Utuy Tatang Sontany

Nama :
Utuy Tatang Sontany
 
Lahir :
Cibeber, Cianjur, Jawa Barat,
13 Mei 1920
 
Wafat :
Moskow, Rusia,
 17 September 1979
 
Profesi :
Pengarang drama,
Pengajar pada Institut Bahasa-Bahasa Asia dan Afrika di Moskow, Uni Soviet
 
Karya-Karya :
Orang-Orang Sial (1951), cerpen,
Suling (1948), drama,
Bunga Rumah Makan (1948), drama,
Awal dan Mira (1952), drama,
Manusia Iseng (1953), drama,
Sangkuriang-Dayang Sumbi (1953), drama,
Sayang Ada Orang Lain (1954), drama,
Di Langit Ada Bintang (1955), drama,
Selamat Jalan Anak Kufur (1956), drama,
Di Muka Kaca (1957), drama,
Si Kabayan (1959), drama,
Manusia Kota (1962), drama,
Si Sapar (1964), drama,
Si Kampeng (1964), drama,
Kolot dan Kolotok (1979), drama
 


Utuy Tatang Sontany
 
 
Senin 17 September 1979, salah seorang pengarang Indonesia terkemuka wafat di Moskow, Uni Soviet (Rusia) akibat serangan jantung. Menurut Ajip Rosidi dalam bukunya Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia, Utuy adalah salah seorang pengarang Indonesia yang penting, termasuk angkatan’’45 dan namanya terangkat lewat roman Tambera, tahun 1949, aslinya Sunda 1943 yang berlatar belakang keadaan Banda abad ke-17. Sebelum tahun 1965, Utuy pernah ke Peking (Beijing) untuk berobat. Kemudian dari sana ia pergi ke Uni Soviet serta mengajar pada Institut Bahasa-Bahasa Timur di Moskow.
 
Menurut Ajip pada awal 1960-an, Utuy masuk Lekra/PKI. Tindakan ini oleh Ajip Rosidi disebut sebagai ‘belokan tajam’’ dalam perjalanan hidup Utuy. Sebab, sebelum itu, dalam drama-dramanya ia sangat menonjolkan sifat individualistis, yang tidak sesuai dengan paham Lekra. Dramanya, Sayang Ada Orang Lain, misalnya menampilkan tragedi yang terjadi karena adanya campur tangan orang lain kedalam kehidupan rumah tangga seseorang. Puncak individualisme dalam drama Utyu, menurut Ajip, terdapat dalam Sangkuriang. Dalam drama yang diubah menjadi sebuah Libretto ini, mitologi Sunda satu ini mendapat sorotan baru yang indiviualistis. Tentang motivasi Utuy masuk Lekra, Ajip mengatakan bahwa kesulitan ekonomilah yang mendorong ia mengambil langkah tersebut.
 
Kritikus sastra H.B. Jassin memberikan tempat cukup luas bagi Utuy dalam bukunya Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai. “Dalam jumlah karangan, seolah-olah Sontani telah banyak sekali menghadiahi kita drama-drama, tapi kuantitas hasil tidak berarti kuantitas isi. Persoalan-persoalan yang dikemukakannya dalam sekian banyak drama itu kebanyakan sama aja dan saya mendapat kesan bahwa beberapa masih berupa latihan”, tulis Jassin.
 
Utuy mungkin merupakan pengarang yang paling mahir diantara pengarang-pengarang seangkatannya. Ia mempunyai perasaan yang sangat tajam terhadap proporsi dan dia berhasil dalam mencekam perhatian lewat variasi dan kontras, dan terutama drama-dramanya seringkali menjulang berkat komposisinya yang terampil. Bahasanya hidup dan menarik. Untuk Sontani humor dan ironi merupakan senjata yang kuat. Almarhum meninggalkan seorang istri dan 5 orang anak.
 
 
(Apa & Siapa Orang Sejumlah Orang Indonesia 1981-1982)

You may also like...

Leave a Reply