Waldjinah

Nama :
Waldjinah
 
Lahir :
Solo, Jawa Tengah,
7 November 1943
 
Pendidikan :
Kelas 2 SMP
 
Lagu Hits :
Kembang Katjang (1959),
Yen Ing Tawang Ana Lintang (1964),
Langensari (1967),
Jangkrik Genggong (1968),
Ayo Ngguyu (1969),
O Sarinah ((1970),
Mathuk Thok (1970),
Pak-e Thole (1970),
Tanjung Perak (1970),
Enthit (1971),
E Jamune (1971),
Sugeng Riyadi (1972)
 
Album :
Ngelam-lami (1967),
Walang Kekek
 
Filmografi :
Buah Bibir (1972)
 
Pencapaian :
Bintang Radio Jenis Keroncong Tingkat Kota Surakarta (1965),
Bintang Radio Jenis Keroncong Tingkat Nasional (1965),
Penghargaan Putri Solo dari Paku Buwono XII (2003),
Nugraha Bhakti Musik Indonesia (2006),
Hadiah Seni dari pemerintah RI (2006),
Anugerah Bintang Luminar kategori Penghargaan Seumur Hidup (2012),
Legenda Award dari AMI Award (2013)


Seniman Musik
Waldjinah
 
 
Karena dilahirkan di bulan Sawal (Wal) pada tahun Je (Ji) dan sebagai anak nomor sejinah (10) maka diberikanlah kepadanya nama Waljinah. Memang belum tua, meskipun sehari-hari memakai kebaya. Kata orang, dia telah melancarkan semacam revolusi keroncong secara resmi. Mengangkat apa yang biasanya ngubek dalam suara gamelan ke dalam kancah keroncong. “kalau digending,”tuturnya, “Penyanyi Kembang Kacang harus mengikuti betul aturannya. Rasanya kaku. Beda bila di keroncong. Penyanyi bisa menggarapnya dengan luwes, cengkoknya pun bisa mapan”.” lagunya yang terkenal adalah Walang Kekek, dinyanyikan secara menyesuaikan diri dengan kegemaran masyarakat tanpa mengurangi mutunya. Kini ia memimpin orkes keroncong langgam Jawa Bintang Surakarta dan band Mustang.
  
Pernah jadi juara Ratu Kembang Kacang di tahun 1958 dan Bintang Radio se-Indonesia jenis keroncong tahun 1965. Namanya melambung sampai ke Suriname di tahun 1972. Bahkan di Suriname ia sempat melatih. Rupanya ia lebih menyukai keroncong tanpa alat-alat listrik. Terakhir iia bermain di panggung ketoprak sejak 1978. Ketrampilan menari tidak dituntut dalam seni ketoprak, walaupun ia pintar menari sejak kecil, atas bimbingan almarhum ayahnya, Wiryoharjo. Di juluki si Walang Kekek, kadang ia menyanyi dangdut juga, kadang menyanyi dalam bahasa Sunda.
 
Ia telah menyanyikan ratusan lagu, dan pernah pula beroleh kesempatan bermain dalam film ‘Buah Bibir’ di tahun 1972. Tapi dunia film tidak berhasil memikat dirinya. Di Surakarta ia punya kesibukan lainnya yakni mengusahakan salon kecantikan dan rias pengantin. Dia mengatakan hanya minum beras kencur secara ajeg untuk memelihara kejernihan suaranya.
 
Ia sadar zaman telah berubah. Keroncong sudah tidak mendapatkan tempat di blantika musik atau media, seperti radio dan televisi. Keroncong sekarang kalah karena dianggap tidak komersil. Namun ia tetap optimis keroncong akan terus digemari. Ia heran, negeri tetangga, Malaysia bisa menghargai keroncong. Adapun dinegeri sendiri keroncong kurang mendapat tempat.
 
Dari tahun 1968 s/d tahun 1972, ia produktif membuat tak kurang 20 album dan hampir semuanya menjadi hits. Penyanyi keroncong yang namanya telah dikenal sampai Suriname ini sampai tahun 2000, telah membuat kurang dari 100 album dari berbagai dan menyanyikan sekitar 1.600 lagu. Sampai hari ini album-albumnya masih terus diproduksi.   
 
Berdomisili di bilangan kampung Mangkuyudan, Solo, Jawa Tengah, bersama seorang anakanya, Ary Mulyono, sedangkan dua anaknya yang lain tinggal di Jakarta dan Semarang. Rumahnya dibangun pada tahun 1972 hasil pentas keliling Suriname selama sebulan penuh. Kini hari-harinya diisi dengan bermain bersama cucu-cucunya. Ia mengurangi jadwal pentas atas saran anak-anaknya meski hasrat hati masih senang naik panggung.          
 
(Dari Berbagai Sumber)
 
 
 
 
 

You may also like...

Leave a Reply