YB Mangunwijaya

Nama :
Yusuf Bilyarta Mangunwijaya
 
Lahir :
Ambarawa, Jawa Tengah
6 Mei 1929
 
Wafat :
Jakarta, 10 Februari 1999
 
Pendidikan :
SD di Magelang,
SMP di Yogyakarta,
SMA di Malang,
Institut Filsafat dan Teologi Sancti Pauli, Yogyakarta,
Institut Tehnologi Bandung (ITB) jurusan Arsitektur,
Sekolah Teknik Tinggi Rhein-Westfalen, Aachen, Jerman (1966),
Fellow of Aspen Institute for Humanistic Studies,
 Aspen Colorado,
Amerika Serikat (1978)
 
Profesi:
Dosen luar biasa di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta,
Sastrawan
 
Karya :
Romo Rahadi (1981),
Burung-burung Manyar (1981),
Ikan-ikan Hiu,
Ido,
Homa (1983),
Roro Mendut,
Genduk Duku,
Lusi Lindri (1983-1986),
Balada Becak (1985),
Burung-burung Rantau (1992),
Balada Dara-dara Mendut (1993),
Durga Umayi (1994),
Tak Ada Jalan Lain (1999),
Pohon-pohon Sesawi (1999)
 
Penghargaan:
Memenangkan sayembara Kincir Emas di Radio Nederland (1976),
Sastra dan Religiositas mendapat hadiah pertama Dewan Kesenian Jakarta kategori esai (1982),
Burung-burung Manyar memperoleh Sea Write Award dari Ratu Sirikit, Thailand (1983)
 


  Y.B Mangunwijaya
 
 
 
 
Ia adalah putra sulung dari 12 bersaudara, anak dari pasangan Julianus Sumadi Mangunwijaya dan Serafin Kamdiyah, seorang guru. Semasa remaja ia sempat bergabung dengan tentara pelajar. Saat itu Romo Mangun tergabung dalam Batalyon X yang dipimpin Mayor Soeharto, mantan Presiden Indonesia.
 
Ia bukan hanya seorang rohaniawan, tetapi juga seorang sastrawan, arsitek dan budayawan yang sangat peduli pada nasib rakyat kecil. Selain itu, ia adalah seorang tokoh yang mencoba menanamkan betapa pentingnya pendidikan dasar bagi masyarakat, terutama pendidikan bagi rakyat kelas bawah. Kepedulian Romo Mangun pada anak-anak membuat dirinya membuat sistem pendidikan dasar bagi anak-anak, terutama anak-anak yang datang dari keluarga miskin.
 
“Anak-anak miskin yang tanpa sepengetahuan mereka terlempar lahir di kalangan kumuh itu, itulah yang sebetulnya lebih memerlukan pertolongan dan dari pengalaman itu saya mengambil kesimpulan bahwa prioritas selanjutnya yang ingin saya kerjakan adalah mengabdi kepada pendidikan dasar anak-anak miskin kata,” Romo Mangun.
 
Dalam khasanah sastra Indonesia Romo Mangun dikenal sebagai seorang penulis novel yang produktif. Sampai di akhir hidupnya ia telah menulis puluhan novel. Meskipun karya novelnya tidak mudah untuk dinikmati, Romo Mangun selalu memberikan tawaran pemikiran baru dan berbagai gagasan yang menarik tentang kehidupan dalam setiap karyanya.
 
Sebagai penulis sastra Romo Mangun pernah memperoleh penghargaan, baik dari dalam maupun luar negeri. Sebagai seorang arsitek Romo Mangun mempunyai keistimewaan dalam dunia arsitetur Indonesia. Pemahamannya yang dalam tentang budaya lokal dan iklim tropis telah membuat Romo Mangun membuat rancangan arsitektur yang khas. Karyanya dinilai telah mampu menyelesaikan kebutuhan fungsional penggunanya dan mampu memperkaya kehidupan kultural dengan jiwa yang terpancar pada setiap rancangan arsitekturnya. Baginya arsitektur tidak hanya sekadar rancangan dari berbagai bahan yang dikontruksi menjadi sebuah bangunan. Ia menyadarkan para arsitek bahwa mereka harus merelakan sebagian keahliannya bagi karya arsitektur yang bernafaskan kerakyatan dan kemanusiaan.
 
Romo Mangun menghabiskan sisa hidupnya di gang Kuwera, jalan Gejayan, Yogyakarta. Saat ini bekas rumah tinggal sekaligus kantornya ini digunakan sebagai kantor Yayasan Dinamika Edukasi Dasar, sebuah yayasan yang didirikannya.
 
Romo Mangun mengembuskan nafas akhirnya sesaat setelah menyampaikan makalah dalam sebuah seminar di hotel Le Meridien Jakarta. Dikarenakan oleh sakit jantung yang diidapnya. Banyak kalangan yang merasa kehilangan atas kepergiannya. Berbagai komentar dari tokoh masyarakat, termasuk Mantan Presiden BJ Habibie, menunjukkan bahwa bangsa ini telah kehilangan seorang tokoh yang menjadi suri tauladan. Jenazahnya dimakamkan di Seminari Tinggi Kentungan, Yogyakarta. Meskipun ia telah pergi, namun nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkannya tidak akan pernah hilang. Keberpihakannya pada rakyat kecil dan kaum tertindas telah membuat nama YB Mangunwijaya tidak akan dilupakan dalam setiap langkah perjalanan bangsa ini.
 
(Profil Maestro Indonesia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *