Wowok Hesti Prabowo

Nama :
Wowok Hesti Prabowo
 
Lahir :
Purwodadi, Grobogan,
 Jawa Tengah, 16 April 1963
 
Pendidikan :
STMA (Kimia) Yogyakarta (1983),
Fakultas Teknik Kimia Universitas Islam Syekh Yusuf Tangerang (1996)
 
Karier :
Manajer Personalia disebuah perusahaan swasta,
Pemilik Rumah Makan Galeri Gudeg Yogya
 
Aktifitas Seni :
Mantan Ketua Unit Kerja Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) di salah satu perusahan di Tangerang, Banten,
Pendiri Komunitas Budaya Buruh Tangerang (Bubatan),
Ketua Yayasan Komunitas Sastra Indonesia (KSI),
Penggiat Komunitas Roda-Roda Budaya,
Pencetus, pimpinan redaksi Pamflet Sastra Bumi Putra,
Penandatangan Sastrawan Orde Kampung
 
Karya :
Buruh Gugat (1999),
Presiden dari Negeri Pabrik (1999),
Lahirnya Revolusi (2000),
Hijrah,
Bangkit,
Rumah Petak
(bersama Dingu Rilesta, 1996),
Trotoar,
Cisadane,
Mimbar Penyair Abad 21 (1996)
Renonansi Indonesia


Penggiat Sastra
Wowok Hesti Prabowo
 
 
 
 
Anak keempat dari enam bersaudara. Setelah tamat dari STMA (Kimia) Yogyakarta (1983), lulusan Fakultas Teknik Kimia Universitas Islam Syekh Yusuf, Tangerang (1996) ini langsung bekerja sebagai buruh pabrik. Tapi, kegemarannya menulis puisi dan artikel semasa masih bersekolah tak serta-merta terhenti. Bekerja sebagai buruh pabrik dan terus menulis adalah dua hal yang selalu menyatu dalam dirinya selama tak kurang 15 tahun masa kerjanya di berbagai perusahaan.
 
Selama bekerja, mantan Ketua Unit Kerja Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) di salah satu perusahan di Tangerang, Banten, ini, banyak melihat hak-hak buruh yang ditebas, kebebasan buruh dibelenggu, kehidupannya ditindas dengan berbagai intimidasi dan kesewenangan, ia kemudian mencoba mengenalkan dunia kesenian kepada sesama buruh. Para pekerja itu dituntun menulis puisi, mengungkapkan perasaan dan pikiran mereka melalui tulisan. Melalui serikat pekerja, ia membentuk komunitas dan mengajari para buruh menulis sastra. Sastra buruh kemudian menggelinding, menjadi pembicaraan kalangan pemerhati sastra. Maka sejak itu, sastra buruh kerap diidentikkan dengan pergerakan. Ia juga pernah menjadi manajer personalia di sebuah perusahaan swasta. Tapi, sikap kesehariannya kerap tidak sejalan dengan pemilik perusahaan. Ia dinilai lebih cenderung membela kepentingan pekerja dibanding perusahaan. Sikapnya itu kemudian berbuntut dengan dikeluarkannya surat pemutusan hubungan kerja bagi dirinya.
 
Peristiwa di akhir 1990-an menjadi titik-balik hidupnya. Pria kelahiran Purwodadi, Grobogan, Jawa Tengah, 16 April 1963, ini kembali ke khittahnya, menjadi seniman. Berhenti dari pekerjaan sebagai buruh pabrik, tidak berarti berhenti berkarya. Justru sebaliknya, produktivitasnya meningkat, aktivitasnya kian tinggi. Kumpulan puisinya terbit dalam sejumlah buku. Sebutlah, Buruh Gugat (1999), Presiden dari Negeri Pabrik (1999) dan Lahirnya Revolusi (2000). Puisi-puisinya juga tersebar dalam sejumlah antalogi, seperti, Hijrah, Bangkit, Rumah Petak (bersama Dingu Rilesta, 1996), Trotoar, Cisadane, Mimbar Penyair Abad 21 (1996) dan Renonansi Indonesia yang diterbitkan dalam dua bahasa: Indonesia dan Mandarin.
 
Aktivitas berkeseniannya bersama para buruh tetap ia lakoni. Bahkan ia tidak hanya sekadar berpuisi dan mengenalkan seni dan sastra kepada para buruh. Ia juga ikut turun ke jalan, memperjuangkan nasib buruh. Pada saat bertepatan dengan peringatan 50 tahun Indonesia Merdeka, 1995, ia melakukan aksi protes terhadap kesewenangan yang menimpa kaum buruh. Pendiri Komunitas Budaya Buruh Tangerang (Bubatan) itu mogok bicara selama 50 hari.
 
Di dunia seni sastra, penyuka burung dan jenggot ini pernah menjadi ketua Yayasan Komunitas Sastra Indonesia (KSI). Penggerak Komunitas Roda-Roda Budaya, sebuah komunitas gabungan buruh dan sastrawan dan penggagas Institut Puisi Tangerang, sebuah lembaga untuk mengantarkan buruh agar tidak minder di tengah pergaulan sastra. Menurut ayah tiga orang anak ini, jika dulu sastra itu untuk kaum elite, kini sastra milik siapa saja.
 
Belakangan, bersama rekan-rekannya, ia mencetuskan Pamflet Sastra Bumi Putra, sekaligus menjadi pemimpin redaksinya. Bersama rekan-rekannya, baik melalui Pamflet Sastra itu maupun lewat aksi nyata, ia menggugat bentuk dominasi komunitas sastra yang satu atas komunitas sastra yang lain. Lewat Sastrawan Ode Kampung, ia menjadi penandatangan pertama penolakan terhadap bentuk dominasi komunitas sastra yang satu atas komunitas sastra yang lain tersebut. Sastrawan Ode Kampung juga menolak eksploitasi seks dalam karya sastra. Ia juga menggugat dominasi kapital asing atas kegiatan sastra di Tanah Air, yang memperalat ke-Indonesiaan.
 
Dunia seni baginya, menjadi bagian yang sulit dipisahkan dalam hidupan. Tanpa itu, ia merasakan hidup yang hambar. Ia mengaku menemukan kepuasaan batin bergelut dengan dunia seni. Dengan berkesenian, ia bisa merasakan nikmatnya hidup.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 
 

You may also like...

Leave a Reply