Ugo Untoro


Ugo Untoro
 
 
 
 
Lahir di Purbalingga, Jawa Tengah, 28 Juni 1970. Pendidikan seninya di tempuh di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta (1988-1996). Dikenal sebagai seniman yang kerap mengeksploitasi gagasan dan visual seni rupa kontemporer. Ia tak larut dalam jebakan berbagai ‘isme’ atau gaya, apalagi berkutat pada satu pendekatan visual demi mempertahankan cap identitas pribadi. Baginya, kualitas karya seni tak terletak pada media, teknik atau bahan, melainkan bertumpu pada kekuatan gagasan.
 
Perjalanan kreatif Ugo tercermin dalam beberapa pameran, baik pameran tunggal maupun kolektif yang diadakannya di dalam negeri maupun di luar negeri. Pameran di Bentara Budaya dan Galeri Cemeti, tahun 1995 dan 1996, contohnya, mengungkap corat-coret atau graffiti di jalanan secara unik. Pada pameran Buku dan Boneka di Rankuti Gallery, Surabaya. tahun 2001, ia membuat boneka dan catatan harian untuk anaknya yang menderita sindroma down. Ia melawan dominasi sejarah orang besar dengan merangkai tokoh wayang rakyat jelata yang tak dikenal dalam pameran Goro-Goro di Nadi Gallery, Jakarta (2002).
 


My Bare Room, 253 cm x 320 cm,
cat minyak

Kerap mengejutkan dengan loncatan eksperimen. Ia menulis Cerpen Pendek Sekali (cerpenli) yang terdiri atas 3-4 paragraf. Temanya bermacam-macam, termasuk pengalaman pribadi. “Saya suka berbagi cerita, tetapi tidak tahan menulis panjang. Kenapa tidak membuat cerpen yang pendek sekali?” ujarnya. Kumpulan cerpenli semacam itu dipajang Ugo dalam pameran Short-Short Stories di Kuala Lumpur, Malaysia dan Singapura.
 
Tahun 2007, sekali lagi, ia membuat kejutan dalam pamerannya bertajuk Poem of Blood yang diadakannya di Galeri Nasional, Jakarta. Di mana kali ini ia memamerkan berbagai karya seni rupa yang meyodorkan dunia kuda. Poem of Blood menunjukan totalitas berkeseniannya. Ugo yang memelihara kuda sejak tahun 2003, musti menghadapi kesedihan akibat kehilangan kuda kesayangannya yang mati. Saat mencari kuda baru di Plered, Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, ia justru menemukan tempat penjagalan kuda yang tragis. Ia lantas melakukan studi mendalam tentang sejarah kuda. Ia bermain dengan pernak-pernik kuda, mulai dari kulit, tulang, cap besi, arena pacuan, jerami, arang, suara ringkik kuda, penjagalan, sampai roda gerobak. Material itu diolah menjadi lukisan, fotografi, instalasi, video, animasi, atau ditata sebagai obyek yang utuh.
 

 
Tak terjebak dalam kegenitan estetis, semua material yang berhubungan dengan kuda justru hadir sebagai saksi, mengisahkan kejujuran yang mengagetkan. Pada titik ini, Ugo piawai meramu bahasa visual yang cukup segar dan meyakinkan. Totalitas, kekuatan gagasan, dan daya ungkap dalam karya-karya tersebut menempatkannya sebagai salah satu seniman yang menonjol di Indonesia.
 
Tercatat ia pernah meraih beberapa penghargaan, diantaranya Philip Morris Awards (1994), The Judges Attention (1994), The Best 5 Finalis, Philip Morris Awards, (1998), Philip Morris Competition di Hanoi, Vietnam (1998). Menetap di Desa Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Bantul, Yogyakarta, bersama istri, Trisni Rahayu dan anaknya Tanah Liat. Keluarganya sampai saat ini, masih memelihara beberapa kuda yang kerap menjadi inspirasi seni.           
 
(Dari Berbagai Sumber)   

Nama :
Ugo Untoro
 
Lahir :
Purbalingga, Jawa Tengah,
28 Juni 1970
 
Pendidikan :
Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta (1988-1996)
 
Penghargaan :
Philip Morris Awards (1994),
The Judges Attention (1994),
The Best 5 Philip Morris Awards (1998),
Philip Morris Competition di Hanoi, Vietnam (1998)
 

You may also like...

Leave a Reply