Ugo Haryono


Pelukis
Ugo Haryono
 
 
 
 
Dilahirkan di kota Bojonegoro, Jawa Timur. Putra pertama dari ayah bernama R. Hanan Pranoto (alm) dan ibu bernama Rr. Umiyati (alm) dengan enam orang adik. Sejak kecil mempunyai kegemaran menggambar, membuat kerajinan tangan, menghidupkan dan memfungsikan benda-benda mati atau tidak terpakai. Selain itu juga gemar mengkutak-kutik benda-benda yang ada hubungannya dengan elektronik ringan.
 
Ketika berangkat remaja dan mulai menyukai karya seni rupa, ia dipenuhi oleh opini bahwa lukisan yang baik itu harus begini dan begitu. Maka ia mulai mencari model-model atau contoh lukisan yang baik untuk ditiru atau membuat coretan yang mirip disertai model-model di depannya. Makin mirip dan persis orang makin memuji, keadaan ini pernah membiusnya dalam waktu tertentu. Dan ternyata demi kebebasannya sendiri ia mulai mencoba banting stir dengan pola-pola yang lebih bebas. Dengan demikian ia mulai mengambil jarak dengan gambar-gambar atau lukisan yang mirip walaupun ia sanggup menggambar mirip. Oleh karena itu ia mulai menyadari bahwa elemen-elemen garis, warna, bidang dapat diolah dengan jauh lebih bebas.
 


Keluar Kanvas (2005)

Masing-masing elemen itu ternyata sanggup mewakili suasana diri untuk membentuk karya rupa yang alternatif, sehingga dapat mewakili suasana diri untuk membentuk karya rupa yang alternatif, sehingga dapat mewakili suasana ritmik, teaterikal, gerak, diam dan puitik atau catatan esensial dari suatu obyek yang pernah dia lihat. Kalau dulu ia menggambar perahu atau kapal dengan mirip maka cukup inti-intinya saja. Justru disini melahirkan kreativitas dan eksplorasi terjadi. Sekaligus elemen yang ia kenal itu mampu dijadikan alat pencatat suasana internal ditambah tabungan pengalaman kesenian non rupa di masa lalunya. Mengamati kembali lukisan-lukisannya sebelumnya banyak didominasi oleh gejolak geometri yang terdiri dari pengorganisasian elemen-elemen visual seperti garis, warna, ruang dan sebagainya, yang hasilnya secara utuh di rasakannya seperti serangkaian instalasi yang ilusif, karena elemen-elemen itu seolah menghadirkan ruang.
 

 
Memang ada ruang, tetapi itu cuma dalam bidang datar dua dimensi. Cuma ruang itu tidak nyata. Kadang-kadang ia rasakan suasana ritmik, musikal, teaterikal dan puitik. Mulailah timbul ide atau gagasan bagaimana kalau ia buat secara nyata keluar kanvas. Jadi yang ilusif dalam kanvas itu diwujudkan dalam ruang nyata, jadi perlu direalitakan menjadi bentuk pemetaan atau penampilan. Disini ia disebut keluar kanvas jadi tidak saja lukisan di kanvas atau kertas tetapi penyajian bentuk skalptural geometrik dalam ruang plus secara periodik atau dalam diadakan peragaan sosok manusia sesungguhnya yang menyatu dalam elemen-elemen geometri. Kemudian perlu dimunculkan suasana ritual tanpa ketinggalan diberi unsur musik, bunyi vokal dan instrumen, olah tubuh atau olah vokal. Kemungkinan lain memerlukan pementasan cahaya dan bau-bauan.
 
Untuk memenuhi kebutuhan melukisnya ia tidak fanatik terpaku pada satu jenis material saja. Bila tidak ada kanvas ia bisa mengekspresikan diri diatas kertas dengan cat minyak diatas kertas atau akrilik diatas kertas. Yang penting kebutuhan melukis atau senirupanya tidak terhambat dan bisa mengalir terus. Untuk target pameran hanya mengambil atau mengumpulkan karya-karya yang telah jadi atau tinggal mewujudkan konsep-konsep yang telah menahun belum dilaksanakan dalam bentuk-bentuk yang mengisi ruang.
 
(Pameran Tunggal Ugo Haryono, Juli 2005)
 

Nama :
Ugo Haryono
 
Lahir :
Bojonegoro, Jawa Timur,
2 Februari 1949
 
Pendidikan :
Sekolah Tinggi Seni Rupa Nasional Jakarta jurusan Arsitektur Bangunan dan Dekorasi,
Institut Kesenian Jakarta,
Jan Van Eyck Maastricht Netherlands,
Institut Teknologi Bandung
 
Profesi :
Pelukis,
Dosen IKJ
 
Pameran :
Pameran di Anjungan DKI, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta (1978),
Pameran Tunggal Kecil di Gedung Jan Van Eyck Akademie, Maastricht, Belanda (1981),
Pameran di TIM, DKJ (1984),
Pameran di Balai Budaya Jakarta (1985),
Pameran di TIM, DKJ (1987),
Pameran Tunggal ke VII di TIM (1994),
Pameran Seni Rupa Seniman Jakarta di TIM (1993),
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *