Marwoto

Nama :
Sri Slamet Sumarwoto
 
Lahir :
Yogyakarta, 21 Oktober 1952
 
Pendidikan :
SR (sekolah rakyat)
SMEP (tidak sampai lulus)
 
Aktifitas Lain :
Pendiri Marwoto Enterprise (1994)
 
Pencapaian :
Pemeran Pria Terbaik pada acara Festival Pertunjukan Rakyat (1990),
Pemain Pria Terbaik tingkat nasional dari Departemen Penerangan (1992)
 
Filmografi :
Preman In Love (2009),
Cewek Saweran (2011),
Ambilkan Bulanbu (2012)
 
 
 
 

Seniman Teater
Marwoto
 
 
 
Lahir di Yogyakarta, 21 Oktober 1952. Kegemarannya pada dunia kesenian berawal sejak kecil. Karena kakek, bapaknya Sudjadi Cokro Admodjo serta Ibunya Sudjilah merupakan pemain ketoprak Tobong yang kerap berpentas keliling dari kota ke kota. Pendidikan formalnya sendiri di tempuhnya hanya sampai SMEP (sekolah menengah ekonomi pertama) namun tidak sampai lulus.
 
Pertama kali terjun kedunia teater tradisional, ketoprak pada tahun 1969. Awalnya ia hanya disuruh mencari daun-daun untuk penghias panggung, membuka dan menutup layar serta pada malam hari muncul menjadi bala dupakan (tokoh pelengkap dalam suatu adegan). Semakin hari pemikirannya semakin terbuka. Ia kemudian mulai belajar teknik lampu dan dekorasi panggung. Ia juga mempelajari teknik penyutradaraan dengan cara mengamati. Selain itu dalam teknik perang ketoprak ia juga mempelajari ilmu silat di berbagai tempat, sampai-sampai pernah menjadi pelatih salto dalam adegan perang.
 
Tiga puluh tiga tahun menjadi anak panggung, khususnya ketoprak memang telah membentuk pribadi Marwoto sebagai seniman tradisi yang mumpuni, serba bisa, dan sarat pengalaman hidup. Ia memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, karena itu dia seperti menjadi seorang avonturir dalam dunia ketoprak. Ia berkelana dari ketoprak tobong satu ke tobong yang lain. Grup ketoprak mana pun yang ada di Jawa pernah Marwoto ikuti. Sampai-sampai oleh para teman sesama pemain ketoprak ia memperoleh julukan pemain inggatan (pindah-pindah grup ketoprak). Walaupun ia memperoleh julukan minggatan, tetapi minggatnya (pindahnya) bukan karena masalah honor, hanya karena ia ingin memperoleh pengalaman dan mengetahui seluk beluk dari setiap grup ketoprak yang ia ikuti. Dengan berbekal pengalaman tadi, karena itulah maka ia belajar berbagai gaya ketoprak, entah itu Jawa Timuran, Pesisiran, ataupun ketoprak gaya Mataraman.
 


Indonesia Kita
MATINYA SANG MESTRO (2014)

Setelah lama malang-melintang dalam ketoprak tobong, tahun 1980 ia kembali ke Yogyakarta. Sejak saat itu ia mulai merintis dunia lawak gaya Mataraman. Dunia lawak ternyata semakin mengangkat namanya sebagai seniman tradisi. Ia sukses dalam dunia lawak bersama Yati pesek dan almarhum Daryadi.
 
Bersama Didik Nini Towok, ia sempat menggegerkan dunia ketoprak ketika pada tahun 1996, ia muncul dengan ketoprak plesetan (ketoprak yang lebih mengarah pada humor dengan memplesetkan dialog ataupun lakonnya). Grup lawanya bersama Yati Pesek, dan Daryadi benar-benar sangat laris, bukan hanya untuk wilayah Yogyakarta tetapi sampai kekota-kota lainnya di Jawa.
 
Kini namanya yang sering diberi embel-embel ‘Kawer’ rutin menjadi pelawak dalam Ketoprak Humor. Jika tidak sibuk dalam ketoprak humor, ia sering diajak pelawak lain untuk manggung. Meski sekarang ia telah menjadi pelawak yang terkenal, ia tidak pernah melupakan dunia panggung tradisional yang telah membuatnya terkenal seperti sekarang ini, yaitu dunia ketoprak.
 

Sebagai wujud nyata melestarikan kesenian warisan leluhur, warga Kradenan, Banyuraden, Gamping, Sleman yang pernah ikut bermain dalam film Preman In Love pada tahun 2009 ini, mendirikan Marwoto Enterprise pada tahun 1994. Lewat komunitasnya itu berssama seniman lain, ia kerap memanggungkan kesenian tradisi. Seiring perkembangan zaman, komunitas tersebut berubah menjadi Komunitas Ndalem Marwatan (Kondamar). Namun meskipun terjadi perubahan, komunitas tersebut tetap mempunyai tujuan yang sama yakni: mengangkat seni tradisi.
 
Pencapaian yang pernah diraih suami dari Tatik serta ayah dari delapan anak; Wachid Nufiato, Triska Maryeni, Imam Sofyanto, Ervina N. Suwoto, Erfi Yuliani Sudjadi, Alih Devi, Gluduk dan Satrio Kuncoro ini, antara lain menjadi Pemeran Pria Terbaik pada acara Festival Pertunjukan Rakyat tahun 1990, Pemain Pria Terbaik tingkat nasional dari Departemen Penerangan tahun 1992.
 
Keinginannya kini, ia berharap agar kesenian tradisional tetap lestari hingga akhir zaman. Sebagai seniman, ia merasa tidak nyaman melihat kesenian tradisional wayang, ketoprak, tari dan sebangsanya mulai ditinggal orang dan tak diminati generasi muda. Padahal akunya, kesenianlah yang bisa menjadi simbol sebuah peradaban.
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...