Umar Gani

Nama :
Umar Gani
 
Lahir :
Ende, Flores,
Nusa Tenggara Timur, 1917
 
Pendidikan :
Sekolah Rakyat
 
 


Umar Gani
 
 
 
Lahir di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, tahun 1917. Pendidikan terakhirnya hanya sampai Sekolah Rakyat. Ia merupakan anggota Grup Tonil Kelimoetoe yang masih tersisa. Grup Tonil Kelimoetoe itu sendiri merupakan sebuah Grup Tonil bentukan Bung Karno saat ia dalam masa pembuangan politik di Ende, Nusa Tenggara Timur, sepanjang tahun 1934-1938.  Waktu Bung Karno tiba di Ende, Umar masih berusia 17 tahun. Grup tonil yang di bentuk sebagai strategi untuk menggelorakan perjuangan revolusi ini mulai pentas tahun 1936. Grup Tonil Kelimoetoe beranggotakan 47 orang, biasa pentas di gedung Paroki Imakulata, Ende
 
Naskah cerita yang di pentaskan oleh Grup Tonil Kelimoetoe di buat oleh Bung Karno sendiri yang sekaligus merangkap sebagai sutradara. Bahkan, yang membuat layar atau dekorasi panggung, termasuk kostum lakon sandiwara, juga Bung Karno dibantu istrinya, Inggit Garnasih, serta anaknya, Ratna Djoeami. Bung Karno tercatat membuat 12 naskah tonil. Semuanya bernapaskan revolusi menuju kemerdekaan Indonesia. Judul naskah itu antara lain Rahasia Kelimoetoe, Rendo, Jula Gubi, KutKutbi, Anak Haram Jadah, Maha Iblis, Aero Dinamit, Dr Setan, Nggera Ende, Amuk atau Nggera Ende II, Sanghai Rumba, dan Indonesia’ 45. Umar ikut bermain dalam sandiwara berjudul Rahasia Kelimoetoe dan Rendo.
 
Menjelang pementasan dirinya bersama dengan anggota Grup Tonil Kelimoetoe yang lain biasanya melakukan proses latihan usampai 40 hari, bahkan lebih untuk satu lakon. Latihan biasanya dilakukan malam hari di rumah pengasingan Bung Karno, sebuah rumah milik Abdullah Ambuwaru di Kampung Ambugaga, Kelurahan Kota Ratu, yang belakangan dijadikan sebagai Museum Bung Karno.
 
Pada hari minggu setelah selesai latihan atau pementasan dirinya bersama dengan anggota Grup Tonil Kelimoetoe yang lain juga bersama anggota dari kelompok pengajian kerap di ajak Bung Karno bersama keluarga untuk piknik keluar kota. Pada saat tamasya tersebut biasanya digunakan pula oleh Bung Karno untuk memberikan pendidikan politik bagi masyarakat Ende yang pada waktu itu umumnya berpendidikan rendah, sebagai nelayan dan petani kelapa.
 
Ikut menjadi pelaku sejarah bersama Bung Karno dalam masa pembuangan di Ende menjadi hal yang paling mengesankan dan membanggakan bagi dirinya. Ia pun tak jemu-jemu menceritakan kepada anak cucunya, terutama nilai-nilai yang diwariskan Sang Proklamator. Meski usia Umar sudah sangat lanjut, semangatnya tak pernah surut. Kini Umar Gani yang menikah dengan Siti Hadijah (alm) dan di karuniai 5 anak dan 23 cucu ini tinggal menetap di di rumahnya di Kelurahan Paupanda, Kecamatan Ende Selatan, Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur.
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...