Veven Sp. Wardhana

Nama :
Effendy Agus Hariyanto
 
Lahir :
Turen, Malang, Jawa Timur,
21 Januari 1959
 
Wafat :
Surabaya, Jawa Timur,
18 Mei 2013
 
Pendidikan :
Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, Yogakarta (1984)
 
Karier :
Redaktur tamu rubrik kebudayaan di Harian Berita Nasional, Yogyakarta
(1983-1984),
Redaktur Majalah Hai
(1986-1987),
Dewan redaksi Tabloid Monitor (1987-1990),
Wakil pemimpin
redaksi tabloid Bintang (Oktober 1990),
Redaktur pelaksanaan tabloid Citra (1991-1995),
Redaktur senior majalah Tiara (1995-1999),
Redaktur di Gramedia-Majalah Online (1999- 2003) Redaktur di PT Prima Media Pustaka (2003),
Senior Advisor untuk program Good Governance in Population Administration
(GG PAS),
Reconstruction and Development of Population Administration in Nanggroe Aceh Darussalam (PAS NAD) dan di Strengthening Women’s civil Rights (SWR)
 
Karya :
Budaya Massa dan Pergeseran Masyarakat
(Yayasan Bentang Budaya, 1995),
Kapitalisme Televisi dan Strategi Budaya Massa (Pustaka Pelajar, 1997),
Televisi dan Prasangka Budaya Massa (Media Lintas Inti Nusantara dan Institut Studi Arus Informasi, 2001),
Dari Barbar sampai Timor Timur: Mengeja Budaya Massa (Galang Press, 2002),
Centeng: Matahari Malam Hari (Gramedia Widiasarna Indonesia, 2002),
Panggil Aku: Pheng Hwa (Kepustakaan Populer Gramedia, 2002),
Stamboel Selebritas (Kepustakaan Populer Gramedia, 2004),
Memburumu, Waktu Demi Waktu (cerpen, 2004)
12:00am (Gagas Media, 2005),
Dari Mana Datangnya Mata (Gramedia Pustaka Utama, 2004),
Perempuan yang Gagal Jadi Kelelawar (Kepustakaan Populer Gramedia, 2013),
Budaya Massa, Agama, Wanita (Kepustakaan Populer Gramedia, 2013),
 
Buku Yang disunting:
Komunikasi Cinta: Menembus G-Spot Konsumen Indonesia (Djito Kasilo, 2008),
Presiden Flamboyan:
SBY yang Saya Kenal
(Yahya Ombara, 2007),
Apa Siapa Alumni ITB:
ITB di Pentas Nasional (1998),
Menolak Soeharto: Catatan Sebuah Angket (1997)


Penulis
Veven Sp. Wardhana
 
 
 
 
Bernama asli Effendy Agus Hariyanto. lahir di Turen, Malang, Jawa Timur, 21 Januari 1959. Menyelesaikan pendidikan di Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, Yogakarta (1984). Mengawali karier sebagai wartawan, antara lain pernah menjadi redaktur tamu rubrik kebudayaan di Harian Berita Nasional, Yogyakarta (1983-1984), redaktur Majalah Hai (1986-1987), dewan redaksi Tabloid Monitor (1987-1990), wakil pemimpin redaksi tabloid Bintang (Oktober 1990), redaktur pelaksanaan tabloid Citra (1991-1995), redaktur senior majalah Tiara (1995-1999), redaktur di Gramedia-Majalah Online (1999- 2003) dan redaktur di PT Prima Media Pustaka (sejak Januari 2003).
 
Selain itu, tahun 1996 hingga 1997, ia menjadi editor untuk Tempo Interaktif, situs yang dibuat setelah Majalah Tempo dibreidel. Dalam penerbitan awal Tempo Interaktif, bersama Toriq Hadad dan Wahyu Muryadi ia menjadi penyunting naskah berita yang ditulis para wartawan Tempo Interaktif.  Kemampuannya sebagi penulis dan sastrawan memberikan sentuhan pada setiap tulisan yang disuntingnya.
 
Pernah bekerja di Kelompok Kompas-Gramedia, Jakarta, pernah pula menjadi koordinator penulisan mengenai pengalaman empirik sejumlah lembaga dalam menangani kasus-kasus korupsi, yang kemudian dibukukan dalam Melawan Korupsi: Dari Aceh Sampai Papua (Partnership for Governance Reform in Indonesia, 2007), yang juga terbit dalam bahasa Inggris: Fighting Corruption from Aceh to Papua : 10 Stories on Combating Corruption in Indonesia. Sebagai penulis, ia telah banyak membuat karya tulis. Beberapa cerita pendeknya tercatat beberapa kali masuk buku tahunan Cerpen Terbaik Kompas. Bahkan salah satu cerpen karyanya ‘Memburumu, Waktu Demi Waktu’ diterbitkan pula dalam bahasa Korea, Sinsege Husondeol-i boneon danpyunsoseol seonjib (editor/penerjemah: Prof. Chung Young-Rim, penerbit Golden Bough, Seoul, 2004).
 
Beberapa buah buku yang telah di terbitkan juga terlahir dari tangannya, antara lain: ‘Centeng: Matahari Malam Hari’ (Gramedia Widiasarna Indonesia, 2002), ‘Panggil Aku: Pheng Hwa’ (Kepustakaan Populer Gramedia, 2002), ‘Stamboel Selebritas’ (Kepustakaan Populer Gramedia, 2004), ‘Dari Mana Datangnya Mata’ (Gramedia Pustaka Utama, 2004), ‘Perempuan yang Gagal Jadi Kelelawar’ (Kepustakaan Populer Gramedia, 2013) dan ‘Budaya Massa, Agama, Wanita’ (Kepustakaan Populer Gramedia, 2013). Selain beberapa sepilihan esai yang pernah ia terbitkan sebelumnya yakni: ‘Budaya Massa dan Pergeseran Masyarakat’ (Yayasan Bentang Budaya, 1995), ‘Kapitalisme Televisi dan Strategi Budaya Massa’ (Pustaka Pelajar, 1997), ‘Televisi dan Prasangka Budaya Massa’ (Media Lintas Inti Nusantara dan Institut Studi Arus Informasi, 2001), ‘Dari Barbar sampai Timor Timur: Mengeja Budaya Massa’ (Galang Press, 2002).
 
Tak hanya itu, ia juga menulis untuk tayangan televisi, antara lain: skenario sinetron ‘Sang Pengibar, Sang Pengobar’ (TVRI, 1997), miniseri ‘Nyai Dessy, Nyai Imah’ (TVRI, 1999), naskah ‘Lintasan Sinema Indonesia’ (TVRI, 1997-2000), ‘RCTI-RCTI’ (RCTI, 1996-1998), ‘Puan’ (TVRI, 2003-2004). Ia juga terlibat sebagai creative advisory dalam produksi film animasi Hilang Identitas di Metropolitan (2010), yang diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, di antaranya: Inggris, Jerman, Prancis.
Selebihnya, ia menjadi penyunting berbagai buku, di antaranya: Komunikasi Cinta: Menembus G-Spot Konsumen Indonesia (Djito Kasilo, 2008), Presiden Flamboyan: SBY yang Saya Kenal (Yahya Ombara, 2007), Apa Siapa Alumni ITB: ITB di Pentas Nasional (1998), dan Menolak Soeharto: Catatan Sebuah Angket (1997). Juga menjadi penulis naskah dan supervisor utuk beberapa film dokumenter mengenai pelayanan publik, di samping menulis novel adaptasi film 12:00AM (2005) dan menjadi bagian dari tim penulisan buku 100 Hari Kabinet Indonesia Bersatu (2005).
 
Di luar dunia kepenulisan, ia juga tercatat aktif di beberapa organisasi yakni, sebagai Senior Advisor untuk program Good Governance in Population Administration (GG PAS) sekaligus Reconstruction and Development of Population Administration in Nanggroe Aceh Darussalam (PAS NAD) dan di Strengthening Women’s civil Rights (SWR), keduanya di bawah BUMN Jerman the Deutsch Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ), beberapa tugas utama yang ia lakukan adalah memoderasi diskusi eksklusif perihal perbandingan hukum sekuler, hukum Islam, dan hukum agama terkait pencatatan sipil yang semuanya kemudian dibukukan, selain memfasilitasi ditandatangani dan dideklarasikannya Piagam Hak-hak Perempuan di Aceh, November 2008.
 
Pria yang selalu berpenampilan necis ini, wafat di Surabaya, Jawa Timur pada 18 Mei 2013, setelah sebelumnya sempat di rawat di rumah sakit karena mengidap kanker paru-paru stadium IV. Meninggalkan seorang isteri, Tereshkova Koraag, serta tiga putri, Stephany, Sheridan dan Shalimar. Dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta Selatan.
(Dari Berbagai Sumber)
 

You may also like...