Warih Wisatsana

Nama :
Warih Wisatsana
 
Lahir :
Cimahi, Jawa Barat,
 20 April 1965
 
Pendidikan :
SD di Salatiga,
SMP di Klaten,
SMA di Salatiga,
Pernah kuliah di beberapa universitas
 
Profesi :
Penyair,
Pembimbing Sastra
 
Karya Antologi :
The Ginseng (1993),
Taksu (1993),
Sahayun (1994),
Puisi Pemuda Surabaya (1994),
Cerita dari Hutan Bakau (1994),
Buku Puisi WR Supratman (1995),
Takbir Para Penyair (1995),
The Poets Chant (1995),
Dari Negeri Bayang-Bayang (1996),
Bonsai’s Morning (1996),
Amsal Sebuah Patung (1997),
Gerbong (1998),
Utan Kayu Tafsir dalam Permainan (1998),
Bunga Rampai Puisi Bali (1999),
Managerie 4 (2000),
Horison Sastra Indonesia (2001)
 
Karya Buku :
Ikan Terbang Tak Berkawan (2003)
 
Penghargaan :
Taraju Award (1994),
Bung Hatta Award (1994),
Piagam Penghargaan Menteri Lingkungan Hidup (1994)
Borobudur Award (1996),
Kelautan Award (1997),
Penghargaan Sih (2004)
 


Penyair
Warih Wisatsana
 
 
Saat duduk di bangku SMP dan SMA, ia sudah menulis puisi. Pergaulannya dengan puisi terus berjalan seiring dengan dihabiskannya masa remaja di beberapa kota, seperti Pontianak dan Klaten.
 
Ketika memasuki Bali awal tahun 1980-an, kecintaannya pada puisi makin bertumbuh. “Saya memang lahir di Bandung, tetapi sebagai penyair saya lahir di Bali,””ungkap Warih. Di Bali, ia bergabung bersama Komunitas Sanggar Minum Kopi yang membuatnya lebih dekat dengan dunia sastra. Di sanggar itulah ia bergaul dengan rekan-rekan seniman. Dari merekalah ia memperoleh pengalaman untuk mengeksplorasi diri, sekaligus menjadikan eksplorasi diri sebagai kesadaran bersama. Di sanggar itu bergabung para seniman Bali yang kini banyak dikenal sebagai penyair nasional, seperti Tan Lioe Ie, Sindu Putra, Cok Sawitri, Oka Rusmini, Adnyana Ole, dan I Wayan Sunarta. Spirit tradisi dan seni di Bali yang pada saat bersamaan harus berhadapan dengan tawaran modernisasi disadari Warih menjadi kekuatan baginya untuk menempa kepekaannya terhadap dunia, sekaligus mempertegas keinginannya untuk memberikan diri sepenuhnya menjadi seorang penyair.
 
Sekitar tahun 1983-1984, Warih menentukan pilihan hidupnya sebagai penyair. Pertemuannya dengan penyair senior Umbu Landu Paranggi ketika ia masih bekerja sebagai wartawan di Bali Post semakin memantapkan pilihannya pada puisi yang menjadi bekal pada penciptaan karya-karyanya.
 
Puisi-puisi Warih memiliki kekuatan diksi dan rima pada tiap-tiap bagiannya dan dipublikasikan ke berbagai media massa, jurnal, serta masuk dalam beberapa antologi. Terakhir, kumpulan puisinya diterbitkan dalam buku Ikan Terbang tak Berkawan pada tahun 2003 oleh Penerbit Buku Kompas.
 
Lelaki yang sekarang menetap di Bali ini menganggap dirinya kurang produktif karena tak bisa seketika menciptakan puisi, sebuah proses yang baginya merupakan wujud penghormatan kepada karunia kebebasan dan kesantunan pengalaman batin. Melalui proses penciptaan yang tak terikat oleh waktu, Warih bisa bebas mengepresikan pertemuan-pertemuannya dengan dunia sekitar. Ketidakproduktifannya itu berkaitan dengan aktivitas yang ia jalani. Selain membimbing siswa-siswa SLTP, Warih juga menjadi pengajar tak tetap di IKIP PGRI Denpasar.
 
(Dari  Berbagai Sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *