Toto Amsar Suanda


Nama :
Toto Amsar Suanda
 
Lahir :
Panawangan, Ciamis,
 Jawa Barat, 4 Mei 1953 
 
Pendidikan :
Sekolah Konservatori Karawitan, Bandung (1973),
Akademi Seni Tari Indonesia
(ASTI) Bandung,
ISI Yogyakarta (1985)
 
Karier :
Tenaga Pengajar di STSI Bandung (sejak 1978),
Ketua Jurusan Tari Sekolah Tinggi Seni Indonesia
(STSI) Bandung
 
Aktifitas Lain :
Pendiri Pusat Studi Topeng Cirebon (1989)
 
 

Seniman Tari Topeng Cirebon
Toto Amsar Suanda
 
 
Lahir di Panawangan, Ciamis, Jawa Barat, pada 4 Mei 1953. Setelah lulus dari Sekolah Konservatori Karawitan (Kokar) di Bandung tahun 1973, ia menjadi guru kesenian di SMP dan PGA tempat kelahirannya. Rupanya ia tidak kerasan, dan akhirnya melanjutkan ke Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung yang kini menjadi STSI dan akhirnya menjadi tenaga pengajar disana sejak tahun 1978. Lima tahun kemudian ia melanjutkan pendidikan di ISI Yogyakarta dan lulus tahun 1985.
 
Sebagai salah seorang murid Sujana, seorang maestro tari topeng Cirebon, ia berusaha membangkitkan kembali kesenian tradisional tersebut. Ketua Jurusan Tari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung itu berusaha melakukan preservasi dengan membawa topeng Cirebon ke luar dari habitatnya di Cirebon.
 
Diawali sejak Februari 2000 lalu, ia melakukan bebarang dalam dialek Cirebon yang berarti ngamen dari satu tempat ke tempat lainnya di Kota Kembang, Bandung. Selama mengamen di Bandung mereka menerima uang sawer yang dilemparkan penonton. “Yang kami cari bukan sawer, namun bagaimana mengenalkan topeng Cirebon di luar habitatnya dan ternyata apresiasi masyarakat Bandung pada seni Topeng cukup tinggi,” ujar pendiri Pusat Studi Topeng Cirebon ini.
 
Kegiatan Pusat Studi topeng Cirebon yang didirikannya tahun 1989 lebih banyak ditujukan untuk pengkajian dan pengayoman Topeng Cirebon. Salah satu usahanya yang cukup berhasil ialah merevitalisasi Topeng Rasinah, satu-satunya maestro topeng Indramayu yang masih hidup.
 
Topeng Cirebon disebut demikian karena masing-masing penari tampil dengan menggunakan topeng. Dalam kesenian ini digunakan lima topeng pokok yang ditarikan secara berurutan menurut karakteristiknya. Masing-masing Panji, Pamindo/Samba, Rumyang, Tumenggung dan Klana. Kelima topeng tersebut melambangkan kehidupan dalam alam makrokosmos dan mikrokosmos.
 
Selama bebarang di Bandung, Toto tampil sebagai penari Topeng Panji. Topeng itu melambangkan awal kehidupan seseorang tatkala baru dilahirkan. Topengnya berwarna putih, melambangkan keadaannya masih bersih. Dengan gerakan-gerakannya yang tenang, penuh pesona karena di ikat oleh kekuatan rasa yang bersatu dalam diri penari, malam itu ia menghanyutkan gelegak emosi penonton yang di tingkahi suara gamelan. “Topeng Cirebon merupakan akar dari seni tari Sunda,” ujar Toto. Kecintaannya terhadap kesenian tersebut mengantarkan dirinya dan temannya Iyus Rusliana, belajar tari topeng Cirebon dari Sujana dan Keni sejak tahun 1976. Namun, walapun kesenian tersebut sudah lebih dari seperempat abad ditekuni, ia mengaku masih belum menguasai sepenuhnya.
 
Beberapa kali  ia melakukan lawatan kesenian keberbagai negara, termasuk membawa kesenian topeng Cirebon ke Jepang pada tahun 1999 lalu.
 
(Dari Berbagai Sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *