Wisnoe Wardhana

Nama :
Prof DR Ki Wisnoe Wardhana Suryodiningrat
 
Lahir :
Yogyakarta, 17 Januari 1929
 
Wafat :
Yogyakarta, 2002
 
Pendidikan Formal :
Modern Dance Conecticut College School of Dance Dramatic Dance and Nime, Tari Spanyol Jacob’s Pillow The University of the Dance Massachussets, Amerika Serikat (1957),
Martha Graham Dance Studio, New York, Amerika Serikat (1957),
 Maria Wigman Tans Studio, Berlin, Jerman (1957),
Studi Kaula Partsica Athena, Yunani (1957)
Studi Sthara Devi, Bombay, India
Studi Sakakibara, Jepang
 
Pendidikan Non Formal :
Belajar tari pada I Wayan Rindi di Bali (1955),
Belajar tari Sumatera pada pak Santi
Belajar tari sunda pada Cece Sumantri di Bandung,
Kursus L’Allience Francaise (1974-1977)
 
Aktifitas Lain :
Mengelola sanggar kesenian Puser Widya Nusantara Jawa,
Pengajar Universitas Negeri Yogyakarta (IKIP Yogyakarta)
 
Karya Tari :
Tari Introspeksi,
Tari Nada Irama,
Tari Pesona Canda,
Tari Yoga Prana,
Tari Bhinneka Tunggal Ika
 
Karya Karawitan :
Ketawang Yoga Prana, Lancaran Bhinneka
Tunggal Ika,
Ladrang Gayeng,
Lancaran Kijang
 
Karya Pedalangan :
Wayang Sejati
 
Karya Arsitektur :
Monumen Kawula Gusti
 
Karya Tulis :
Puisi Renungan Dunia Tari (1983),
Dunia Pewayangan Dunia Pendidikan (1985),
Seni Tari Klasik dan Modern di Indonesia (1987),
Antropologi Budaya (1988), Agama Ageing Aji (1988)

Seniman Tari
Wisnoe Wardhana
 
 
 
 
Lahir di Yogyakarta, 17 Januari 1929 dari keluarga bangsawan. Ayahnya GBPH Suryadiningrat, adalah seorang tokoh tari Keraton Yogyakarta dan salah satu pendiri Kridha Beksa Wiromo sebuah lembaga pendidikan tari di luar tembok Keraton Yogyakarta sekaligus cucu dari Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.
 
Besar dalam lingkungan keraton di mana tradisi, norma, dan etika Jawa menjadi bagian tak terpisahkan dalam kesehariannya. Masa kanak-kanaknya dilaluinya dengan banyak belajar dalam dunia seni tari. Berguru kepada orang tuanya hingga usia 17 tahun. Namun karena pandangan serta minatnya yang besar untuk belajar seni tari, ia memutuskan pergi ke Denpasar, Bali, untuk belajar tari pada I Wayan Rindi pada tahun 1955.
 
Setahun kemudian, pergi ke Bandung dan belajar tari sunda pada Cece Sumantri, setelah sebelumnya belajar tari Sumatera pada pak Santi. Tahun 1957, mengikuti pendidikan di Modern Dance Connecticut College School of Dance, Dramatic Dance and Nime. Belajar tari Spanyol di Jacob’s Pillow The University of the Dance Massachussets, Amerika Serikat (1957), Martha Graham Dance Studio, New York, Amerika Serikat (1957), Maria Wigman Tans Studio, Berlin, Jerman (1957), Studi Kaula Partsica Athena, Yunani (1957), Studi Sthara Devi, Bombay India, Studi Sakakibara Jepang, Kursus L’Allience Francaise (1974-1977), dan sebagainya. Perjalanan itu sebagian besar didukung oleh Rockeffeler Foundation sebagai sponsornya.
 
Kiprahnya dalam jagad kesenian di Yogyakarta sangatlah besar. Ia berusaha total mengabdikan dirinya dalam dunia yang juga digeluti oleh sang ayah. Karena Sejak muda, ia memang telah dididik oleh orangtuanya untuk menjadi seorang budayawan. Ia juga dipersiapkan untuk meneruskan jejak ayahnya dalam mengelola sebuah sanggar kesenian Puser Widya Nusantara Jawa, yang berbasis masyarakat desa di Yogyakarta.
 
Romo Wisnu, sapaan akrabnya di kenal cukup sederhana dalam kehidupan kesehariannya. Saking sederhananya, beliau tidak menjadikan sanggar yang dikelolanya sebagai sebuah alat ataupun pabrik penghasil uang. Sehingga masyarakat kecil pun bisa belajar di sanggarnya. Banyak karya-karya yang lahir dari dirinya, baik itu bidang tari, karawitan, pedalangan dan arsitektur.
 
Dalam seni tari, tercatat ada 126 dari 11 gaya, diantaranya tari ‘Introspeksi’, ‘Nada Irama’, ‘Pesona Canda’, ‘Yoga Prana’, dan ‘Bhinneka Tunggal Ika’. Dalam seni karawitan, muncul gendhing ‘Ketawang Yoga Prana’, ‘Lancaran Bhinneka Tunggal Ika’, ‘Ladrang Gayeng’, ‘Lancaran Kijang’ dll. Dalam seni pedalangan, tercipta ‘Wayang Sejati’ yang tokoh tokohnya dilukis sendiri. Untuk bidang arsitektur, terdapat karya monumen ‘Kawula Gusti’ dari keluarga besar Grinda Pancasila Mawahyu Buwana. Sejumlah buku yang pernah ia tulis, diantaranya ‘Puisi Renungan Dunia Tari’ (1983), ‘Dunia Pewayangan Dunia Pendidikan’ (1985), ‘Seni Tari Klasik dan Modern di Indonesia’ (1987), ‘Antropologi Budaya’ (1988), ‘Agama Ageing Aji’ (1988) dll.
 
Pengajar Universitas Negeri Yogyakarta (IKIP Yogyakarta) untuk mata kuliah psikologi pendidikan, pendidikan kesenian, tari dan musik, kepariwisataan, dan antropologi budaya yang sempat mendirikan sebuah partai politik, Partai Budaya Bangsa Nusantara ini, wafat pada usia 72 tahun pada tahun 2002. Sampai menjelang wafatnya pun, aktivitas keseniannya tidak terlihat berkurang sedikitpun. Ia tetap terlihat sibuk dengan berbagai aktifitas kesenian di Yogyakarta. Untuk mengenang karya-karyanya pada 18 April 2010, di pentaskan acara pergelaran tari di gedung Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta yang menampilkan 11 karya tarinya yang sebagian besar diciptakannya pada tahun 1960-an.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 
 

You may also like...

Leave a Reply