Yulianti Parani

Nama :
Yulianti Laksmi Parani
 
Lahir  :
Jakarta, 19 Juli 1939

Pendidikan :
Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1970),
Archivist Nederlandse Archief School, Den Hag, Belanda (1972),
Records Management seperti Sistem Analis (1978) dan O&M (1979),
S-3 dari salah satu Universitas di Singapura (2004)
 
Aktifitas Lain :
Kepala Badan Pengolahan dan Inventarisasi pada Arsip Nasional Republik Indonesia,
Ketua Departement tari LPKJ/IKJ,
Membina kursus tari ballet Nritya Sundara (1959-1978),
Ketua Komite Ketua Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta (1973-1979)
 
Karya :
Sangkuriang (1960),
Kamajaya (1969)
Habis Gelap Terbitlah Terang (1970),
Modern Choreography (1971),
Sketsa-Sketsa Kehidupan (1971),
Burung Gelatik (1971),
Cempaka (1971),
Serenada insani (1971),
Plesiran (1972),
Tari Modern & Folklorik (1972),
Garong-Garong (1974),
Wajah-wajah Dalam Gereja (1974),
Sarung Cukin (1975),
Irama Tari Dalam Gitar (1975),
Gendang (1975),
Angklung (1975),
Topeng Babakan (1976),
Balet Paganini (1976),
Ballet Folklorik Pendekar Perempuan (1977),
Sarenada Insani (1979),
Doa, Kreatifitas, dan Tawa (1980)
 
Pencapaian :
Meraih gelar Doktor dengan predikat Cum Laude dari salah satu universitas di Singapura (2004),
Anugerah Indonesian Dance Festival (2012),
Anugerah Tanda Kehormatan Kelas Satyalancana Kebudayaan dari Kementerian Kebudayan dan Pariwisata (2014)

Seniman Tari
Yulianti Parani
 
 
Lahir di Jakarta pada 19 Juli 1939. Lulus Fakultas Sastra Universitas Indonesia, jurusan Sejarah pada tahun 1970, Archivist (pendidikan dan latihan dalam pengetahuan kearsipan) pada tahun 1972 dari Nederlandse Archief School Den Hag, Belanda. Records Management seperti Sistem Analis tahun 1978 dan O & M tahun 1979. Ia juga Menempuh gelar Doktor di salah satu universitas di Singapura, lulus dengan predikat cum laude di tahun 2004. 
 
Ia pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pengolahan dan Inventarisasi pada Arsip Nasional Republik Indonesia, juga Ketua Departement tari LPKJ/IKJ serta Ketua Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta (1973-1979). Ia pernah membina kursus tari ballet Nritya Sundara periode 1959-1978. Sejak tahun 1960, dan banyak menciptakan karya-karya tari, yang mulanya banyak bertitik tolak dari teknik tari ballet klasik. Ia banyak mempelajari bentuk-bentuk kesenian rakyat Betawi, yang hasilnya dituangkan ke dalam bentuk Ensiklopedi Tari Betawi, karya-karya tulis dan sejumlah karya tari terbaru sejak tahun 1972.
 
Karya-karyanya antara lain ‘Sangkuriang’ (1960), ‘Kamajaya’, ‘Burung Gelatik’,’ Habis Gelap Terbitlah Terang’ dan ‘Cempaka’ periode 1969-1971, ‘Serenada Insani’ (1971), ‘Plesiran’ (1972), ‘Garong-Garong’ (1974), ‘Sarung Cukin’ (1975), ‘Bajidoran Angklung’ (1976), ‘Topeng Babakan Betawi’ (1976) dan ‘Pendekar Perempuan’ (1977). Pengajar pada Program Diploma Kearsipan Fakultas Sastra Universitas Indonesia ini juga menjadi Pembantu Dekan I (Bidang Akademik) pada Fakultas Kesenian Institut Kesenian Jakarta-LPKJ dan kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan Kearsipan Statis, Arsip Nasional RI.
 
Sejak tahun 1970 ia banyak melakukan penelitian tentang Kesenian Betawi seperti, Tanjidor, Topeng Betawi, Rebana Biang dan lain-lain. Ia banyak menulis karya-karya ilmiah di berbagai Seminar Budaya, Sejarah dan Kearsipan seperti pada lokakarya Betawi tahun 1976, seminar sejarah II tahun 1981, seminar IAHA (Internasional Association Historian of Asia) di Bangkok tahun 1977, Seminar International Council on Archives di Cebu City, Filipina tahun 1984.
 
Ia juga menulis karya populer di media massa seperti di harian Kompas, Sinar Harapan dan Tempo berupa artikel, resensi tentang seni pentas. Ia juga memimpin beberapa pementasan di Taman Ismail Marzuki dan berbagai karya nasional seperti Malam Pesona FFI tahun 1983, Upacara Hardiknas tahun 1985, PON XI tahun 1985 dan Pembukaan Pekan Raya Jakarta.
 
Ia kini mondar-mandir Jakarta-Singapura selaku profesional, mengingat ia memiliki kegiatan bisnis di kedua kota metropolitan tersebut.
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...