WS Rendra

Nama :
Willibrordus Surendra Broto
(Wahyu Sulaiman Rendra)
 
Lahir:
Solo, Jawa Tengah,
7 November 1935
 
Wafat :
Depok, Jawa Barat,
6 Agustus 2009
 
Julukan :
Si Burung Merak
 
Pendidikan :
SMA St. Josef Solo,
Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gajah Mada Yogyakarta,
American Academy of Dramatical Art new York, USA (1964-1967).
 
Karya-karya Drama :
Orang-orang di Tikungan Jalan, SEKDA,
 Mastodon dan Burung Kondor,
Oidipus Rex,
Kasidah Barzanji,
Perang Troya Tidak Akan Meletus,
Sobrat
 
Sajak dan Puisi :
Jangan Takut Ibu,
Balada Orang-orang Tercinta (1957,1971,1986),
Ballads and Blues : Poems (1974),
Blues untuk Bonnie (1981),
Buku Harian Seorang Penipu (1988),
 Disebabkan oleh Angin (1993), Empat Kumpulan Sajak (1981), Pamfletten van een Dichter (1979),
Perampok (1987),
 Potret Pembangunan dalam Puisi (1980),
 Sajak-sajak Sepatu Tua (1983), Sajak-sajak Hari
Kebangkitan Nasional (1990), Wettliche Gesange und Pamphlete (1991)
 
Penghargaan :
Departemen P & K Yogyakarta (1954),
Hadiah Tahunan Majalah Kisah atas cerpennya yang berjudul Ia Punya Leher Panjang (1956),
Penghargaan sebagai salah satu penyair terbaik dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional
(1955 -1956),
Hadiah untuk karyanya Bersatulah Pelacur-Pelacur Jakarta dan Pesan Pencopet Kepada Pacarnya, Departemen P & K Yogyakarta,
Penghargaan Dari Pemerintah Yugoslavia,
Mendapatkan Beasiswa dari Rockefeller Foundation dan JDR the III Foiundation
(1964-1967),
Anugrah Seni dari Departemen
 P & K (1969),
Hadiah Seni dari Akademi Jakarta (1975),
Adam Malik Award (1989),
Hendar Fahmi Ananda Award, Lombok (1993),
Sea Write Award Kerajaan Thailand (1995),
Juara I Hadiah Sastra Asia Tenggara (1996),
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (1996),
Jos Kaj Tyl Kedutaan Besar Ceko (1997),
Achmad Bakrie Award bidang Kesusatraan (2006),
Federasi Teater Indonesia Award (2006),
Penghargaan Seni, Budaya dan Pariwisata Jawa Barat (2007),  
Doktor Honoris Causa dari UGM (2008)


W.S Rendra
 
Lahir, 7 November 1935 di Solo, Jawa Tengah. Tahun 1954, pada usianya yang sangat muda, mendapat hadiah dari Departemen Kebudayaan untuk naskah dramanya Orang-orang di Tikungan Jalan. Tahun 1957, ia mendapat  hadiah dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN) untuk kumpulan puisinya Balada Orang-Orang Tercinta. Ayahnya, seorang guru bahasa Indonesia da bahasa Jawa kuno. Ibunya pernah menari di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Pernah menjadi mahasiswa di Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada, Yogya. Mendapat kesempatan untuk keliling Amerika Serikat pada tahun 1964 dan melanjutkan belajar di The American Academy of Dramatic Arts, New York, USA, tahun 1964-1967 dengan beasiswa dari Rockefeller Foundation dan kemudian dari JDR The III Fund.
Pada tahun 1967, kembali ke tanah air dan mendirikan Bengkel Teater Rendra. Tahun 1970, mendapat Anugerah Seni dari Pemerintah RI melalui Departemen P & K atas karyanya menciptakan drama mini kata. Tahun 1975, mendapat hadiah dari Akademi Jakarta untuk karya-karyanya dari tahun 1970-1975. Ia juga sering mengikuti festival-festival Internasional antara lain”di Rotterdam, Amsterdam, Koln, Hamburg, Melbourne, Sydney, New York, Leaden, New Delhi, Bhopal, Korea Selatan, Denmark, dll.
Bengkel Teater Rendra, bulan Juni 2005 lalu mementaskan drama berlabel Sobrat karya Arthur S. Nalan di TIM. Pentas tersebut merupakan kegiatan yang kesekian puluh kali. Rendra, yang sejak awal memimpin dan menyutradarai kelompok teaternya ‘Bengkel Teater Yogya yang berubah menjadi ‘Bengkel Teater Pada usianya yang sangat muda, ia menulis karya-karya sastra yang mengejutkan.

Sangat berbeda dengan puisi-puisi Indonesia yang waktu itu kebanyakan berbentuk puisi lirik. Tetapi Rendra menerobos dengan puisi-puisi ‘epik. Karya-karyanya banyak dimuat di berbagai majalah sastra terkenal yang tersebar diberbagai kota besar di Indonesia. Sehingga ia banyak diperhitungkan oleh para penyair senior pada jamannya. Balada Orang-orang Tercinta adalah buku kumpulan puisinya yang pertama yang ia buat ditahun 1957.  mendapatkan hadiah Sastra Nasional dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional Indonesia (BMKN). Dan ia satu-satunya penyair muda terbaik periode tahun 1955-1957.

Bengkel Teater ‘Sobrat’ (2005)

Selain puisi, ia juga menulis cerita pendek dan drama pentas. Tetapi buku puisinya yang meledak berlabel Blues Untuk Bonnie tahun 1971. Karya dramanya mini kata berlabel SSTTT, sempat menggemparkan publik ketika naskah improvisasi yang tersusun menjadi naskah drama absurd-eksperimen tersebut ditayangkan di stasiun siaran TVRI Pusat pada tahun 1970-an. Hal itu menjadikan pemirsa dan publik teater realis-konvensional, membelalakan mata dan dibuat terkagum-kagum. Bahwasannya seorang Rendra membuka cakrawala pentas dan peta teater Indonesia menjadi kian lebar. Faktanya dapat dibuktikan sesudah, karena konsep teater baru Rendra diterima oleh banyak pihak. Dan tidak sedikit grup-grup teater lainnya terpengaruh ulah Rendra yang juga disebut seniman urakan.
Agaknya pengalamannya merambah dunia seni budaya sampai ke pelataran negeri Paman Sam (Amerika Serikat), membawa angin segar bagi blantika seni budaya di negeri ini. Pentas pertamanya di TIM tahun 1970-an, menampilkan karya-karya teater Yunani kuno, seperti Oedipus Rex yang banyak mendapat sambutan publik. Menyusul drama absurd karya Samuel Becket berjudul Menunggu Godot (Waiting for Godot).
Tak hanya naskah drama asing yang berhasil diadaptasi seperti drama Hamlet karya William Shakespeare, yang disajikan dengan warna lokal yang mengagumkan elemen kesenian tradisional Jawa ‘Ketoprak Di samping karya-karya drama mini kata ciptaannya seperti Modom-Modom, Lentera dll yang memukau publik. Ia pun mengantarkan publik sastra dan teater menjadi kian tertarik dan kecanduan menonton karya Rendra, di awal Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki baru berdiri tahun 1968.
Di jaman pemerintahan Orde Baru berkuasa. Rendra, dramawan dan penyair dicekal dan harus mendekam di balik jeruji besi. Ia ditangkap oleh pihak yang berwajib seusai mengisi acara baca puisi Pamlet di Teater Terbuka TIM tahun 1972-an. Pada 6 Agustus 2009, si burung merak itu mengakhiri lembaran karier emasnya. Ia menghembuskan nafas terakhir di RS Mitra Keluarga Depok, Jawa Barat, pkl 22.05 wib, akibat komplikasi penyakit ginjal dan jantung koroner. Jenazah dikebumikan di Bengkel Teaternya, di Cipayung, Depok, Jawa Barat.
(Dari Berbagai Sumber)
 

You may also like...

Leave a Reply