Zainal Abidin Domba

Nama :
Zainal Abidin Domba
 
Lahir :
Pekalongan, Jawa Tengah,
15 April 1957
 
Wafat :
Cisalak, Depok, Jawa Barat,
26 Januari 2015
 
Sinetron :
Alang-Alang (1994),
Pakaian dan Kepalsuan (1995),
Kipas-Kipas Asmara (1996),
Olga Sepatu Roda (1996),
Darah Leluhur (1997),
Istana Pasir (1997)
Putri Duyung (2000)
 
Filmografi :
Secangkir Kopi Pahit (1984),
3 Hati, Dua Dunia, satu Cinta (2010)
 
Pencapaian :
Pemenang Piala Vidia sebagai pemeran pembantu pria terbaik dalam Alang-Alang (1994),
Aktor Terbaik pada Festival Teater Remaja Jakarta (1982),
Aktor Terbaik pada Festival Teater Remaja Jakarta (1981),
Aktor Terbaik pada Festival Teater Remaja Jakarta (1980),
Penghargaan dari India
Dalam pementasan teater
Inspektur Jendral

Aktor Teater
Zainal Abidin Domba
 
Aktor kawakan jebolan Teater Sae, Teater Kecil, dan Teater Populer ini, dikenal luas oleh masyarakat teater di Jakarta. Dia telah lama malang melintang dalam dunia teater. Terhitung sejak tahun 1975, Ia telah melangkahkan kakinya di panggung teater. Beragam tokoh dan beragam karakter telah dimainkan oleh peraih aktor terbaik pada Festival Teater Remaja Jakarta ini. Ahli masak ini, juga pernah meraih penghargaan dari India. Pada saat Sanggar Teater Populer merayakan hari ulang tahunnya yang ke-25. Ia tampil gemilang dalam pertunjukan Inspektur Jendral.
Pertunjukan yang disutradarai langsung oleh pimpinan Sanggar Teater Populer, almarhum Teguh Karya itu, sempat melambungkan namanya. Ia ternyata memiliki idealisme tinggi untuk mengembangkan dunia teater. Hal tersebut diakui karena kecintaannya pada seni pertunjukan itu. “Saya kalau diajak main teater oleh teman-teman tidak merasa pernah dibayar sepeser pun,” katanya. Beruntung sekali nasib pekerja teater ini, sebab sekarang ia telah melangkahkan kakinya dari seni peran panggung ke seni akting di layar kaca. Didin, begitu panggilannya, “Saya mati-matian mencari uang di layar kaca. Saya sering membantu pendanaan pertunjukan teman-teman di pementasan teater.”
“Saya sadar, akting saya itu merupakan sebuah bentuk pembodohan bagi masyarakat. Saya sadar, tapi saya harus fleksibel menerima kenyataan ini. Mencari uang di sinetron untuk mendanai teater,” demikian kilahnya. Sikap fleksibel ini juga didasari atas kebutuhan rumah tangganya. “Saya mungkin tidak makan beberapa hari bisa. Tapi, anak-isteri saya, mereka butuh sandang-pangan yang memadai,” ujar aktor yang pernah bergabung di Teater SAE, Teater Kecil, dan Teater Populer ini.
Untuk layar lebar, ia pernah mendukung filmnya Teguh Karya, ‘Secangkir Kopi Pahit’ (1984), berperan sebagai mahasiswa Batak sahabat Alex Komang yang berwatak kurang terpuji. Sedangkan untuk pementasan teater yang disutradarai Teguh Karta, ia bermain dalam ‘Pernikahan Berdarah’, sebagai mempelai pria bagi pengantin Niniek L. Karim. Agar seniman teater bisa mencukupi dana pementasannya dan kebutuhan hidupnya, ia menyarankan agar para seniman tak segan-segan memasuki ruang seni yang lain, “Kita harus berani memasukinya. Bagaimana kita tahu sesuatu itu salah atau benar, tanpa kita berani masuk ke dalamnya,” ujar lelaki yang mendapat banyak pujian saat bermain dalam sinetron ‘Olga Sepatu Roda’, sebagai bujang lapuk Betawi yang menguber-uber Sarah Sechan.
Yang membuat namanya melambung adalah sinetron ‘Kipas-Kipas Asmara’ (1996) di mana ia berperan sebagai suami Inneke Koesherawati yang kocak. “Saya prihatin sekali dengan kondisi teman-teman saya di teater. Mereka susah payah membiayai pementasan. Mereka kehilangan nara sumber yang menjadi acuan dalam rangka menghidupkan kegiatan seni pertunjukannya,” imbuh aktor yang pernah tampil di program komedi ‘Chatting’.
Pada Senin sore, 26 Januari 2015, aktor kawakan ini wafat di usia 58 tahun di RS Sentra Medika Cisalak – Depok, Jawa Barat, akibat kanker usus. Dimakamkan keesokan harinya di TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur.   
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...

Leave a Reply