Wasi Bantolo

Koreografer dan Penari
Wasi Bantolo
 
 
Tari Tanding Gendhing (A Battle of Wits) dalam acara Retrospeksi Iwam Tirta menampilkan sebuah perang diplomasi antara kubu Pandawa dari Kerajaan Amarta versus Kurawa penguasa Astina sebelum perang Bharatayuda, perang penghabisan di Padang Kurusetra. Opera tari tersebut hanya punya tujuh tokoh. Di kubu Kurawa ada Sengkuni, Duryudana, Karna, Bisma, dan Gendari. Kubu Pandawa diwakili Kresna, Bima, Arjuna, dan Kunti. Adegan perang diplomasi itu digarap Matheus Wasi Bantolo, koreografer muda yang selama dua tahun terakhir mengajar sebagai visiting professor di University of Michigan dan University of Wisconsin, Amerika Serikat.
 
Menurutnya, pertunjukan tersebut dikemas dengan konsep langendriyan, bentuk teater tari tradisional abad ke-18. Dalam pertunjukan tari itu, para pemain melakukan dialog dengan menggunakan tembang. Bisa dikatakan, tingkat kesulitannya sangat tinggi. Sebab, pemain dituntut memiliki tiga macam kemampuan sekaligus, yaitu, olah tari, vokal, dan teater. Namun pada Tanding Gendhing, para pemain tidak berdialog langsung. “Sebab, saya ingin menunjukkan bahwa dialog-dialog yang ada merupakan suara hati para pemain,” jelas pria kelahiran Surakarta, 21 September 1974, tersebut.

 
Selain itu, dalam bentuk koreografi yang ditampilkan, ia menghadirkan penataan ruang yang tidak konvensional. Misalnya, dia memakai tatanan diagonal dalam pergerakan para penari. Para pria juga menari dalam format wireng, sebuah tarian perang yang biasa ditampilkan di Kasunanan Surakarta. Tari itu mulai jarang ditampilkan. Yang istimewa, para penari memakai batik klasik koleksi Iwan Tirta. Pada kain yang menggunakan prada dari peleburan emas murni itu, pernik-pernik perhiasan yang dipakai pun dibuat dari emas murni.
 


Tanding Gendhing

 
Lahir di Surakarta. Ia adalah dosen tari pada ASI Surakarta dengan konsentrasi pada analisa gerak tari jawa atau gaya tari “alusan”. Pada awalnya ia belajar memainkan musik gamelan ketika berusia 10 tahun. Namun ketika memasuki sekolah lanjutan atas ia mengubah haluannya pada seni tari.
 
Meraih gelar Magister Seni dari ASI Surakarta. Ia telah tampil diluar negeri bersama misi kesenian Indonesia diantaranya, di Jerman (1995), Belgia (1996), Filiphina (1998), Jepang (1995, 1997, 2000) dan Belanda (1996, 2002). Pernah dinobatkan sebagai aktor terbaik pada festival wayang orang tingkat nasional. Bersama istrinya Olivia Retno Widyastuti yang juga penari, ia menjadi pengajar pada University of Michigan, Amerika Serikat.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 

Nama :
Matheus Wasi Bantolo
 
Lahir :
Surakarta, Jawa Tengah,
21 September 1974
 
Pendidikan :
Magister Seni ASI Surakarta
 
Karier :
Pengajar Tari dan Gamelan di ASI Surakarta,
Visiting professor di University of Michigan dan University of Wisconsin, Amerika Serikat
 
Pencapaian :
Akor terbaik pada festival wayang orang tingkat nasional
 
 
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *