Yaqub Elka

Nama :
Yaqub Elka

Lahir :
Jakarta, 28 Januari 1975

Pendidikan :
STKIP Kusuma Negara

Aktifitas Lain :
Pengajar Sekolah IKKT Tunas Muda (2001),
Pengajar Sekolah Santo Antonius (2006),
Pengajar Sekolah Kalam Kudus II (2008),
Pengajar Sekolah METODIS (2009)

Penghargaan :
Pelukis Terbaik dari Dinas Kebudayaan DKI
 (1995 & 1996),
Karya poster terbaik dalam kaitan peringatan 50 tahun Hak Azazi Manusia (1998),
Penghargaan dari Presidium mahasiswa Universitas Katolik Atmajaya, Jakarta (1999),
Philip-Morris Art Awards Indonesia group Exhibition (2000)


Pelukis
Yaqub Elka
 

Lahir di Jakarta, 28 Januari 1975. Lulusan STKIP Kusuma Negara. Bakat melukisnya sudah tampak sejak masih remaja. Saat duduk di bangku SMP dan SMA, tugas PR pelajaran senirupa selalu dapat ia kerjakan dengan baik. Ia juga kerap dimintai bantuan untuk mengerjakan tugas senirupa milik temannya. Saat duduk di bangku SMA kelas 1, ia membaca informasi di salah satu surat kabar tentang perekrutan anggota Sanggar Senirupa Garajas (GRJS), sebuah sanggar lukis di bilangan Bulungan, Jakarta Selatan, yang dipimpin oleh Rip V. Dinar (pelukis dan penulis senirupa). Ia mendaftar tanpa sepengetahuan orangtuanya kala itu. Sejak saat itu ia hampir setiap hari ia datang ke Bulungan untuk belajar melukis, bertanya, berdiskusi bahkan berdebat tentang dunia senirupa. Dari situ ia mulai memahami tentang dunia senirupa, dunia penuh misteri yang tak dapat diungkapkan dengan kasat mata. Tetapi harus dilakukan melalui proses yang matang bukan instant.

Pameran tunggalnya yang pertama di selenggarakan di Bulungan. Banyak lontaran kritik tajam yang diarahkan padanya saat itu. Namun berbagai kritik tersebut ia jadikan penyemangat untuk membuat karya-karyanya selanjutnya menjadi lebih baik. Mantan pengajar di sekolah IKKT Tunas Muda (2001), pengajar di sekolah Santo Antonius (2006), pengajar di sekolah Kalam Kudus II (2008), dan pengajar di sekolah METODIS (2009) ini, kerap mengangkat Budaya Betawi dan hiruk pikuk keadaan kota Jakarta dalam lukisannya.


Aku dan Udara II (2011)

Ia pernah menggambarkan peristiwa saat segerombolan orang berbondong-bondong dalam suasana tertib naik kereta api dalam lukisan ‘Kereta Senja Menuju Jakarta’. Ia juga menggambarkan kegiatan Festival Kemang Jakarta yang ramai dan damai dalam lukisan ‘Jejak Festival Kemang’. Tak ketinggalan makanan khas Betawi dilukisnya dalam karya ‘Terima Pesanan Kerak Telor’, dengan salah satu bakul si penjual tertulis nomor telepon, faxcimile dan e-mail.  Ia juga melukis beragam bangunan khas Betawi dan kesenian tradisi yang kini semakin langka yang mulai ditinggalkan pendukungnya. Karya-karyanya tersebut rata-rata berlandaskan tema-tema cinta. Suasana hidup damai dan rukun serta keharmonisan sesama umat yang berbeda tergambar jelas.

Untuk mewujudkan obsesinya sebagai pelukis khas Betawi tersebut, ia kerap melakukan riset dan pendalaman terlebih dahulu secara intens pada budaya Betawi. Ia  ingin melukis lebih banyak nuansa Betawi karena ia adalah orang Betawi asli. Gaya melukisnya yang naif dan lugu tampak dari goresan aneka warna ceria yang ditampilkan dalam karya-karyanya. Begitu polos hingga beberapa di antaranya terkesan sebagai lukisan anak-anak dengan suatu pesan khusus.

Lukisan-lukisannya sebagian besar dituangkan dalam media akrilik dengan ukuran bervariasi dari ukuran kecil sekitar 30 cm x 40 cm hingga 145 x 90 cm tanpa bingkai ini, beberapa kali berhasil meraih penghargaan. Antara lain, penghargaan sebagai Pelukis Terbaik dari Dinas Kebudayaan DKI (1995 dan 1996), penghargaan karya poster terbaik dalam kaitan peringatan 50 tahun Hak Asasi Manusia (1998), penghargaan dari Presidium mahasiswa Universitas Katolik Atmajaya, Jakarta (1999) dan penghargaan Philip-Morris Art Awards Indonesia group Exhibition (2000).

Pelukis yang pernah pula mengadakan pameran tunggal di Kedai Cakep Jakarta (1997), The Japan Foundation (1998), Chi-Chi’s Mexican Restaurant (1999), Sahid Jaya Hotel/Makassar (2000), Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki (2001) dan Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki (2012), serta pameran bersama 30 tahun Pasar Seni Ancol, di Ancol Gallery Jambi Culture Park (2005), Phillo Art Space, Kemang (2006), dan Ekspresi bahasaku, Millenium Gallery (2007) ini, juga tercatat pernah bergabung dengan Grup Sastra Diha pada tahun 1994.

(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.