Ully Sigar Rusady

Nama :
Rulany Indra Gartika Wirahaditenaya
 
Lahir :
Garut, Jawa Barat,
4 Januari 1952
 
Pendidikan Musik :
Yayasan Musik Indonesia
 
Pencapaian :
Juara kedua Festival Gitar Tunggal jenis Pop se-Indonesia di Bandung,
 The Best Dresser’s untuk kostum Dayak yang dipakainya dalam final Festival Lagu Populer Tingkat Nasional,
Kolaborasinya dengan Kelompok Nyanyian Alam membawakan lagu Musim Tanam memenangkan dua kategori penghargaan, Sebagai The Best Performance dan Audience Favorites melalui voting penonton dan televisi dunia di ajang World Music Oriental Festival  di Sarajevo, Bosnia Harzegovina (2005),
Global 500 Award dari PBB, United Nations Environment Program  (1987),
 International Woman of The Year dari International Biographical Centre of Cambridge England (1993),
Satya Lencana Pembangunan dari Presiden RI (1996),
Satya Nugraha dari Menteri Kehutanan Republik Indonesia (2000),
Indonesia Award dari Menteri Koordinator Ke-sejahteraan Rakyat (1997),
Piagam Penganugerahan 1000 Wajah Tokoh Wanita di Bidang Lingkungan Hidup dari Menteri Negara Peranan Wanita (1999),
ASEAN Development Citra Award (1999-2020),
Bintang Jasa Pratama dari Presiden Republik Indonesia (2000),
Penghargaan KALPATARU dari Menteri Negara Lingkungan Hidup (2001),
 Penghargaan Peringatan 25 Tahun Kiprah di Bidang Lingkungan Hidup dan Karya dari Bapedalda Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta (2003)
Penghargaan Relawan Tsunami Award dari Masyarakat Aceh
 
Album :
Rimba Gelap
(Irama Mas, 1978),
Rimba Gelap versi II
(Irama Mas/ Virgo Ramayana),
Pelita Dalam Gulita
 (Jackson Record, 1981),
Pengakuan
(Jackson Record, 1983), Senandung Kabut Biru (Billboard, 1986),
Titian Karier
(Jackson/Metrotama),
 Satulah Indonesia, Duet dengan Paramitha Rusady
(Blackboard),
Air Sumber Kehidupan, Bersama Kelompok  Nyanyian Alam
(USR Associates, 2003)

Seniman Musik
Ully Sigar Rusady
 
 
Dikenal juga sebagai aktivis lingkungan hidup. Lahir di Garut, Jawa Barat, 4 Januari 1952. Di usianya yang masih belia, ia telah mendapat pendidikan gitar dari ayahnya semasa tinggal di Bandung, Jawa Barat. Ketika beranjak remaja, ia pindah ke Makassar, Sulawesi Selatan, mengikuti sang ayah yang seorang tentara. Di Makassar, sempat membentuk grup band wanita yang diberi nama Puspa Nita dan Shinta Eka Paksi.
 
Tahun 1975, pindah ke Jakarta. Memperdalam musik di Yayasan Musik Indonesia dan belajar pada komponis kontemporer Indonesia, Slamet Abdul Sjukur. Tak hanya itu, ia juga terus membuktikan kemampuannya dalam bermusik dengan mengikuti sejumlah festival di dalam negeri seperti, Festival Lagu Populer Tingkat Nasional (1978 dan 1981), serta Lomba Karya Cipta Lagu ASEAN Populer Song Festival (1982 dan 1983). Juga tampil pada ajang World Music Oriental Festival di Sarajevo, Bosnia-Harzegovina (2005).
 
Kakak dari aktris Paramitha Rusady ini, di tahun 1978, merilis album pertamanya ‘Rimba Gelap’ (Irama Mas). Selanjutnya menyusul album-albumnya yang lain yakni ‘Rimba Gelap versi II’ (Irama Mas/ Virgo Ramayana), ‘Pelita Dalam Gulita’ (Jackson Record, 1981), ‘Pengakuan’ (Jackson Record, 1983), ‘Senandung Kabut Biru’ (Billboard, 1986), ‘Titian Karier’ (Jackson/Metrotama), ‘Satulah Indonesia’ duet bersama Paramitha Rusady (Blackboard), ‘Air Sumber Kehidupan’ bersama Keompok Nyanyian Alam (USR Associates, 2003). Ia juga tercatat menciptakan sejumlah lagu, lagu-lagu ciptaannya banyak dilantunkan oleh penyanyi lain, seperti Nur Afni Octavia, Anggun C. Sasmi, Ita Purnamasari, Bangkit Sanjaya, SAS, Arthur Kaunang, dan Sonatha Tanjung. Turut juga mengibarkan penyanyi Maya Rumantir dan Nicky Astria.
 
Aktif diberbagai organisasi antara lain, mendirikan dan memimbina Sekolah Musik Vidi Vici (1979), pendiri dan pimpinan yayasan Garuda Nusantara (1985), salah satu pendiri dan ketua umum Kompensasi (Komunitas Pencinta Sansevieria Indonesia, 2009), konsultan UNEP & duta keliling UNEP (1986), Dewan Pertimbangan Penghargaan SATYANUGRAHA, Dewan Pertimbangan Penghargaan Kehati Award, Dewan Pertimbangan Penghargaan KALPATARU, Dewan Sumber Daya Air Nasional, dan lain sebagainya.
 
Banyak prestasi dibidang musik yang ia raih, diantaranya menjadi juara kedua Festival Gitar Tunggal jenis Pop se-Indonesia di Bandung. Dua dari sepuluh lagu ciptaannya lolos dalam final Festival Lagu Populer Tingkat Nasional. Lagu ciptaannya ‘Harmonie Kehidupan’ yang dinyanyikan Dhenok Wahyudi menjadi duta Indonesia ke Festival Pop Song Tingkat International di Budokan Hall, Tokyo, Jepang (1978). Dinobatkan sebagai The Best Dresser’s untuk kostum Dayak yang dipakainya dengan ikat kepala terselip setangkai padi yang menguning saat tampil mendampingi Dhenok Wahyudi yang menyanyikan lagunya, ‘Harmonie Kehidupan’. Kolaborasinya dengan Kelompok Nyanyian Alam membawakan lagu Musim Tanam, berhasil memenangkan dua kategori penghargaan, sebagai The Best Performance dan Audience Favorites melalui voting penonton dan televisi dunia di ajang World Music Oriental Festival di Sarajevo, Bosnia-Harzegovina (2005).
 
Sebagai aktivis lingkungan hidup, beberapa kali ia meraih penghargaan antara lain, Global 500 Award dari PBB, United Nations Environment Program (1987), International Woman of The Year dari International Biographical Centre of Cambridge England (1993), Satya Lencana Pembangunan dari Presiden RI (1996), Satya Nugraha dari Menteri Kehutanan Republik Indonesia (2000), Indonesia Award dari Menteri Koordinator Ke-sejahteraan Rakyat (1997), Piagam Penganugerahan 1000 Wajah Tokoh Wanita di Bidang Lingkungan Hidup dari Menteri Negara Peranan Wanita (1999), Asean Development Citra Award (1999-2000), Bintang Jasa Pratama dari Presiden Republik Indonesia (2000), Penghargaan KALPATARU dari Menteri Negara Lingkungan Hidup (2001), Penghargaan Peringatan 25 Tahun Kiprah di Bidang Lingkungan Hidup dan Karya dari Bapedalda Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta (2003), dan Penghargaan Relawan Tsunami Award  dari Masyarakat Aceh.
 
Kegiatan yang pernah ia lakukan baik kapasitasnya sebagai musisi maupun sebagai aktivis lingkungan hidup antara lain Membuat Hutan Pendidikan ± 20 Ha (Hutan Rumah Kita) di Cihandam, Lebak, Rangkas (1990), mengikuti gerakan Pandu Lingkungan Indonesia (1996), mengikuti Program Terapi Alam, Konservasi Air Panas dan Dingin + 30 Ha di gunung Pancar, membuat/melaksanakan Program Konservasi Alam (Tanah dan Air) Sindang Kahuripan dan Tanaman Obat, membentuk Badan DIKLATSAR PLI (Pandu Lingkungan Hidup) Indonesia (2002), menjadi Icon Lingkungan Hidup Kab. Gianyar, Bali (2007), melaksanakan program lifeskill Budidaya Tanaman Obat dan Pemberantasan Buta Aksara (2004), membuat Posko Relawan Merah Putih Bencana Alam Tsunami, di Jakarta, Medan Banda Aceh (2004), membuat Lagu-lagu Persatuan : Merah Putih Sepanjang Masa Satulah Indonesia (2004), dan lain-lain.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 
 

You may also like...

Leave a Reply