwa pembuatan film lebih sulit, karena alur ceritanya harus dijalani secara terputus-putus, tidak seperti di teater yang perannya dijalani berkesinambungan sejak awal hingga akhir. Tapi semuanya dijalani Tuti dengan penuh gemilang, dia mampu mengatasi konsistensi arus perasaan dan emosinya dalam diskontinuitas permainannya dari kebutuhan bidikan kamera.
 
Tuti Indra Malaon adalah lambang atau barometer kualitas aktris film dan teater Indonesia. Sejak menggeluti dunia film sekitar 1975, Tuti tetap konsekuen dan konsisten memegang teguh sikap sebagai artis yang tidak terkena polusi paha dan dada atau gampangan. Hal itu sangat berbeda dengan kebanyakan artis film yang mengejar sesuatu yang tidak jelas atau hanya tergiur popularitas dan uang. Ia banyak memberi wawasan dan input bagi kreativitas kesenian. Tuti pun tak pernah bosan memberi peringatan kepada artis lain untuk sungguh-sungguh menggeluti dunianya. Yang juga menarik dari pribadi Tuti, ia tak pernah mau mengikuti sesuatu yang ia tak mengerti atau sesuai dengan jalan pikirannya. Ia terbiasa melakukan sesuatu dengan didahului perencanaan yang matang.
 
Ada ciri khas Tuti yang juga menarik, yaitu sifat manja dan cerewet. Tetapi kemanjaan dan kecerewetan itu, diatasi oleh aspek lain yang sangat menonjol seperti kecerdasan, cantik, istri dan ibu yang baik, rendah hati, jurnalis jempolan bahkan sahabat yang baik pula. Tuti adalah manusia yang tak mau menerima sesuatu begitu saja, ia penuh dengan pertanyaan. Tuti mulai menjejakan kakinya di dunia seni peran dalam Dia tampil sebagai aktris pentas, beberapa waktu kemudian Teguh Karya memuat film, Tuti ikut sebagai pemain utamanya. Dia pun tampil sebagai aktris film, akting diatas panggung dan akting di depan kamera tidaklah sama. lingkungan Teater Populer yang di pimpin oleh Teguh Karya’
 
Namun Tuti yang berkecimpung baik di dunia pentas, maupun di dunia film, sebagai aktris mampu melakukan semua itu, betapapun ada perbedaan antara akting di panggung dengan akting di film. Tuti bukan saja mampu melakukannya, melainkan juga pandai mempergunakan karakteristik khas masing-masing wahana tadi untuk kesempurnaan aktingnya. Inilah yang menandakan keistimewaaannya sebagai artis.
 
Tuti menutup lembaran hidupnya pada 20 September 1989 karena penyakit lever yang dideritanya sejak tahun 1985. Suatu waktu Tuti terpikat dengan sebuah naskah drama modern pertama di Indonesia yang dicetak 1902, setelah latihan beberapa bulan drama itu gagal dipentaskan karena Indra Malaon, suaminya meninggal dunia. Namun beberapa tahun kemudian Tuti tetap bersemangat mementaskan  drama tentang korupsi itu. Rupanya hasrat Tuti tetap sebagai hasrat karena Ia keburu meninggal dunia.
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...

Leave a Reply