Viky Sianipar

Nama :
Viky Paulus Sianipar
 
Lahir :
Jakarta, 26 Juni 1976
 
Pendidikan :
Kursus Musik di Yayasan Pendidikan Musik/YPM
(1982-1988),
Kursus piano jazz di sekolah musik Farabi (1990),
Kursus gitar blues kepada George Cole, San Francisco, Amerika Serikat (1995)
 
Aktifitas Lain :
Pendiri dan pemilik Viky Sianipar Music Center,
Pemilik restoran Viki Resto
 
Album :
TobaDream (2002),
Toba Dream II – Didia Ho (2003),
Nommensen (berkolaborasi dengan Tongam Sirait, 2004), Datanglah KerajaanMu (Album Rohani, 2005),
Hatahon Ma (berkolaborasi dengan Dipo Pardede, 2006),
Indonesian Beauty (2006),
TobaDream III (2008),
Satu (2008),
ToBatak (2012)


Pemusik
Viky Sianipar
 
 
 
Bernama lengkap Viky Paulus Sianipar. Lahir di Jakarta, 26 Juni 1976, anak bungsu dari pasangan Monang Sianipar dan Elly Rosalina Kusuma. Mempunyai tiga saudara, Sahat Sianipar, Bismark Sianipar, dan Tria Sianipar.
 
Mulai mengenal musik sejak berumur 5 tahun disaat ayahnya membeli piano kuno di rumahnya dan kerap mendudukan dirinya didepan sang ayah ketika bermain piano. Tahun 1982, ketika berusia 6 tahun, ia mulai belajar musik klasik di Yayasan Pendidikan Musik (YPM). Selanjutnya, tahun 1990, ia kembali mengambil kursus piano jazz di sekolah musik Farabi selama satu tahun.
 
Tahun 1995, ia berangkat ke San Francisco, Amerika Serikat, untuk memperdalam bahasa Inggris. Kesempatan tersebut dimanfaatkan olehnya untuk mengikuti kursus gitar blues. Ia sempat berguru kepada George Cole, gitaris kenamaan, yang juga murid Joe Satriani. Setelah kembali ke kembali ke tanah air, ia aktif bermusik bersama grup MSA Band. Tahun 1997, ia bersama grup MSA Band melanglang buana dari satu cafe ke cafe lainnya. Setelah tiga tahun, MSA Band berhasil menelurkan album Melangkah di Atas Pelangi di bawah label Universal Music. Setelah MSA Band bubar pada awal tahun 2002, ia mulai memperdalam musik Batak. Ia mempelajari semua hal tentang kekayaan seni musik Batak dari beragam etnis Batak yang ada di Danau Toba. Dari sana ia sangat terinspirasi untuk mengemas ulang lagu tradisional Batak menjadi sebuah musik yang mendunia.
 
Sekembalinya dari Danau Toba, ia kemudian mulai menyiapkan konsep dan jiwa baru dari musik Batak. Ia berkolaborasi dengan beberapa musisi tradisional Batak yang telah terkenal. Pada 26 September 2002, ia mendapat kesempatan untuk mengenalkan musiknya pada masyarakat lewat konser Save Lake Toba di Puri Agung, Sahid Jaya Hotel.
 
Saat ia meluncurkan album pertamanya ‘TobaDream’ (2002). Beragam reaksi sempat muncul ketika itu, Banyak yang senang dan kagum, tapi tidak sedikit juga yang mengkritiknya sebagai perusak lagu Batak. Beruntung penggemar David Foster, The Beatles, dan Anggun ini memiliki keluarga yang menyokongnya secara penuh. Setelah itu, ia kembali bersemangat mengejar cita-citanya mengangkat musik tradisional. Sehingga terciptalah sejumlah albumnya yang lain yakni ‘Toba Dream II – Didia Ho’ yang diluncurkan pada tahun 2003. lalu ‘Nommensen’, berkolaborasi dengan Tongam Sirait (2004), album rohani ‘Datanglah KerajaanMu’  (2005) dan ‘Hatahon Ma’, berkolaborasi dengan Dipo Pardede (2006)
 
Di tahun yang sama, pria yang kerap menampilkan jenis musik yang lazim disebut World Music atau New Age, yakni musik etnik tradisional yang bergandengan dengan musik modern dalam setiap pagelaran maupun rekamannya ini, kembali merilis album ‘Indonesian Beauty’. Dalam album ini, musisi yang pada tahun 2003 pernah  mendapat kehormatan untuk membuat musik dan aransemen Mars Pemilu 2004 ini, mencoba meluaskan nuansa musiknya ke etnis Indonesia lainnya. Untuk itu ia berkolaborasi dengan musisi-musisi dari berbagai etnis lain, seperti Sujiwo Tejo, Kiki Dudung, Korem Sihombing, Johannes Limbeng, atau Asep B.P Natamihardja. Selain itu ia Juga melibatkan Phillipe Ciminato, musisi asal Prancis yang amat mencintai musik tradisional Indonesia. Hasilnya, adalah lagu ‘Es Lilin’, ‘Sing Sing So’, ‘Ngarep Gestung Api Bas Lau’, ‘Gondrang’, ‘Dara Muluk’, ‘Mardalan Ahu’, ‘Horas Banyuwangi’, ‘Bubuy Bulan’, dan ‘Indonesia Pusaka’.
 
Sesuai cita-citanya, judul album ‘Indonesian Beauty’ memang bertujuan menonjolkan keindahan musik tradisional Indonesia yang sangat kaya. Selain itu album ini juga memiliki tujuan moral, agar masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda mulai memperhatikan dan mencintai nilai-nilai luar biasa yang terpendam dalam musik tradisional Indonesia. Album ‘Toba Dream III’, kembali ia luncurkan pada tahun 2008, disusul kemudian dengan album ‘Satu’ (2008), dan ‘ToBatak’ (2012).
 
Diluar dunia musik, suami Deasy Puspitasari yang juga pendiri Viky Sianipar Music Center ini mempunyai beberapa restoran bernama Viki Resto di beberapa daerah.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *