Wiyoso Yudoseputro


Pematung
Wiyoso Yudoseputro
 
 
 
Pak Wi, demikian ia disapa, berperawakan kecil. Termasuk sosok yang pendiam. Bicara seperlunya dan suaranya kecil tak pernah kuat terdengar apalagi keras.  Lahir di Salatiga, Jawa Tengah, 28 Februari 1928. Berlatar belakang pendidikan SD Negeri Salatiga (tamat 1942), SMP Negeri Salatiga (tamat 1945), SMA/A Negeri Jakarta (tamat 1951), Sarjana Seni Rupa, Fakultas Tehnik Bandung-Universitas Indonesia (sekarang FSRD-ITB, tamat 1956).
 
Di kenal sebagai seorang pematung yang handal, Patung-patung karyanya di kenal bersifat organik, ritmis dan menggeliat. Sebuah panorama, sebuah gerak seakan tenang dan diam, namun penuh dengan semangat juang. Hal tersebut sesuai dengan kepribadiannya, yang dikenal bersikap gigih tanpa pernah memandang bentuk dari karya-karyanya, kita ditarik pada kenangan, membawa kita kepada sesuatu atau sebuah sosok atau seseorang atau siapapun yang telah mendahului. 
 


Mandala Gitalita, Electroplate Copper, 45 x 22 x 53 cm (2005)

Tercatat beberapa pameran patung pernah ia ikuti, diantaranya, mengikuti pameran bersama API, Seni Patung Kontemporer Indonesia dengan tema ’In Search of Peace’, di WTC Jakarta (2003). Mengikuti pameran bersama API bertajuk ’Patung Skala Kecil’ Yogyakarta (2004). Mengikuti Pameran Tiga Pematung IKJ di Paulin art Space bertajuk Trans generasi, Jakarta (2005). Di tahun yang sama mengikuti Pameran bersama seni rupa dalam Rangka Ulang Tahun DKI Jakarta 478 di Galeri Nasional Indonesia Jakarta. Mengikuti Pameran bersama seni patung di The Peak Resort Dining Ciwaruga, Bandung (2006).
 
 Dikenal pula sebagai seorang penulis, tulisan-tulisannya banyak di dimuatnya di berbagai majalah, surat kabar, brosur katalog serta Kalender. Menikah dengan Subiantari di Bandung, Jawa Barat, 25 Juni 1959 dan di karuniai seorang anak, Aghastya yang lahir di Bandung, Jawa Barat, 1 Juni 1968.

 
Pematung yang sangat mengetahui bidang sejarah senirupa timur dan Indonesia ini, juga dikenal sebagai sosok yang tak dapat dipisahkan dari dunia pendidikan. Pada awal tahun 1973, disamping mengajar, ia juga menjabat sebagai Ketua Akademi Senirupa pertama LPKJ. Ikut membangun dan membesarkan pendidikan senirupa. Terlibat aktif dan ikut memprakarsai dalam merumuskan perkembangan LPKJ menjadi IKJ. Pernah menjadi rektor IKJ. Menjabat Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Program Pengabdian Masyarakat IKJ. Tahun 2002, ia menjadi Guru Besar Fakultas Senirupa IKJ yang pertama.
 
Prof. Drs. Wiyoso Yudoseputro wafat di Jakarta, pada hari Kamis, 19 Juni 2008 dalam usia 80 tahun
 
(Dari Berbagai Sumber)
 

Nama :
Wiyoso Yudoseputro
 
Lahir :
Salatiga, Jawa Tengah,
 28 Februari 1928
 
Wafat :
Jakarta, 19 Juni 2008
 
Pendidikan :
SD Negeri Salatiga
 (tamat 1942),
SMP Negeri Salatiga
(tamat 1945),
 SMA/A Negeri Jakarta
(tamat 1951),
 Sarjana Seni Rupa, Fakultas Teknik Bandung-Universitas Indonesia  (tamat 1956)
 
Karier :
Guru SMA N V Bandung
(1957-1959),
Guru B.I Menggambar Negeri Bandung
 (1959-1961),
Dosen Luar Biasa S-1 FSRD ITB (1959-2008),
Dosen Jurusan Pendidikan Senirupa & Kerajinan FSBS IKIP Bandung (1963-1993),
Dosen FSR IKJ
 (1971-2008),
Dosen Luar Biasa S-1 FSRD Universitas Trisakti
(1977-2008),
Dosen Luar Biasa Pasca Sarjana FSRD ITB
 (1995-2008),
Guru Besar FSR IKJ
(2000-2008)

You may also like...

Leave a Reply