Yudi Ahmad Tajudin

Seniman Teater
Yudi Ahmad Tajudin
 
 
 
Api kegelisahan dan pencariannya mulai membara sejak kecil. Masa kecil putra ketiga dari pasangan Wahmad dan Romlah ini selalu dihadapkan pada situasi yang menuntutnya untuk menyelesaikan segala sesuatu sendiri. Maklumlah, karena alasan ekonomi, kedua orangtuanya menghabiskan waktu untuk mencari nafkah. Boleh dikatakan ia hidup sendiri sejak kecil. Kedua orangtuanya punya kesibukan masing-masing dan tidak sempat menemani untuk belajar di rumah. Sedangkan kedua kakaknya sudah tidak tinggal serumah lagi dengan kami.
 
Mulai terjun ke dunia teater sejak ia hijrah ke Yogyakarta, tahun 1988 saat ia berusia 15 tahun dan menginjak kelas III SMP. Debutnya sebagai sutradara dimulai dengan menyutradarai Teater Kertas SMAN 2 Yogyakarta (1992). Pernah menjadi sutradara terbaik dalam Festival Teater Remaja (1993). Ketika kuliah di jurusan Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada di tahun 1993, bersama Y Kusworo Bayu Aji dan Puthut Yulianto mendirikan Teater Garasi pada 4 Desember sebagai sebuah kelompok kegiatan mahasiswa Fisipol. Nama Garasi diambil dari sebuah garasi di kampusnya yang saat itu sering dipakai sebagai tempat berkumpul.
 
Sejak memutuskan untuk menjadikan teater sebagai pilihan profesi dan pilihan hidupnya pada tahun 1997, ia tidak canggung terjun bebas dalam dunia teater. Memang, tidak serta-merta ia langsung bisa hidup dari dunia teater. Telah menyutradarai sejumlah naskah untuk pementasan Teater Garasi antara lain; Les Paravents (2000), Carousel (1997) dan Kapai-Kapai (1997).
 
Pada 21-24 April 2006 Teater Garasi berada di Tokyo, Jepang, untuk mementaskan repertoar Waktu Batu, Deus ex Machina dan Perasaan-perasaanku padamu. Repetoar ini terus mengalami reinterpretasi. Sebelumnya pernah dipentaskan di Art Summit IV tahun 2004 di Jakarta dan In-Transit Festival tahun 2005 di Berlin, Jerman. Sebagai bidan dan direktur artistik Teater Garasi, ia menelurkan sejumlah naskah. Waktu Batu, adalah salah satu garapan lelaki lajang ini. 
 
Repetoar ini lebih menampilkan gerak dan simbol daripada narasi verbal. Karena itu, banyak orang berpikir Teater Garasi itu teater yang bergaya absur. Ia terobsesi menjadikan teater yang lahir dari sebuah riset. Waktu Batu adalah representasi teater yang berdasarkan riset, sesuai dengan idealismenya untuk membuat teater yang tidak sekadar ruang berekspresi.
 
Dalam pandangannya, teater tidak cukup didasarkan pada konsep sebuah ruang praktik estetika dan interaksi kesadaran sosial. Teater adalah juga praktik pengetahuan dan hal inilah yang paling kurang diperhatikan oleh kebanyakan teater di Indonesia. Implikasi dari diterapkannya teater sebagai praktik pengetahuan ini tercermin dari perjalanan Teater Garasi. Dokumentasi karya dan proses merupakan sesuatu yang wajib karena dokumentasi itu akan dipakai untuk belajar di kemudian waktu. Pencatatan atas segala hal yang ditemui dalam riset juga dilatih sebagai tradisi di dalam kelompok.
 
Baru-baru ini, bersama Teater Garasi, ia menerima penghargaan Prince Claus Award 2013, sebuah penghargaan prestisius di bidang kebudayaan yang diberikan satu organisasi terkemuka yang bermarkas di Amsterdam, Belanda. Dalam waktu yang hampir bersamaan, ia juga didaulat menjadi sutradara oleh Shizuoka Performing Arts Center (SPAC) di Jepang. Ia diminta memandu para aktor Jepang untuk mementaskan lakon The Juggler’s Tale karya penulis Jerman, Michel Ende.     
 
(Dari Berbagai Sumber)
 

Nama :
Yudi Ahmad Tajudin
 
Lahir :
 Jakarta, 1972
 
Profesi :
Sutradara dan direktur Artistik Teater Garasi
 
Pendidikan :
SMAN 2 Yogyakarta,
Jurusan Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu politik Universitas Gadjah Mada, (1993)
 
Karya :
Les Paravents (2000),
Carousel (1997),
Kapai-Kapai (1997),
Waktu Batu (2006)
 
Pencapaian :
Sutradara terbaik dalam Festival Teater Remaja (1993),
Bersama Teater Garasi menerima penghargaan Prince Claus Award (2013),
Anugerah Kebudayaan Kategori Anugerah Seni dari Kementerian Kebudayan dan Pariwisata (2014)
 

You may also like...