Wahdi Sumanta

Nama :
Wahdi Sumanta
 
Lahir :
Bandung, Jawa Barat,
13 Oktober 1917
 
Wafat :
Bandung, 11 Maret 1996
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 


Pelukis
Wahdi Sumanta
 
 
 
Lahir di Bandung, Jawa Barat, 13 Oktober 1917. Putra dari mantan Menko Polkam Sarono Indrokusumo Susilo. Minatnya kepada melukis sudah nampak sejak ia bersekolah di HIS. Setelah tamat HIS, ia belajar melukis pada Abdullah Soeriosoebroto (ayah pelukis Basuki Abdullah) selama beberapa bulan karena dorongan Dr. Kadmirah yang melihat bakat yang dimilikinya. Kemudian ia mengembangkan bakat itu dengan berlatih bersama-sama dengan pelukis Affandi, Barli Sasmitawinata, Sudarso dan Hendra Gunawan.
 
Tahun 1964, ketika Bandung diduduki Belanda, Wahdi mengungsi ke Sumedang. Selama dalam pengungsian ia tidak melukis sama sekali. Kembali dari pengungsian tahun 1951. Setiba di Bandung, ia menggabungkan diri dengan Himpunan Pelukis Bandung St. Lucas Gilde yang dipimpin oleh seorang dokter berkebangsaan Austria. Bersama anggota lainnya yang pribumi seperti Barli, Kerton Sujana, Rudiyat, dan Suwaryono (Soewarjono), Perkumpulan ini secara tetap setiap tahun menyelenggarakan pameran, paling tidak dua kali setahun dan biasanya di selenggarakan di Gedung YPK.
 


Gunung Himalayang, cat minyak, 145 x 95 cm (1978)

Sempat menjadi guru Sekolah Rakyat, namun hanya bertahan selama dua tahun. Sekeluarnya dari sekolah rakyat, ia membuka toko meubel ‘Sri Tunggal’ di Cicadas. Perusahaan itu berkembang dengan baik, sehingga ia mampu membeli sebidang tanah di Kiaracondong. Di atas tanah tersebut kemudian di bangun ‘Sanggar Sangkuriang’, yang di resmikannya pada tahun 1975.

 
 
Pertemuannya dengan Affandi mendorongnya kembali melukis. Tahun 1975, bersama Affandi, Barli, dan Sudarso mengadakan pameran bersama di TIM dengan sponsor Dewan Kesenian Jakarta. Kemudian ditahun 1976, ia mengadakan pameran tunggal atas sponsor Ajip Rosidi di Balai Budaya Jakarta. Tahun 1977, ia kembali mengadakan pameran tunggal di TIM atas Sponsor Dewan Kesenian Jakarta.
 
Atas bantuan sastrawan Ramadhan KH, pada tahun 1979, Wahdi sempat melawat ke Eropa, yang kemudian dijadikan kesempatan olehnya untuk melihat-lihat lukisan klasik dalam museum-museum di Eropa. Pelukis naturalis yang mempunyai sensitifitas terhadap pemandangan alam yang indah ini wafat di Bandung, 11 Maret 1996 akibat penyakit liver. 
 
(Dari Berbagai Sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *