Tusiran Suseno


Tusiran Suseno
 
 
 
Lahir di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, 30 Juni 1957. Kedua orang tuanya berasal dari Jawa. Memulai karir sastra dan seni secara ’formal’ ketika bekerja di Radio Republik Indonesia (RRI) Tanjungpinang, pada tahun 1977. Tusiran yang mulanya bekerja sebagai pesuruh dan tukang bersih-bersih, belajar menulis naskah sandiwara radio dan akhirnya karya naskahnya dipakai oleh RRI Tanjungpinang.
 
Kemampuan menulis naskah, sesungguhnya, sudah terasah ketika kecil, di saat dia sering melihat-lihat seniman Tanjungpinang tampil di Teater Grota, yang diasuh Mazumi Daud. Penampilan Mazumilah yang membuat ia tergila-gila pada seni dan sastra.
 
Hingga berhenti dari RRI di penghujung 1990-an, Tusiran telah membuat 1.008 judul sandiwara radio yang semuanya sudah pernah ditayangkan. Sayangnya tak semua naskah yang pernah ditulisnya itu bisa diarsipkan. ‘’Hanya sekitar 800 judul saja,’’ ujarnya. Sisanya terpaksa dibakar saat RRI Tanjungpinang pindah kantor karena RRI tak punya tempat lagi untuk menampung seluruh arsip yang mereka miliki. Arsip naskah yang bisa diselamatkan itu disimpan di rumahnya. Namun, rumahnya kebanjiran pula pada akhir 2009 silam, sebagian naskah-naskah itu rusak karena basah.
 
Salah satu naskah buatannya yang berjudul ’Ombak Gelombang’ terpilih sebagai naskah sandiwara radio terbaik nasional pada tahun 1991. Prestasi itu mengantarkan Tusiran mewakili Indonesia pada pemilihan Morris High Award, sebuah sandiwara radio tingkat Asia di Jepang. Menurutnya, tantangan menulis naskah sandiwara radio jauh lebih berat dibanding naskah sinetron yang kini marak di televisi.
 
Selain menulis naskah sandiwara radio, di Tanjungpinang Tusiran juga dikenal karena kepiawaiannya melahirkan pantun. Hingga saat ini, ia sudah membuat 180 ribu lebih judul pantun dengan beragam tema. Ia mengatakan, seluruh pantunnya bersajak sempurna. Artinya, ekor kata di tengah kalimat, bukan saja ekor kalimat, memiliki bunyi yang sama.
 
Mencipta pantun bagi Tusiran bisa di mana saja. Ia tak perlu merenung lama untuk dapat ide melahirkan pantun baru. Ia mencatat seluruh pantun-pantun tersebut dengan rapi. ‘Sehari ia dapat membuat 100 pantun. Tusiran yang dinobatkan sebagai Seniman Kota Tanjungpinang pada tahun 2009 lalu, telah membukukan sejumlah pantunnya tersebut dalam sebuah buku berjudul ’Mari Berpantun’. Buku tersebut menjadi acuan bagi pelajaran sastra dan budaya di sekolah-sekolah di Tanjungpinang. Karena pantun jugalah Tusiran akhirnya bisa bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat deklarasi Tanjungpinang Negeri Pantun di Taman Ismail Marzuki (2006).
 
Tusiran tercatat juga sudah menerbitkan empat judul novel. Dalam setiap novel yang dibuatnya, Tusiran selalu menyelipkan pantun dalam alur cerita novel-novel tersebut yang merupakan ciri khas novelnya Satu novelnya yang berjudul ’Mutiara Karam’ terpilih sebagai pemenang pada kompetisi yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta tahun 2006 lalu.
 
Ia mengaku anti membuat karya yang reaktif terhadap isu-isu yang sedang hangat dan bersifat sesaat. Maksudnya, jika sekarang sedang hangat isu tentang pemilihan gubernur, ia tidak akan membuat karya terkait pemilihan gubernur. ‘’Saya nggak memanfaatkan isu-isu seperti itu untuk cari keuntungan. Saya alami saja. Makanya, kadang karya saya surut ke belakang berupa refleksi sejarah,’’ ujarnya.
 
Kini ia bertugas di Perpustakaan Kota Tanjungpinang sebagai kepala Seksi Pengolahan, selain mengajar sastra dan budaya untuk muatan lokal di sekolah-sekolah di Tanjungpinang Ia juga membuka kursus gratis sastra kepada warga di rumahnya yang diberi nama Rumah Pantun Madah Kencana, di jalan Bhayangkara Nomor 31 Tanjungpinang.
 
(Dari Berbagai Sumber)

Nama :
Tusiran Suseno
 
Lahir :
Tanjungpinang,
Kepulauan Riau,  30 Juni 1957
 
Karier :
Karyawan RRI Tanjungping (pensiun di penghujung tahun 1990-an),
Kepala Seksi Pengolahan Perpustakaan kota Tanjungpinang,
Pengajar sastra dan muatan lokal di beberapa sekolah di Tanjung Pinang
 
Penghargaan :
Naskah berjudul Ombak Gelombang terpilih sebagai naskah sandiwara radio terbaik nasional (1991)
Mewakili Indonesia pada pemilihan sandiwara radio tingkat Asia ”Morris High Award” di Jepang (1991)
dinobatkan sebagai Seniman Kota Tanjungpinang (2009)
Novelnya berjudul Mutiara Karam terpilih sebagai pemenang pada kompetisi yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta (2006)
 
 
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *