Yati Pesek

Nama :
Suyati
 
Lahir :
Yogyakarta, 1952
 
Profesi :
Penggiat Teater Tradisional,
Pendiri Padepokan Yati Pesek di Manisrenggo, Klaten,
 Jawa Tengah,
Pengusaha tempat pemancingan, rumah makan dan persewaan tonel
 
Filmografi :
Lawang Sewu.
Wakil Rakyat
 


Seniman Teater Tradisional
Yati Pesek
 
 
 
Lahir di Yogyakarta, tahun 1952, dengan nama asli Suyati. Awal berkarir, di mulai dari pentas teater tradisional dari panggung ke panggung. Ia dikenal karena guyonannya yang khas dan cukup menghibur di atas panggung. Dijuluki Yati Pesek, karena hidungnya tidak mancung. Namanya semakin menanjak saat ia menjadi pemain dalam Ketoprak Humor yang ditayangkan salah satu televisi swasta.
 
Selain bermain ketoprak ia juga bermain dalam sejumlah film layar lebar antara lain film Lawang Sewu. Film terakhir yang dia bintangi adalah Wakil Rakyat, berperan sebagai Mbok Sanem. Di film ini ia tidak merasa canggung beradu akting dengan aktor muda seperti Tora Sudiro. Bahkan Ia juga kembali di tawari main dalam film Wakil Rakyat”sekuel II. ”
 
Agar tetap eksis, ia harus rela jemput bola. “Kalau tidak, peluang itu bisa pindah ke tangan orang lain. Tapi, apapun, saya percaya rezeki sudah diatur Tuhan”,’’ ungkapnya. Meski jemput bola, bukan berarti semua tawaran main film ia terima. Seniman yang sudah lebih dari 10 tahun menetap di Klaten, Jawa Tengah ini, paling tidak bisa kalau diajak main film dengan sistem kontrak. Alasannya, terlalu membuang waktu. “Sebab, lebih banyak menganggurnya dibanding waktu untuk syuting. Kalau harus tiga hari selesai, kenapa sampai sepekan atau sebulan. Tidak apa-apa meski harus lembur,’”’ ujarnya.
 


Arya Penangsang Leno (2007)

Sering terlibat dalam pagelaran wayang, seperti pada pargelaran wayang orang di Taman Budaya Yogyakarta. Ia akui, selama ini wayang orang sepertinya telah tergusur oleh produk budaya asing atau yang modern yang gencar ditayangkan melalui media elektronik. “Ini tentu jadi keprihatinan kami-kami dari para seniman wayang wong di Yogyakarta”, tegas Yati Pesek, yang juga bertindak sebagai Ketua Panitia Penyelenggara dalam pagelaran wayang orang tersebut.

 
Sepi order manggung tidak menamatkan karirnya sebagai seniman. Keadaan itu justru dijadikannya momentum untuk memberikan perhatian serius kepada kesenian tradisional. Dia pun mendirikan Pedepokan Yati Pesek di Manisrenggo, Klaten, Jawa Tengah sejak tahun 2005. Padepokan yang didirikan di atas lahan 5.000 meter persegi itu menjadi pusat kegiatan bagi dalang di Solo dan Yogyakarta. Sebulan sekali para seniman tradisional berkumpul di sana. Agendanya beragam. Mulai latihan, sharing, sampai hanya sekedar mancing. “Tapi mancing ilmu pengetahuan. Memang di padepokan tersebut ada pemancingan. Biasanya seniman muda banyak yang belajar sambil mancing bersama”,’’ ujar wanita yang telah memiliki delapan cucu ini.
 
Selain itu, waktu luangnya ia gunakan untuk menekuni beberapa usaha yang dirintisnya sejak pertengahan 1990. Mulai dari rumah makan, sampai menyewakan tonel (perlengkapan panggung). Persewaan tonel ini juga dijadikannya salah satu wujud kongkret untuk menjaga agar kesenian tradisional tetap eksis.
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...